Menuju Kemenangan Trump

(Business Lounge Journal – Essay on Global)

Beberapa lembaga survei, pakar, partisan, dan prognostikator politik tampaknya ragu-ragu untuk membuat prediksi tegas tentang kandidat mana yang akan keluar sebagai pemenang pada pemilihan Presiden Amerika Serikat yang segera berlangsung pada 3 November 2020. Memori tahun 2016 masih sangat segar diingatan, ketika Trump meraih kemenangannya dengan tidak terduga atas Hillary Clinton dan ini telah mengagetkan semua yang telah mengeluarkan prediksi dengan tidak memperhitungkan skenario yang terjadi.

Jika kita mempelajari apa yang terjadi pada tahun 2016 dan kita aplikasikan kembali pada pemilu Amerika 2020 ini, ada beberapa faktor yang optimis menunjukkan kemungkinan terpilihnya kembali Donald J. Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Polling: 2016 vs 2020

Hillary Clinton lewat pemilu 2016 juga diprediksi menang dengan angka yang cukup fantastis, yaitu ketika pada bulan November 2016 Hillary Clinton diprediksi akan unggul jauh di atas Trump melalui pollster ternama FiveThirtyEight. Selain itu media-media di Amerika pun banyak memprediksi kemenangan Clinton di swing states.

Ketika malam penghitungan suara, media-media seperti Huffington Post dan New York Times memberikan prediksi kemenangan untuk Clinton, dengan HuffPo memprediksi 98.1% kemenangan Clinton.

Namun seperti yang kita ketahui, Trump justru menang, dengan swing states yang diprediksi akan memilih Clinton justru memilih Trump.

Kini kembali pada tahun 2020, FiveThirtyEight memprediksi kemenangan Biden dengan angka prediksi yang fantastis: 90%, dengan yang sebelumnya memprediksi kemenangan Clinton pada 2016 juga masih menunjukkan kesimpulan yang serupa.

Melalui interviewnya baru-baru ini via The Hill, Michael Moore, seorang aktivis, dokumenter dan penulis yang cukup terkenal di kalangan demokrat mengungkapkan pesimismenya terhadap polling-polling yang mendukung kandidat pilihannya, Joe Biden – mengungkapkan bahwa “berapapun angka yang tertulis untuk lead Biden, sebaiknya Anda bagi dua dan angka yang Anda dapat akan menunjukkan posisi Anda di error margin 4%”. Imbuhnya lagi, “Trump percaya dia akan menang…dan kalau dia percaya dia akan menang, maka saya pikir juga dia akan menang”, memperkuat pesimismenya terhadap pollsters yang memenangkan Biden.

Mengapa Trump bisa menang?

1. Antusias Rally semasa kampanye 

Antusias massa antar dua kandidat terlihat dengan sangat jelas dengan jumlah pengunjung Trump rally jauh lebih banyak dibandingkan dengan Biden rally. Secara garis besar, kampanye Donald Trump dihadiri oleh ribuan orang, sementara kampanye untuk Joe Biden hanya dihadiri oleh 10-20 orang dalam berbagai kesempatan. Satu-satunya kampanye Donald Trump yang tidak dihadiri oleh ribuan orang adalah kampanye Trump di Minnesota, ketika hanya 250 orang yang hadir diakibatkan oleh adanya larangan untuk berkampanye dengan mengundang massa dalam jumlah besar dari pemerintah setempat.

Beberapa rally lain seperti parade mobil di Arizona, mendapatkan antusias yang sangat besar dari masyarakat sampai terbentuk pawai mobil sepanjang 96 miles (154.4 km, kira-kira setara Jakarta – Bandung) dan parade boat sebanyak 3.417 kapal yang mengalahkan jumlah kapal yang terlibat dalam parade boat terbesar tahun 2014 di Malaysia sebanyak 1.180 kapal yang tercatat sebagai yang terbesar di Guinness’ Book of Record.

Pawai mobil sepanjang 154.4 km (setara Jakarta – Bandung) di Arizona

Parade boat sebanyak 3,417 kapal

Antusiasme yang tinggi dari pendukung Donald Trump menunjukkan bahwa mereka lebih siap untuk mendukung Donald Trump, bila dibandingkan dengan pendukung Joe Biden. Bahkan ketika Joe Biden sudah memanggil nama-nama kuat seperti Obama, tetap saja tidak tampak antusiasme yang tinggi pada pendukung Joe Biden. Ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap Joe Biden sangat rendah, sehingga belum tentu orang yang mendukung Joe Biden benar-benar akan memilih Joe Biden pada  saat hari pemilihan umum.

2. Promises made, promises kept, Trump kept his promise

Salah satu daya tarik terbesar dari Trump adalah kemampuan Trump untuk memenuhi janji kampanyenya. Berbeda dengan banyak politisi lain yang membuat janji, Trump menepati hampir seluruh janji-janjinya. Satu-satunya janji Trump yang signifikan dan tidak ditepati adalah kegagalan Trump untuk menghapus Obamacare, suatu program kesehatan di bawah Obama. Namun kegagalan tersebut lebih diakibatkan oleh gagalnya rekan-rekan Trump di House dan di Senate untuk menggunakan keunggulan mayoritas mereka pada tahun-tahun awal pemerintahan Trump. Janji-janji lain, seperti pemotongan pajak, pemulangan pasukan dari Timur Tengah, serta pembangunan tembok di perbatasan Meksiko dapat dipenuhi.

Trump pandai menempatkan dirinya bahwa dia bukanlah seorang politisi, tetapi seorang yang bekerja bagi rakyatnya. Trump selalu mengatakan bahwa dirinya tidak akan bersikap sopan tetapi palsu, seperti kebanyakan politisi lainnya. Tetapi Trump mengatakan bahwa dia akan bekerja keras dan akan berkata terus terang dalam segala perkara.

3. Trump, social media king

Trump adalah seorang yang sangat pandai untuk memainkan sosial media. Walaupun hampir seluruh politisi di dunia memiliki akun sosial media seperti twitter, tetapi Trump adalah politisi yang berkata terus terang pada media sosialnya. Bagi banyak pihak, tindakan ini merupakan tindakan yang tidak pantas, namun bagi banyak orang lainnya, ini adalah hal yang sangat baik karena Trump mengemukakan hal yang sebenarnya, bukan hal yang sudah “dipercantik” sedemikian rupa dalam komunikasinya dengan rakyat Amerika. Melalui akun twitternya, Trump telah melakukan diplomasi internasional, berbicara langsung dengan rakyatnya, serta  menyampaikan hal-hal yang tidak diberitakan oleh media mainstream yang cenderung tidak membela Trump. Hal ini membuat Trump menjadi pribadi yang tidak dapat dikendalikan media, namun menjadi pribadi yang mengendalikan media. Trump tidak perlu harus tunduk kepada keinginan media, tetapi medialah yang menyampaikan mengenai Trump. Hanya dengan twitternya, Trump mampu untuk terus ada dalam spotlight sepanjang waktu. Ini jelas sesuatu yang sulit diikuti oleh Biden yang memerlukan banyak kekuatan daripada media untuk mendukungnya.

4. Karisma

John Antonakis, seorang profesor perilaku organisasi dari Universitas Lausanne, Swiss dengan yakin memprediksi kemenangan Trump pada pilpres 2016. Saat itu Antonakis bersama dengan Philippe Jacquart, profesor di sekolah bisnis Emlyon di Prancis, memprediksikan pilpres kali itu berdasarkan karisma kandidat. Antonakis dan Jacquart telah mengembangkan program komputer untuk mengevaluasi karisma seorang kandidat, yaitu seberapa menarik seorang kandidat bagi para pemilih secara pribadi.

Dimulai pada waktu Antonakis berada di Universitas Yale, dia mempelajari sebuah model prediksi yang dikembangkan oleh ekonom Yale, Ray Fair. Model yang digunakan untuk memprediksi pemilihan presiden AS ini mengatakan bahwa petahana memiliki keuntungan, yaitu bagaimana pemilih baru akan merasa “bosan” dengan partai politik yang berkuasa setelah dua kali masa jabatan, selain itu petahana juga akan dinilai berdasarkan kekuatan atau kelemahan perekonomian pada waktu tersebut. Namun Antonakis merasa ada sesuatu yang kurang, bahwa model yang dikembangkan oleh Fair ini mengabaikan perbedaan antara kedua kandidat.

Antonakis pun melanjutkan penelitiannya dan menemukan bahwa pemilih akan menilai kompetensi kandidat dari wajah mereka. Namun Antonakis tidak begitu saja menerima bahwa nasib pemerintahan bergantung pada penampilan seseorang, dia pun mengeksplorasi ide karisma dan mengembangkan charismometer, sebuah cara objektif untuk menilai sifat karismatik seseorang dengan menganalisa rangkaian pidato yang disampaikan.

Bagi Antonakis, karisma adalah sesuatu yang penting karena menggambarkan nilai dan kekuatan kandidat kepada calon pengikut dan sekaligus dapat menjadi ancaman bagi pihak lawan. Dalam model Antonakis ini, peringkat karisma dari kandidat diperhitungkan dengan menggunakan model tradisional Fair untuk memprediksi hasil kandidat. Karismometer dengan tepat mendeteksi hasil pemilu 2012 dan 2016 sebelum pemungutan suara. Kemudian ketika peneliti menerapkan metode pada pemilihan sebelumnya, model tersebut memprediksi dengan tepat 21 dari 24 pemilihan.

Charismometer: 2016 vs 2020

Melalui charismometernya, Antonakis kembali memprediksi keunggulan Trump sebagai petahana. Trump dinilai memiliki lebih banyak karisma dan telah menjadi favorit. Namun Antonakis mengatakan bahwa prediksi kemenangan Trump dapat dipengaruhi oleh angka-angka ekonomi AS.

Charismometer mengevaluasi pidato berdasarkan sembilan elemen, termasuk bagaimana kandidat dapat dengan confidence mengidentifikasi dan mengekspresikan apa yang menjadi tujuannya, bagaimana kandidat dapat berbicara dalam metafora dan cerita, dan mengajukan pertanyaan retoris.

Untuk mengevaluasi seorang kandidat, Antonakis dapat menyalin pidato dan menempelkannya ke dalam bidang di layar komputer. Program tersebut kemudian menilai setiap kalimat pidato berdasarkan masing-masing dari sembilan elemen. Kemudian, ia menghitung probabilitas bahwa pembicara itu karismatik. Misalnya, berdasarkan pidato Abraham Lincoln pada tahun 1863, program tersebut memberikan probabilitas 80% bahwa Lincoln itu karismatik.

Dengan Charismometer, maka pidato penerimaan Trump pada konferensi partainya memberinya peringkat 55,6% sementara Biden 52%. Charismometer juga menilai pidato penerimaan capres untuk pencalonan presiden antara tahun 1916 dan 2016, dan menemukan kira-kira 30% calon adalah berkarisma

Michael Judah Sumbayak adalah pengajar di Vibiz LearningCenter (VbLC) untuk entrepreneurship dan branding. Seorang penggemar jas dan kopi hitam. Follow instagram nya di @michaeljudahsumbek

Related Posts

4 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.