(Business Lounge Journal – Tech)

Masih ingat bagaimana pasukan khusus Amerika Serikat melibatkan seekor anjing militer untuk menangkap pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi? Hal yang sama juga dilakukan ketika menangkap Osama bin Laden. Melibatkan anjing dalam operasi militer memang bukan hal yang asing, bahkan dianggap sebuah kebutuhan. Karena itu berbagai teknologi pun terus dikembangkan untuk dapat memanfaatkan hewan cerdas ini.

Angkatan Darat AS telah memamerkan kacamata Augmented Reality (AR) untuk anjing tempur, yang dirancang agar mereka dapat menerima perintah dari jarak jauh. Teknologi yang dibuat oleh sebuah perusahaan bernama Command Sight ini dikelola oleh Laboratorium Riset Angkatan Darat AS.

Anjing militer dengan kemampuan dapat mencari bahan peledak, narkoba, dan benda lainnya, tetap membutuhkan instruksi dari pawang yang berada dekat dengannya. Namun kacamata dengan Augmented Reality ini dirancang agar pawangnya dapat dengan mudah mengarahkan mereka, dengan aman keluar dari bahaya walau berada pada jarak yang tidak dekat. Biasanya dalam penyebaran pertempuran saat ini, tentara akan mengarahkan hewan mereka dengan isyarat tangan atau laser pointer – keduanya mengharuskan pawang berada di dekatnya. Tetapi dengan mengadopsi prototipe kacamata AR secara luas, maka hal tersebut tidak lagi dibutuhkan.

Pada kacamata, anjing dapat melihat indikator visual yang dapat dilatih untuk diikuti, sehingga dapat diarahkan ke tempat tertentu. Sementara itu, pawang dapat melihat apa yang anjingnya lihat melalui umpan video jarak jauh.

“AR akan digunakan untuk memberikan perintah dan isyarat kepada anjing; bukan untuk anjing berinteraksi dengannya seperti manusia,” demikian dikatakan Dr Stephen Lee, ilmuwan senior Army Research Laboratory (ARL), seperti dilansir oleh BBC.

Lee menjelaskan bahwa Augmented Reality bekerja secara berbeda untuk anjing dibandingkan untuk manusia, dan teknologi ini diterima dengan sangat gembira oleh komunitas anjing pekerja militer. Setiap set kacamata cocok untuk setiap anjing, dengan indikator visual yang memungkinkan anjing diarahkan ke tempat tertentu dan bereaksi terhadap isyarat visual di kacamata tersebut.

Kacamata itu sendiri bukanlah hal yang baru sebab anjing militer sudah terbiasa memakainya sebagai perlindungan dalam kondisi buruk atau untuk serangan udara, tetapi sistem augmented reality adalah perkembangan baru.

Pendiri Command Sight, Dr AJ Peper mengatakan bahwa proyek tersebut masih dalam “tahap penelitian awal”, tetapi hasil awal itu “sangat menjanjikan”. Ia telah banyak melakukan penelitian bersama dengan anjingnya sendiri – seekor Rottweiler bernama Mater.

RB/VMN/BLJ

Pict: Command Sight

Related Posts

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.