Perindustrian Indonesia Tetap Optimistis Tumbuh di Tengah Ancaman Virus Corona

(Business Lounge Journal – Ekonomi)

Pada awal Maret, Presiden Jokowi ketika membuka rapat kerja Kementerian Perdagangan di Istana Negara menyampaikan, “Saya senang laporan PMI (Purchasing Manager Index) naik. Dari Tiongkok belok ke kita, China anjlok jadi 35 persen, kita di atas 50 persen. Pembelokan artinya kapasitas produksi kita bertambah.” Pak Jokowi pun meminta suplai bahan baku terpenuhi. Lalu difokuskan prosedur supplay direlaksasi dan disederhanakan.

Saat ini kapasitas produksi pada beberapa sektor industri tetap mengalami peningkatan.

Lonjakan di Sektor Farmasi

Hal ini sudah terjadi pada industri Farmasi. Dalam kunjungan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita ke Pusat Riset Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, Jababeka, Jawa Barat, Rabu (11/03/2020), disampaikan bahwa bahan baku Farmasi di Indonesia sejumlah 95% berasal dari impor dan 60% di antaranya adalah berasal dari China. Kendati demikian, proses produksi farmasi dilaporkan masih berjalan dengan normal. Pada sisi lain, saat ini pemerintah sedang menggenjot substitusi produk import farmasi dengan bahan baku lokal, bahkan telah ada produksi di Dexa Group yang bahan bakunya berasal dari lokal hampir mendekati 100 persen. Ketika Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto berkesempatan berkunjung ke Dexa pada bulan lalu, ia menyampaikan bahwa bahan baku obat asli Indonesia sudah terpenuhi. Ini sangat penting karena bisa menekan harga obat menjadi sangat terjangkau. “Kalian sudah tahu juga harga obat turun semua, ya karena disubstitusi dengan bahan baku asli Indonesia. Saya juga sudah dapat informasi kalau harga obat turun,” demikian disampaikan Menkes.

Hal ini juga nampak dengan meroketnya saham tiga emiten farmasi pada perdagangan BEI pada Kamis (5/3/20). Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) meroket 24,84% (pada sepekan terakhir melesat 44,19%). Selain itu, saham PT Indofarma Tbk (INAF) juga meningkat 20,14% (pada sepekan terakhir melesat 62,86%). Sedangkan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) naik 4,31% (sepekan terakhir naik 6,8%).

Dampak lainnya juga terasa setelah ramai diperbincangkan bahwa berbagai rempah-rempah yang mengandung kurkumin ampuh menangkal virus Corona, seperti kunyit, jahe, atau temulawak. Sebuah media pernah memuat wawancara dengan penjual jahe merah, temulawak, kunci, dan kunyit hitam di pinggir jalan. Sejak wabah COVID-19, si penjual mengakui bahwa pendapatannya meningkat hingga 50 persen. Dalam sehari, ia dapat menjual 20 kg jahe merah.

Industri Pupuk dan Consumer Goods tetap Meningkat

Sedangkan pada industri pupuk, wabah Corona tidak memberikan dampak yang significant. Pendistribusian pupuk masih berjalan dengan lancar. Begitu juga ketersediaan stok yang ditingkatkan sehubungan dengan musim tanam yang saat ini tengah berlangsung.

Pada sektor industri consumer goods, peluang untuk tumbuh tetap ada pada awal tahun ini. PT Kino Indonesia Tbk (KINO) misalnya, yang mendapatkan lonjakan permintaan di awal tahun ini khususnya untuk segmen hiegene, seperti hand sanitizer. Produsen obat herbal, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga turut kebanjiran permintaan untuk produk Tolak Angin.

Ruth Berliana/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.