Mengintip Sejarah Stories pada Media Sosial

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Bagi para pengguna aktif media sosial pasti sudah familiar dengan yang namanya “stories” kan? Stories adalah sebuah fitur yang memungkinkan penggunanya mengunggah foto dan video yang akan menghilang secara otomatis setelah 24 jam. Mengintip prediksi dari para ahli media sosial, salah satu tren di tahun 2020 adalah bahwa fitur stories ini akan semakin banyak digemari.

Nah bagaimana sih sejarahnya fitur stories ini? Menilik ke belakang, sebenarnya yang pertama kali meluncurkan fitur stories bukanlah Instagram, tapi  trend stories ini awalnya dipelopori oleh Snapchat. Snapchat adalah aplikasi pesan mobile yang penggunanya dapat saling mengirim video dan foto yang kemudian akan terhapus secara otomatis dalam beberapa detik.

Snapchat memulai tren stories pada tahun 2013 yang pada awal peluncurannya belum menggunakan istilah “stories”. Pada waktu itu sudah ada sosial media Facebook, Instagram, dan Twitter dengan ciri khasnya masing-masing. Facebook digunakan sebagai tempat untuk membagikan kebersamaan dengan keluarga dan teman, Instagram banyak digunakan untuk mengunggah foto-foto, dan Twitter sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi dan dialog. Ada ciri yang sama dari ketiga media sosial ini, yaitu bahwa apa yang dibagikan penggunanya akan terus ada, kecuali dihapus oleh penggunanya. Nah Snapchat muncul dengan ide baru, yaitu membuat fitur untuk membagikan gambar dan video, yang hanya bertahan selama 24 jam, inilah cikal bakal “stories”. Kemudian barulah pada Oktober 2013, Snapchat menamakan fiturnya itu “story”. Langkah media sosial ini pun ternyata menuai sukses, khususnya untuk para pengguna remaja. Mereka beralih dari Facebook ke Snapchat karena fitur stories ini dinilai lebih menarik. Data yang ada menunjukkan setelah 1 tahun berjalan, Snapchat  berhasil meraih 10 juta penguna aktif yang mayoritas adalah remaja.

Kesuksesan Snapchat stories ini kemudian di-adopt oleh Instagram tiga tahun kemudian. Adapun alasan Instagram meluncurkan fitur stories adalah agar penggunanya bisa membuat dan membagikan konten lebih banyak lagi. Dengan adanya fitur stories ini maka pengguna akan lebih leluasa dan lebih spontan dalam membagikan keseharian mereka yang sesungguhnya. Selain itu fitur stories ini sangat  cocok dengan tren masyarakat yang cenderung ‘kepo’ (sangat ingin tahu) terhadap temannya. Munculnya tren stories ini juga menandakan adanya pergeseran komunikasi masyarakat yang semakin ke arah visual. Faktanya Instagram stories lebih sukses dari Snapchat. Kesuksesan yang segera diikuti oleh media sosial lainnya, muncullah Facebook stories, whatsApp stories, dan kemudian baru-baru ini Youtube juga mengikuti dengan membuat Youtube stories.

Nah tampaknya tren stories ini masih akan dan terus populer untuk waktu yang lama nih, jadi bagi Anda yang sedang merencanakan strategi marketing, mungkin Instagram stories bisa jadi salah satu pilihan yang tepat.

Rebecca Hayati/Partner of Management & Technology Services Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.