2129 Meninggal, Angka Kematian Akibat Wuhan Coronavirus Meningkat!

(Business Lounge Journal – Medicine)

Angka kematian akibat Wuhan Coronavirus semakin meningkat hari-hari ini. Tercatat telah meninggal dunia sebanyak 2247 orang menurut JHU CSSE pada Jumat, 21 Februari 2020 pukul 12.00. Mereka yang meninggal terbanyak tetap berada di Provinsi Hubei namun yang meninggal di luar China semakin bertambah. Total 11 orang telah meninggal dunia di luar China. Kasus meninggal terjadi di Philipina, Taiwan, Perancis, Hongkong, Korea Selatan, Iran, dan di atas kapal Diamond Princess yang dikarantina di Jepang.

Update Minggu Ini
Sedangkan kasus terkonfirmasi positif Coronavirus 2019 n-Cov kini telah menembus 75.000 kasus, yaitu sebanyak 76.718. Hal ini membuat angka kematian telah mencapai 2,9% yang artinya semakin menanjak mulai dari 2% pada beberapa waktu yang lalu dan semakin lama semakin bertambah.

Minggu ini perkembangannya adalah Iran menyatakan ada 2 kasus meninggal dari 5 kasus yang terkonfirmasi 2019 n-Cov. Dengan demikian maka jumlah negara di luar China yang terinfeksi menjadi 29 negara. Sedangkan Korea Selatan meningkat secara cepat, menjadi negara di luar China dengan jumlah kasus terburuk. Korea Selatan pada hari Jumat mengkonfirmasi 52 kasus lagi, menjadikan angka keseluruhan negara menjadi 156. Angka ini melebihi Jepang (97), Singapore (85) dan Hongkong (68). Hal ini disebabkan karena jumlah infeksi terkait dengan sekte keagamaan di Korea Selatan yang memiliki banyak umat dan saling menularkan. Penduduk Korea pun dilanda kepanikan.

Di samping itu dua orang yang telah dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess dan pulang ke Australia kini positif 2019 n-Cov. Padahal ketika mereka meninggalkan kapal itu mereka telah dites dan dinyatakan negatif setelah dikarantina selama 14 hari. Hal ini menunjukkan ada kemungkinan dapat terjadi penyebaran ke negara-negara lainnya dimana para penumpang kapal pulang kembali. Negara-negara asal mereka sudah seharusnya waspada dan melakukan karantina kembali setibanya mereka di sana.

Kasus Ringan Banyak, Kematian Tinggi
Berdasarkan informasi dari para peneliti di China, mereka mengatakan bahwa 80,9% dari kasus yang dikonfirmasi adalah ringan. Orang yang terinfeksi kategori ringan adalah orang yang mengalami demam atau batuk kering tapi tidak mengalami kesulitan bernapas yang dapat berkembang menjadi infeksi paru-paru yang parah. Ada 1,2 % orang dari hasil penelitian merupakan orang yang terinfeksi namun tanpa gejala sama sekali.

Namun hal ini juga berarti bahwa sisanya 19,1% adalah sedang dan berat. Itu sebabnya tidak heran bila angka kematian akan terus bertambah. 19,1% orang yang mengalami gejala sedang dan berat ini berada pada resiko kematian bila tidak dapat teratasi. WHO chief Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa Coronavirus 2019 n-Cov adalah musuh publik saat ini.

Perkembangan Pengobatan
Xu Nanping, Wakil Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, mengatakan bahwa China sedang terus mengembangkan vaksin yang diprediksi akan selesai pada bulan April. Sedangkan Zeng Yixin, Wakil Direktur Komisi Kesehatan Nasional China juga mengatakan selain membuat vaksin dengan menggunakan Coronavirus yang tidak aktif, mereka juga sedang memproduksi massal protein yang dapat bertindak sebagai antigen untuk 2019 n-Cov melalui teknik rekayasa genetika serta berusaha memodifikasi vaksin yang saat ini sudah ada untuk influenza.

Namun hal ini direspons oleh Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Selasa (18/02/20) bahwa perlu satu tahun atau lebih lama untuk vaksin tersedia. “Vaksin ini bisa jangka panjang karena bisa memakan waktu hingga 12 hingga 18 bulan dan ini seperti mempersiapkan situasi terburuk,” demikian dijelaskannya.

Amerika juga terus bekerja keras untuk mengembangkan vaksin. Para ilmuwan Amerika mengumumkan pada hari Rabu, (19/02/20) bahwa mereka telah membuat peta skala atom 3D pertama dari bagian Coronavirus 2019 n-Cov yang menginfeksi sel manusia sebagai langkah untuk mengembangkan vaksin dan therapi. Bukan hanya Amerika namun para peneliti dan ilmuwan di seluruh dunia kini sedang terus bekerja mencari cara untuk mengatasi pandemi 2019 n-Cov.

dr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Senior Editor, Coordinating Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting

One Response

  1. Dina

    Indonesia bebas dari virus corona, sementara negara-negara tetangga sudah kena virus corona.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.