Siaga Dampak Virus Corona, Saatnya Berpikir ‘Out of The Box’

(Business Lounge Journal – General Management)

Menghadapi dampak wabah virus korona, perusahaan-perusahaan Indonesia memerlukan pemikiran yang out of the box. Ketergantungan terhadap China baik dari supply maupun demand, dari sisi impor bahan baku maupun ekspor bahan baku, membuat banyak perusahaan harus menghitung ulang targetnya. Kejadian yang tidak diprediksi sebelumnya ini membuat banyak perusahaan mengalami kerugian.

Supply China ke perusahaan-perusahaan industri Indonesia rata-rata bisa mencapai 30 persen dari keseluruhan harga pokok penjualan. Belum lagi pasar perusahaan Indonesia banyak juga yang melakukan ekspor ke China. Dampak ini lebih terasa setelah negara-negara lain juga mengalami wabah virus korona ini. Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina menjadi pasar yang sepi karena lalu lintas barang maupun orang dibatasi.

Apakah yang harus dilakukan saat kondisi pasar baik dari sisi permintaan maupun penawaran mengalami tekanan seperti ini? Inilah saatnya seorang CEO berpikir ‘out of the box’.

Berbicara mengenai cara berpikir ‘out of the box’ maka kalimat ‘out of the box’ atau berpikir di luar kotak pertama kali diperkenalkan oleh seorang matematikawan Inggris, Henry Ernest Dudeney lewat sebuah teka teki yang ia ciptakan. Selain Henry, Edward de Bono juga mengartikan cara berpikir di luar kotak sebagai cara berpikir lateral. Ia mengatakan, “Seseorang tidak dapat menggali lubang di tempat yang berbeda dengan menggali lebih dalam lubang yang sama.” Artinya bahwa seseorang tidak akan menemukan sesuatu yang baru, yang tidak pernah ditemui dan dialami sebelumnya jika masih berada pada cara berpikir yang sama. Seseorang harus berani mengambil keputusan untuk keluar dari ‘kotak’ tersebut, zona aman yang dimiliki, maka barulah hal-hal baru, inovasi, pengalaman, dan keberhasilan baru yang luar biasa terjadi.

Jadi  bagi seorang CEO atau seorang entrepreneur, cara berpikir out of the box ini bisa menjadi pemicu untuk menciptakan inovasi dan kreativitas. Sangatlah penting bagi setiap entrepreneur untuk dapat memunculkan inovasi-inovasi dan kreativitas tinggi untuk mendongkrak kembali bisnisnya yang mungkin sudah mulai  merugi.

Seseorang yang menjadi contoh yang menerapkan cara berpikir out of the box adalah Presiden Joko Widodo. Terkait dengan sektor perdagangan, kita tahu China merupakan tujuan ekspor pertama dengan pangsa pasar 16,6% dari total ekspor Indonesia, sangat besar. Tapi juga sekaligus negara asal impor terbesar Indonesia. Sehubungan dengan penundaan penerbangan langsung RI-China karena virus Corona pasti berdampaknya ke ekonomi.

Menurut Presiden, kalkulasi dampak ekonomi penting dan harus segera diantisipasi. Sebab Virus Corona akan menimbulkan perlambatan ekonomi di China yang akhirnya menghantam produk ekspor Indonesia. Untuk itu, terobosan brilian yang dilakukan Presiden  Jokowi adalah menangkap peluang untuk memanfaatkan ceruk pasar ekspor di negara-negara lain yang sebelumnya banyak mengimpor produk yang sama dari China.

Begitu  juga  di sektor pariwisata, Jokowi meminta dipersiapkan langkah-langkah antisipasi terhadap wilayah-wilayah pariwisata RI yang akan terdampak dari hilangnya sementara turis dari China. Terutama untuk Bali dan Sulut, dua daerah yang selama ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari China. Dalam jangka pendek Jokowi minta supaya dimanfaatkan peluang untuk menyasar ceruk pasar wisatawan mancanegara yang sedang cari alternatif untuk destinasi wisata karena batal berkunjung ke China.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan seseorang untuk berpikir out of the box sehingga akhirnya menemukan suatu inovasi  baru:

  1. Keluar dari zona aman.

Setiap orang cenderung menikmati dan terbuai akan zona aman yang sudah dimilikinya pada saat ini. Hal ini menjadi penghalang dari sebuah inovasi. Zona nyaman membuatnya tidak pernah bisa melihat adanya peluang di luar sana untuk menemukan suatu terobosan baru atau sebuah peningkatan atas level hidupnya. Maka itu jika seseorang ingin bisa melihat dan berpikir di luar kebiasaan dan kerangka masalah yang ada, beranikan diri untuk keluar dari zona aman.

  1. Tinggalkan keraguan.

Keraguan untuk melakukan inovasi baru  terjadi karena ada ketakutan untuk menghadapi resiko. Keragu-raguan itu harus ditinggalkan, sebab perlu diketahui bahwa tidak ada satupun hal di dunia ini yang tidak memiliki risiko.

  1. Dengarkan orang lain, terbuka, dan menerima.

Orang-orang yang berpikir di dalam kotak adalah orang-orang yang tidak pernah mau menerima ide-ide yang bermunculan di sekitarnya. Mereka selalu memandang ide-ide tersebut tidak akan bekerja. Oleh karena itu, seorang yang mau untuk berpikir di luar kotak harus memiliki kerendahan hati untuk membuka dirinya, menerima pendapat dan ide-ide dari orang lain, kemudian mengolah nya dengan cara-cara di luar kerangka berpikir yang pada umumnya.

  1. Keterbukaan untuk melakukan hal yang berbeda,dan melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda. Albert Einstein mengatakan“ Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil berbeda akan tetapi menggunakan cara-cara yang sama. ” Cara berpikir ini bisa memicu seseorang untuk menciptakan inovasi dan kreativitas.

Saatnya usahawan Indonesia keluar dari pemikiran yang terkotak, mencari jalan untuk bisa menembus halangan yang terjadi, seperti kata-kata bijak mengatakan where there’s a will, there’s a way.

Irma Indiah/VMN/BLJ/Contributor
Editor: Ruth Berliana

Leave a Reply

Your email address will not be published.