Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures: Ekosistem Startup Indonesia

(Business Lounge Journal – Global News)

Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures menjabarkan pandangannya terhadap ekosistem startup yang ada di Indonesia. “Kalau kita bicara Indonesia, maka Indonesia adalah market untuk semua negara ASEAN. Kalau kita bicara mengenai Grab, bicara mengenai Shopee dan yang lain, meskipun perusahaan asal Singapura, tetapi kalau mereka fund raising, maka fund raising-nya itu untuk market yang ada di Indonesia,” demikian dijelaskan Nicko. “Jadi bukan market expansion di Thailand, bukan market expansions di Filipina, di Singapura atau Malaysia, tetapi di Indonesia,” lanjut Nicko.

Ada dua hal yang menjadi factor pendukung pernyataan Nicko ini, seperti yang dijelaskannya kepada Business Lounge Journal. Pertama, jumlah penduduk Indonesia yang besar (mencapai hampir 270 juta penduduk) dengan banyak penduduknya yang adalah tenaga produktif. Kedua, jumlah unicorn terbanyak ada di Indonesia (5 unicorn) dengan terakhir adalah OVO. “Tahun ini mungkin ada tambahan lagi, satu atau dua unicorn yang lair dari Indonesia. Kita lihat sekarang ini ceritanya revolve around Indonesia aja,” demikian dijelaskan Nicko. “This is the only country yang masih ada growth story, bahkan di Asia Pacific,” sebut Nicko.

Lalu apakah membangun ventures telah menjadi suatu tren sekarang ini? Nicko kembali menjelaskan bilamana sebuah usaha tidak memiliki modal ventura, maka terdapat kemungkinan akan mendapatkan modal ventura dari orang lain bahkan bantuan perusahaan luar negeri. Memang terdapat unicorn yang pada akhirnya mendapatkan investor dari luar negeri oleh karena kita tidak memiliki kesiapan di awal. “Kita kan sedang mengejar ketinggalan 10 tahun dibandingkan dengan Singapura. Apalagi industri model ventura dan startup telah ketinggalan jauh dibanding Amerika Serikat, Silicon Valley. Tetapi kita lebih cepat rate-nya, pace-nya,” demikian penjelasan Nicko.

Lebih jauh lagi ia menjelaskan kecepatan Indonesia dalam mengejar oleh karena budaya yang telah terbangun saat ini, bagaimana kita tidak lagi harus mengajari orang untuk online. Misalnya saja, sekarang ini secara otomatis, millennial lebih memilih untuk menggunakan Grab atau Gojek dibandingkan dengan membeli mobil. Contoh lainnya bagaimana terjadi perubahan pada customer behavior, seperti misalnya banyak orang yang sudah terbiasa bertransaksi dengan menggunakan digital wallet dibandingkan dengan membayar tunai. Padahal pada sepuluh tahun yang lalu bisa dikatakan tidak ada orang yang percaya untuk menggunakan digital wallet. Namun sekarang, menggunakan digital wallet bukanlah lagi hal yang asing.

“Kalau kita ke mall sekarang orang tuh bayarnya pakai digital wallet, tidak lagi pakai cash dan itu kan yang amat sangat tidak diperkirakan kalau kita bicara 10 tahun yalu. Mana mungkin sih orang percaya sama wallet. Sekarang iya!” demikian Nicko menjelaskan bagaiamana ekosistem startup Indonesia saat ini.

Business Lounge Journal/VMN/BLJ

One Response

  1. Fellisa

    Betul, sekarang sudah terjadi perubahan customer behavior.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.