Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures: Digital Disruption

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Tidak ada industri yang ‘imun’ dari disrupsi, demikian disampaikan Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures saat menjabarkan perbedaan ekosistem MDI Ventures dan BRI Ventures. Business Lounge Journal menjumpainya pada acara Indonesia PE-VC Summit 2020 yang berlangsung pada Rabu, 15 Januari 2020 di Hotel Westin. Sebelum bergabung dengan BRI Ventures, Nicko menjabat sebagai CEO MDI Ventures, sebuah perusahaan pendanaan yang dimiliki Telkom. Menurutnya, baik industri telekomunikasi dan industri perbankan, sama-sama mengalami disrupsi, terutama disrupsi digital.

“Kalau kita lihat pada bisnis telkom di MDI, disrupsi datang dari OTT. Kalau kita lihat industri seperti media pun didisrupsi oleh digital. Telkom selama ini, apalagi kalau kita lihat bisnisnya itu adalah bisnis telekomunikasi, maka didisrupsi oleh skype pada awalnya dan sekarang oleh Whatssap. Kalau kita lihat bank pun juga mengalami disrupsi, yaitu disrupsi dari fintech. Meskipun hari ini kalau dilihat, fintech itu bisa complementing bank atau fintech itu bekerja sama dengan bank, akan tetapi kalau kita lihat 5 tahun lagi pasti berubah situasinya, fintech mungkin akan mendisrupsi lebih,” demikian dijabarkan Nicko.

MDI Ventures dan BRI Ventures adalah dua perusahaan pendanaan dengan industri yang berbeda yang sama-sama mengalami disrupsi digital. Lebih jauh dengan disrupsi yang dialami dunia perbankan, Nico mengisahkan bagaimana saat ini sudah ada perusahaan fintech yang membeli bank. Hal ini terjadi tidak hanya di luar negeri, bahkan juga di Indonesia. Dapat dipastikan hampir seluruh lini industri akan terkait dengan perbankan. Ada perbedaan ekosistem yang ada pada industri perbankan dengan ekosistem yang ada pada industri telekomunikasi.

“Tetapi kalau di Telkom dulu itu kan lumayan niche tuh keperluannya berhubungan dengan pulsa, advertising, tetapi kalau dengan perbankan setiap lini industri itu pasti ada hubungannya dengan bank at the very list credit. UKM perlu kredit. UKM perlu savings dan kalau kita bicara mengenai kredit, dan lain-lain, bank itu kan leading sebenarnya di Indonesia. Bank seperti BRI, Mandiri, BCA itu kan punya satu customer base yang kuat. BRI sendiri itu ada 80 juta di Indonesia,“ lebih lanjut dipaparkan Nicko.

“Jadi kita lihat branching out-nya jauh lebih luas dibanding dengan fintech yang sekarang,” lanjut Nicko. Jangkauan Fintech untuk saat ini sangat berbeda dengan jangkauan perbankan yang setidaknya telah memiliki kekuatan pada jumlah nasabah yang dimiliki.

“Jadi kalau kita lihat ekosistem itu berbeda sekali antara Telkom dan perbankan. Saya yakin energi pun beda,” demikian disimpulkan Nicko.

Business Lounge Journal/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.