Risiko Mendanai Startup di Indonesia

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Bukan tanpa risiko para perusahaan ventura berburu startup di Indonesia. Ada ratusan peserta yang mengikuti Indonesia PE-VC Summit 2020 pada Rabu, 15 Januari 2020 yang laludan berharap dapat memberikan dananya kepada orang yang tepat.

Business Lounge Journal berbincang dengan beberapa pendana mengenai risiko yang mereka hadapi kala memutuskan untuk mendanai startup di Indonesia.

Tiga risiko utama – Gary P. Khoeng: Executive Director Investment Vertex Ventures

Ada tiga risiko yang Gary utarakan sebagai risiko utama yang dihadapinya ketika perusahannya hendak mendanai sebuah perusahaan. Pertama, risiko pasar. Dibutuhkan market size yang cukup besar secara significant untuk perusahaan itu dapat melakukan investasi. “Jika market size terlalu kecil dengan visi besar namun jumlah pendanaan yang kecil, maka potensi pertumbuhan akan sangat terbatas,” demikian ujar Gary.

Risiko kedua, adalah tim. Gary kembali berpendapat bahwa tim adalah risiko yang juga besar oleh karena itu Gary akan sangat mencermati kualitas dari tim pendiri. Risiko ketiga, Sumber Daya Manusia. Bagi Gary, kendala terbesar di Indonesia adalah untuk mendapatkan talent teknologi. Adalah sangat terbatas Sumber Daya Manusia yang dimiliki Indonesia terkait bidang teknologi. Kenyataan yang ada bagi Gary, ada banyak talent Indonesia yang baik memilih untuk pergi ke Singapore dan kemudian bekerja serta tinggal di sana untuk standar hidup yang lebih baik. Ketika mereka memilih untuk tinggal di Jakarta dengan standard kualitas hidup yang tidak sama tinggi dalam bidang teknologi, maka dampak yang terjadi pada waktu yang bersamaan adalah adanya demand yang tinggi sedangkan supply kecil.

Risiko Kompetisi – Michael Lints: Partner Golden Gate Ventures

Bagi Michael, Indonesia jelas sebuah kesempatan terbesar sebagai sebuah negara di Asia Tenggara, sehingga ia tidak dapat mengabaikan risiko yang ada dalam sebuah persaingan yang ketat. Hal ini membuat perusahaan bernilai tinggi sehingga menimbulkan risiko yang besar kepada investor. Risiko kedua adalah saat investor berharap pertumbuhan yang sangat cepat di pasar namun pada kenyataannya menjadi lebih lama. Michael menyebutkan perusahaan kesehatan dan asuransi sebagai contohnya. Dibutuhkan waktu 4-6 tahun untuk mengembangkannya dan itu akan menimbulan risiko yang besar sebab perusahaan ventura harus tetap mendanai dan memastikan hasilnya.

Kartini Andri Wardhani: Senior Associate Venturra Capital

“Risikonya cukup tinggi!” demikian jawaban Andri saat Business Lounge Journal bertanya mengenai risiko mendanai startup di Indonesia. Namun hal itu dapat di-manage dengan membuat syndication, sehingga Venturra Capital tidak akan mendanai sendiri. “Jadi misalnya angkanya sejuta, kita ambil 500, ada yang ambil 200, ada yang ambil 200, ada yang ambil 100. Berkolaborasi sama-sama untuk me-manage risiko dalam bentuk jumlah yang kita invest,” demikian penjelasan Andri untuk dapat mencapai success rate yang tinggi.

Business Lounge Journal/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.