Canva: Empower the World to Design

(Business Lounge Journal – Tech)

Saya rasa kehadiran Canva.com telah menolong banyak orang. Mereka yang semula merasa bahwa desain grafis adalah sesuatu yang sangat sulit dan hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang, kini bukan sesuatu yang menakutkan lagi. Canva.com telah membantu siapa saja untuk mendesain tampilan sosmed mereka, presentasi, undangan, bahkan setifikat mereka. Namun tahukah Anda siapa orang dibalik canva.com ini?

Melanie Perkins bersama dengan tunangannya, Cliff Obrecht mendirikan Canva pada tahun 2012 namun telah merintisnya sejak tahun 2007 di ruang tamu ibunya yang adalah seorang guru. Ia bangun pada pukul 04.30 setiap paginya sebelum kemudian ia mendaftar untuk mengajar basic computer design. Ia sangat serius membangun Canva.

Wanita perkebangsaan Australia ini tidak hidup di Silicon Valley namun dia telah menjadi pemilik startup teknologi senilai lebih dari satu miliar dolar. Namun apa yang dicapainya pada hari ini, bukan dengan mudah diperolehnya. Lebih dari 100 investor telah menolak untuk mendanai rintisannya namun tidak membuat Melanie menyerah sampai kemudian ia bertemu dengan sebuah venture capital asal Perth yang mau menggelontorkan dana untuknya. Melanie yang kini berusia 32 tahun memang sangat tekun mengerjakan Canva yang semula memiliki 750,000 pengguna hingga menjadi lebih dari 20 juta pengguna premium di 190 negara yang merancang mulai dari gambar-gambar pribadi hingga buku menu usaha bisnis mereka.

Canva telah menarik banyak pengguna dengan kemudahannya serta penggunaannya yang tak berbayar. Hal ini jelas menjadi nilai saing yang rasanya akan sulit dikalahkan oleh para kompetitornya, termasuk raksasa teknologi Adobe, raksasa grafis dengan modal USD 149 miliar dan menerima pendapatan USD 1,65 miliar pada kuartal terakhir dari unit yang berfokus pada desain saja. Bayangkan saja, hanya dengan 10 menit, siapa saja sudah dapat menyelesaikan desain grafisnya dan jika ingin mendapatkan fitur-fitur yang lebih keren, pengguna dapat memutuskan menjadi pelanggan premium dengan membayar USD 10 setiap bulannya dan USD 1 untuk setiap foto berbayar yang dipilih. Forbes mencantumkan bahwa pada tahun ini, perusahaan dengan 700 karyawan ini menargetkan pendapatan menjadi lebih dari dua kali lipat menjadi USD 200 juta; putaran pendanaan USD 85 juta terbarunya bernilai USD 3,2 miliar. Melanie tercatat memiliki sekitar 15% saham Canva senilai USD 430 million atau senilai 6 triliun rupiah. Seiring pertumbuhan Canva, Melanie telah membuktikan bahwa perusahaan teknologi tidak harus lahir dari Silicon Valley, namun dapat lahir dari mana saja.

Melanie telah mendapatkan lebih dari USD 166 juta dari bebragai investor seperti Lars Rasmussen pendiri Google Maps, Ken Goldman yang adalah CFO Yahoo!, serta dana obligasi, General Catalyst, Felicis Ventures dan Blackbird.

Namun bisnis seperti Canva perlu memiliki perhitungan yang cermat, oleh karena sebagian besar penggunanya akan tetap memilih sebagai anggota tak berbayar. Walaupun dalam sebuah pernyataan Melanie kepada pers bahwa misi yang dibawanya lewat Canva adalah memberdayakan dunia untuk mendesain. Ia berharap Canva benar-benar memiliki arti bagi seluruh dunia.

Business Lounge Journal/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.