Digital Money, Cara Baru Bertransaksi

(Business Lounge Journal – Tech)

Teknologi yang terus berkembang menyebabkan gaya hidup masyarakat juga terus berubah. Hal ini menjangkau seluruh aspek kehidupan, termasuk juga cara masyarakat transaksi. Kalau zaman dahulu, uang adalah benda fisik berbentuk kertas atau logam, maka sekarang ada yang namanya digital money. Nah tren penggunaan digital money kini turut melanda Indonesia. Saya sendiri cukup surprise dengan maraknya penggunaan e-money, ketika beberapa waktu lalu saya berbelanja di sebuah pasar tradisional. Di semua kios, terpampang barkot pembayaran digital money, seperti Gopay dan Dana. Penjual tampak sudah begitu fasih dengan metode pembayaran baru ini, bahkan ada yang sampai tidak menerima pembayaran tunai sama sekali. Konsumen pun nampak sudah sangat familiar dan senang dengan metode pembayaran ini, apalagi ada cash back yang didapatkan.

Kalau ditelusuri, sebenarnya penggunaan digital money ini sudah cukup lama diperkenalkan, yaitu sebagai mode transaksi pembayaran transportasi seperti pembayaran tol, Bus Trans Jakarta, Kereta Api, dan lainnya. Namun beberapa tahun belakangan ini, penggunaanya meluas ke sektor kehidupan lainnya dan bukan hanya berbasis kartu tapi juga berbasis server. Menurut data yang ada, nilai transaksi uang elektronik pada tahun ini mengalami pertumbuhan pesat. Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi uang elektronik pada periode Januari-Mei 2019 sebesar Rp958,42 miliar. Dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama sebesar Rp 543,13 miliar, berarti mengalami pertumbuhan sebesar 76,46 persen.

Ada beberapa pemain digital money di Indonesia, yang terbesar di antaranya adalah Gopay dan Ovo. Selain itu, ada juga Dana, LinkAja, isaku, Daku, Dokuku, dan lainnya. Masing-masing pelaku punya segmentasi pasar khusus. Gopay bagi pengguna layanan Gojek, OVO menjadi bagian dari Grab dan salah satu metode pembayaran di Tokopedia, dan Dana berkerja sama dengan Bukalapak. Bahkan, LinkAja sebagai pemain baru pun telah memiliki pasar khusus yakni transaksi di kalangan pegawai BUMN. Semua merchant ini berlomba untuk mendapatkan pelanggan lebih banyak, masing-masing dengan keunggulan dan strateginya. Berbagai strategi dijalankan, yang tersering adalah dengan pemberian cash back, diskon, dan juga promo-promo lainnya.

Hadirnya digital money memang membawa banyak keuntungan bagi masyarakat. Hal yang paling terasa adalah masalah kepraktisan. Sudah pasti penggunaan digital money lebih praktis, karena tidak perlu menyediakan uang kembalian dan tidak perlu membawa uang secara fisik. Selain itu lebih cepat, contohnya saat pembayaran tol dengan menggunakan kartu. Namun demikian bukannya penggunaan digital money tidak ada kekurangannya. Salah satu kekurangan yang terbesar adalah cenderung berpotensi mengakibatkan penggunanya menjadi lebih boros. Karena penggunaanya yang lebih praktis, maka pengguna menjadi ingin terus menggunakannya. Terlebih lagi dengan segala tawaran cash back dan diskon yang ditawarkan, mendorong konsumen untuk terus berbelanja melebihi barang yang dibutuhkan.

Rebecca Hayati/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

One Response

  1. Jacqueline

    Dengan semakin majunya perkembangan jaman.maka semua dituntut utk serba praktis salah satunya dgn adanya digital money.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.