Kolaborasi Empat Generasi

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Satrio adalah seorang pemimpin unit kerja di perusahaan yang telah berdiri hampir satu abad, sejak sebelum Indonesia merdeka, pada masa pemerintahan Belanda. Perusahaan yang sebelumnya adalah perusahaan keluarga, sekarang ini telah menjadi perusahaan publik, perusahaan terbuka. Beberapa tahun ini, perusahaan di tempatnya bekerja mengalami hal yang fenomenal, yaitu tingginya angka tingkat pengunduran diri atau turn-over khususnya pada generasi yang berbeda, yaitu generasi X dan generasi Z atau millennial.

Saya memperhatikan lingkungan di mana saya bekerja, generasi X dalam banyak hal mewakili pemimpin yang dibutuhkan untuk merangkul sekaligus generasi Y atau boomers dan generasi Z untuk mencapai tujuan perusahaan. Generasi X adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk membangun kerja sama anggota kelompok untuk mengeksekusi strategi menjadi rencana kerja dengan ruang waktu dan hasil kerja yang dapat diukur baik secara finansial maupun non-finasial. Mereka, generasi X adalah pekerja yang tangguh dan adaptif. Bukti nyata yang dapat dilihat secara nyata yaitu hadirnya budaya konektivitas, kolaborasi, serta berbagi yang menghasilkan inovasi.

Perusahaan perlu mengubah cara pendekatan jika tidak ingin kehilangan karyawan generasi X dan mendapatkan hasil kerja yang efektif dan yang terbaik. Mereka kebanyakan adalah pemimpin unit kerja yang handal agar perusahaan tidak kehilangan karyawan generasi Z, sekaligus memaksimal karyawan generasi Y dalam kurang dari dua tahun menjelang masa pensiun.

Saya memperhatikan sedikitnya empat hal yang dapat dilakukan perusahaan dalam mengatasi tingkat pengunduran diri atau turn-over dengan cara membangun sinergi. Tips ini khususnya adalah untuk perusahaan yang saya yakin kebanyakan perusahaan memiliki tiga generasi sekaligus, yaitu: generasi Z yang merupakan jumlah terbanyak, generasi Y yang jumlahnya sangat sedikit, dan generasi X yang jumlahnya terbatas.

  1. Membangun komunikasi terbuka. Bantulah generasi X menciptakan lingkungan kerja menjadi fasilitator bukan diktator. Generasi Z berharap mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasi potensi dari pengetahuan dan kemampuan yang diperolehnya dari dunia pendidikan melalui kinerjanya. Di sisi lain, generasi Y yang tidak lagi mengejar karir, memiliki kemampuan untuk memberikan nilai atau value yang dapat mengubah instruksi menjadi solusi – yang diperlukan oleh generasi X para pemimpin yang memiliki kemampuan membuat instruksi kerja, melalui komunikasi terbuka, generasi Y dapat membantu generasi X men-deliver solusi yang dibutuhkan generasi Z. Perusahaan yang memberikan sarana komunikasi terbuka akan mendapatkan hasil yang maksimal dari sinergi tiga generasi karyawan yang dimilikinya sekaligus.
  2. Menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan terjadinya kolaborasi. Saya memperhatikan perusahaan yang memberikan penghargaan atas setiap keluhan pada saat proses penjualan produk atau jasa layanan dan menghargai kejujuran karyawan untuk mengakui sebuah kesalahan malahan memberikan pertumbuhan finasial dan non finansial. Melalui penyelesaian setiap masalah karena keluhan dan kesalahan proses yang terjadi, perusahaan mendapatkan solusi untuk meningkatkan jumlah penjualan dan tingkat kepuasan pelanggannya. Seiring dengan perkembangan teknologi yang kemampuan ini dimiliki oleh generasi Z, diseimbangkan dengan kemampuan generasi Y dalam memberikan nilai, sebagai pemimpin generasi X memiliki ruang kolaborasi untuk mencapai tujuan finansial dan non finansial perusahaan.
  3. Ciptakan waktu dan tempat bekerja yang fleksibel untuk hasil kerja yang maksimal. Tidak perlu memaksakan generasi Z hadir tepat pukul 8 di pagi hari yang mungkin menjadi kebiasaan generasi Y, sementara generasi X membutuhkan variasi keduanya. Apalagi teknologi mampu menghubungkan proses kerja dalam waktu yang sama tanpa menghadirkan karyawan di ruang kerja yang sama. Maksimalkan teknologi untuk berdaya guna dalam 24 jam dan 7 hari dari lokasi kerja yang berbeda. Fokus perusahaan adalah pada hasil kerja, bukan waktu kehadiran di tempat bekerja. Dengan demikian perusahaan akan mendapatkan hasil yang maksimum dari setiap generasi. Kehadiran tepat waktu generasi Y di tempat bekerja dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan men-deliver aktivitas yang disepakati menjadi solusi peningkatan penjualan dan kepuasan pelanggan. Di waktu dan tempat yang berbeda generasi Z mengerjakan yang akan di-deliver oleh generasi Y sesuai dengan solusi yang dihasilkan melalui kolaborasi yang dikerjakan oleh generasi X.
  4. Bangun integrasi di lingkungan pekerjaan. Sedikitnya, dunia pekerjaan menyita waktu 8 jam dari 24 jam dalam satu hari. Generasi Boomers yang mungkin sudah memiliki cucu dan tidak lagi memiliki pasangan atau generasi X yang memiliki anak di tingkat mahasiswa, atau mungkin juga single, atau generasi Z yang baru menikah atau single – yang jika terintegrasi dapat memberikan nilai lebih yang dapat menahan karyawan generasi X dan generasi Z ketika mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan kompetitor. Nilai kebersamaan atau kekeluargaan merupakan faktor yang memiliki nilai yang tinggi di lingkungan pekerjaan. Saya sendiri pernah mengalami ketika dalam perjalanan pulang dari tempat bekerja, karena ketidaksengajaan kendaraan saya distop orang tidak dikenal. Saya menghubungi seorang teman yang keluarganya adalah anggota polisi. Dalam waktu kurang dari lima menit, polisi datang dan orang tidak dikenal pergi. Adakan acara Day-Care di tempat bekerja mengumpulkan anak-anak dan memberikan aktivitas atau adakan  Pot-Luck makan siang bersama.

Kesimpulan: kolaborasi, berbagi dan berinovasi memungkinkan generasi Z menemukan keseimbangan dalam dunia kerja dan kehidupan di luar lingkungan pekerjaan atau singkatnya kehidupan pribadi. Bagi generasi Y, ketiga hal di atas memberikan kesempatan untuk berdaya guna secara maksimal menjelang masa pensiun dan generasi Z menyeimbangkan keduanya untuk mencapai tujuan perusahaan.

Michellin/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.