Mengenal dan Mewaspadai Penyakit Autoimun

 

(Business Lounge Journal – Medicine)

Autoimun hari-hari ini menjadi buah bibir oleh karena masyarakat semakin banyak ingin mengetahui tentang autoimun. Penyakit ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu namun semakin populer akhir-akhir ini dengan meningkatnya jumlah penderita autoimun di dunia. Di Indonesia pun jumlah penderita autoimun semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Divonis sakit autoimun sama menakutkannya dengan vonis kanker. Memang benar, autoimun dapat menyerang siapa saja dan tidak mengenal usia. Autoimun merupakan suatu penyakit yang dapat terjadi di semua organ tubuh dan penyebabnya sampai hari ini belum diketahui mengapa ini dapat terjadi. Ada kurang lebih 80 jenis autoimun yang dapat menyerang kesehatan manusia. Satu penyakit defisiensi imun saja dapat menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan  sakit penyakit, menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.

Apakah dapat menimbulkan kematian? Ya, autoimun dapat menimbulkan kematian.

Sejarah Autoimun

Autoimun ditemukan oleh seorang dokter ahli imunologi  Jerman, Paul Ehrlich sebagai “horor autotoxicus”. Namun saat itu ditentang oleh banyak orang sebab banyak yang meyakini bahwa tidak mungkin sistem imunitas tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Akhirnya pada tahun 1904 ditemukan kasus PCH yaitu singkatan dari Paroxysmal cold hemoglobinuria, suatu anemia hemolitik autoimun yang terjadi setelah paparan dingin dan dapat terjadi pada anak-anak atau dewasa. PCH ini diakui sebagai kasus gangguan autoimun yang  pertama oleh Julius Donath (1870–1950) dan Karl Landsteiner (1868–1943).

Tanda-tanda awal terkena Autoimun

Autoimun seringkali terlambat didiagnosis dan kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya terkena autoimun. Namun demikian ada beberapa tanda awal yang bisa kita waspadai sebagai gejala autoimun terutama bila Anda memiliki riwayat keluarga yang terkena autoimun.  Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Kulit

Kulit seringkali  menjadi indikator pertama peradangan. Jangan anggap biasa kemerahan, gatal atau daerah yang bernoda dan sensitif, jerawat dan Anda merasa bahwa tidak ada alasan khusus mengapa itu dapat terjadi dan mencurigakan. Katakan saja Lupus (SLE) memiliki gejela perubahan tekstur dan warna kulit, ada daerah kulit yang bengkak dan bersisik. Bila kulit Anda terlalu peka terhadap matahari, hal ini juga bisa diwaspadai.

2. Rasa lelah secara mental dan fisik bahkan setelah tidur 8 jam atau lebihKelelahan dapat menjadi salah satu tanda autoimunitas yang paling awal. Kelelahan bisa juga merupakan manifestasi fisik dari anemia akibat peradangan/inflamasi kronis,  hadir dalam kasus-kasus penyakit inflamasi yang mendasarinya.

3. Berat Badan yang berfluktuasi

Fluktuasi berat badan yang terjadi  tanpa alasan khusus juga dapat menunjukkan masalah dengan sistem kekebalan tubuh. Hal ini bukan saja bicara berat badan berkurang tapi juga dapat bertambah tanpa kejelasan. Beberapa penyakit autoimun dikaitkan dengan penurunan berat badan, dan sebaliknya dapat menyebabkan penambahan berat badan. Jika diet dan aktivitas fisik Anda tidak berubah tetapi berat badan Anda berubah dan tidak ada perubahan metabolisme karena usia maka hal itu mungkin karena sistem kekebalan Anda membutuhkan perhatian medis.

4. Nyeri otot atau persendian bisa menjadi indikasi ada sesuatu yang terjadi dengan sistem kekebalan tubuh Anda terlebih jika Anda bukan seorang atlet atau penggemar olahraga berat. Pada kasus autoimun Artritis Rematoid, Tiroiditis Hashimoto, Lupus, dan kondisi autoimun lainnya  memiliki gejala awal yang sangat mirip, jadi jangan langsung menyimpulkan.

5. Nyeri perut, kram, kembung yang entah muncul dari mana dan disertai gejala-gejala lain di atas yang membingungkan Anda sebaiknya jangan dibiarkan.

Diagnosis

Autoimun memang tidak mudah untuk dideteksi namun  dapat didiagnosis dengan tes darah yang mencari auto antibodi atau tes mencari peradangan dan disfungsi organ-organ tertentu yang kemungkinan besar rusak oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang organ sendiri dengan ganas.

Semakin dini penyakit autoimun terdeteksi, akan semakin mudah untuk menanganinya dan membatasi kerusakan pada organ. Jadi, jangan biasakan mengabaikan apa yang terjadi pada tubuh dan menganggapnya remeh, berkonsultasilah dengan dokter Anda.

dr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.