(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

German Accelerator merupakan sebuah lembaga yang dibiayai oleh pemerintah Jerman untuk dapat membawa Startup Jerman ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia yang merupakan negara terbesar di Asia Tenggara. Dalam sebuah kesempatan meng-interview Petrina Seah, Chief Operating Officer at German Accelerator Southeast Asia menjelaskan bagaimana German Accelerator banyak melihat kesempatan di Indonesia, terutama dalam bidang eCommerce. Mengingat perkembangan gaya hidup di Indonesia yang juga membawa Indonesia masuk di dalam kelas menengah dengan 63 juta orang yang terlibat di dalamnya. Petrina mengatakan bahwa jumlah mereka yang terlibat dalam eCommerce di Indonesia ini, hampir sama dengan jumlah penduduk Jerman.

Dalam perbincangan ini, Petrina juga mengatakan bahwa ada perbedaan antara startup di Indonesia dan di Jerman. Startup di Jerman dikatakan lebih berkembang walaupun sebelumnya cukup sulit mendapatkan pendanaan di Jerman, walaupun saat ini masalah pendanaan telah mengalami perkembangan. Selain itu, orang Jerman lebih fokus dalam teknologi sehingga mereka lebih banyak mengadakan riset dan development. “Namun saya yakin bahwa startup Jakarta juga akan berkembang dan menemukan kekuatannya sendiri,” demikian disampaikan Petrina. Jerman tidak bercita-cita untuk menjadi Silicon Valley, namun demikian Petrina sangat yakin bahwa Indonesia akan berkembang dalam banyak sektor, termasuk sektor pertanian pada masa yang akan datang, juga depan sektor kesehatan, dan juga sektor pendidikan. Ini merupakan kesempatan yang luas bagi para startup Indonesia.

Lalu apakah produk yang saat ini dicari oleh para masyarakat Jerman? Petrina mengisahkan bahwa orang Jerman adalah pelancong dan dapat ditemui di mana-mana. Orang Jerman dikatakan tidak hanya mencari kota-kota yang unik, tetapi juga hal-hal yang mengagumkan di seluruh dunia. “Apalagi di Indonesia yang memiliki pantai yang cantik serta tempat-tempat yang masih belum dieksplor, seperti Pulau Komodo, danau vulkanik, juga Bali,” demikian dikatakan Petrina.

Orang Jerman dikatakannya sangat tertarik dengan Indonesia dan ini dapat menjadi sebuah ide bagi startup Indonesia, yaitu bilamana startup Indonesia dapat menciptakan sebuah aplikasi yang dapat membantu mengedukasi orang Jerman mengenai titik-titik yang belum dieksplor sehingga dapat memudahkan orang Jerman untuk bepergian. Apa yang akan menjadi nilai tambahnya adalah bila aplikasi tersebut dapat dibuat dalam bahasa Jerman. “Saya rasa itu akan menjadi kesempatan yang menarik untuk orang Indonesia. Apalagi jika dibantu dengan membuat aplikasinya dalam Bahasa Jerman sebab orang Jerman sangat suka bepergian,” demikian disampaikan Petrina.


Business Lounge Journal/VMN/BLJ