Yenny Wahid: Libatkan Millennial untuk Menyebarkan Nilai-nilai Pancasila

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Yenny Wahid, direktur The Wahid Institute, memiliki cara bagaimana dapat membuat Pancasila dapat mendarah daging bagi para millennial, yaitu dengan membuat relevan sesuai dengan kebutuhan zamannya. “Jadi yang paling penting, Pancasila itu harus dibuat relevan dengan kebutuhan zamannya,” demikian dikatakan puteri dari Presiden Indonesia ke-4 ini. “Pancasila tidak bisa didoktrinkan tanpa ada upaya dari kita semua untuk merealisasikan nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan bersama kita di masyarakat,” demikian dilanjutkannya.

Yenny menjelaskan bahwa nilai-nilai ke-Tuhanan bisa diajarkan melalui kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan juga masyarakat. Begitu juga dengan sila-sila yang lainnya yang harus tercermin dalam berbagai sendi kehidupan Bangsa Indonesia. “Ketimpangan sosial yang ada, ketimpangan ekonomi yang ada harus bersama-sama kita tekan. Kemiskinan yang ada harus kita kurangi. Ini semua adalah wujud dari implementasi nilai-nilai Pancasila,” terang Yenny.

Nilai-nilai Pancasila tidak bisa sekedar dihafal dan tidak bisa sekedar didoktrinkan saja. Ini akan membuat anak-anak akan kehilangan minat. “Namun yang paling penting adalah memastikan bahwa orang dewasa itu memberikan contoh yang baik kepada anak-anak sehingga mereka tidak akan mengatakan – loh Bapak sendiri korupsi, Ibu sendiri tidak baik kepada tetangga yang berbeda keyakinan. Jadi semuanya dimulai dari tauladan dari orang-orang yang lebih tua, yang lebih senior, sehingga memberikan ajaran kepada anak-anaknya. Nilai-nilai ditanamkan dengan jelas bukan cuma sekedar teori tetapi praktek yang nyata di tengah-tengah masyarakat,” demikian dijelaskan wanita  bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafso ini.

Selanjutnya, Yenny menjelaskan bagaimana Pancasila hanya bisa mendarah daging jika kita juga melibatkan millennial untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila itu. Kalau sifatnya monolog, kalau sifatnya doktriner, hanya dari orang tua, hanya dari generasi yang lebih tua ke anak millennial, maka nanti yang terjadi adalah “tidak nyambung”, demikian istilah Yenny. “Tetapi kalau kita melibatkan anak-anak muda ini, bagaimana membuat semangat Pancasila menjadi lebih relevan. Itu mungkin bisa masuk ke kalangan mereka. Bahasa yang dipakai pun bahasa mereka, pemahamannya pun harus beranjak berdasar kepada apa yang menjadi definisi mereka. Tetapi yang paling penting adalah kita memberikan, kita memfasilitasi, kita memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk berkreasi agar mereka bisa menjadi lebih mengekspresikan, apa sih Pancasila itu, seperti apa bagi generasi millennial.”

Ruth Berliana/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.