Fakta Tentang Reptilian Brain dan Hoax

(Business Lounge Journal – Medicine)

Akhir-akhir ini sehubungan dengan banyak hoax yang terjadi, maka banyak juga pembahasan media-media tentang reptilian brain atau sering juga disebut sebagai croc brain. Yuk kita gali tentang reptilian brain ini, apakah sesuai dengan teori Neuroscience?

Asal Teori

Teori Reptilian Brain berasal dari Teori Triune Brain yang dicetuskan oleh seorang psikiater pada tahun 1960-an. Teori ini menyatakan adanya gagasan inti mengenai evolusi otak dan hubungan antara psikologi emosional dan struktur otak utama dan dikembangkan menjadi konsep otak. Kemudian pada tahun 1990-an seorang bernama Paul Mc Lean mengatakan bahwa teori ini telah berevolusi.

Teori Triune Brain ini disukai oleh para Psikolog karena dapat menolong menjelaskan beberapa kondisi yang dialami pasien-pasien yang menderita Dementia misalnya, gejala emosional pada pasien adalah karena hubungannya antara psikologi emosional dengan menggunakan  struktur otak utama.  Namun model Triune Brain ini tidak sepenuhnya benar sehingga tidak dapat dijadikan model ilmiah otak walaupun juga tidak sepenuhnya salah.

Model Triune Brain

Triune Brain mengatakan otak terdiri dari tiga bagian yaitu:

  1. Otak reptil, terdiri dari basal ganglia (striatum) dan batang otak, terlibat dengan dorongan primitif yang terkait dengan kehausan, ketakutan, respons terhadap suhu, kelaparan, seksualitas, dan kepemilikan, mempertahankan wilayah, rasa aman serta kebiasaan dan memori prosedural (seperti menempatkan kebiasaan Anda olahraga pagi setelah bangun tidur atau mengendarai sepeda dengan terampil dalam keseharian Anda). Model ini memandang otak reptil sebagai bagian terendah yang mudah dipicu oleh kebutuhan-kebutuhan dasar.
  2. Otak paleomamalia (mamalia tua), termasuk hipotalamus, hippocampus, amygdala, dan cingulate cortex, adalah pusat motivasi, emosi, dan ingatan kita.
  3. Otak neomamalia (mamalia baru), terdiri dari neokorteks yang memampukan adanya bahasa, abstraksi, penalaran atau logika, dan perencanaan.

Nah, ketika hoax terjadi biasanya yang disebarkan oleh hoax adalah berita negatif yang menyebarkan ketakutan dan mengganggu rasa aman. Itu sebabnya dikaitkan dengan croc brain atau reptilian brain. Sebagian orang percaya dengan menebarkan hoax akan mengaktifkan reptilian brain pada seseorang. Orang menjadi mudah ditakut-takuti dan dapat menjadi kehilangan akal sehat dalam pengambilan keputusan karena lebih banyak bagian reptil yang merespons berita hoax.

Adakah yang Salah Tentang Model Triune Brain?

Menurut Paul King dari UC Berkeley Redwood Center for Theoretical Neuroscience, ada yang salah tentang model Triune Brain, antara lain:

  • Model ini belum teruji oleh waktu. Triune Brain mengatakan otak terdiri dari 3 bagian sedangkan teori modern mengatakan otak terdiri dari 4 lapisan: batang otak & hipotalamus (fungsi bertahan hidup dasar), sistem limbik (amigdala dan lainnya yang membuat perilaku otomatis yang kompleks), basal ganglia (optimasi urutan perilaku adaptif), korteks prefrontal (pembelajaan berorientasi tujuan, perilaku, & alasan).
  • Tidak benar bahwa otak berevolusi dengan menambahkan lapisan menurut Triune Brain. Struktur otak manusia sama kompleksnya dulu dan sekarang. Kalau sekarang manusia semakin cerdas adalah karena pengaruh dari rangsang terhadap otak yang semakin kompleks dan mengikuti perkembangan jaman dan nutrisi yang pastinya juga lebih baik untuk otak. Jangankan manusia, binatang jenis reptil sendiri pun memiliki struktur otak yang kompleks juga.
  • Tidak benar bahwa ada aspek otak yang berdiri sendiri-sendiri dan bersaing dengan bagian lainnya. Namun yang benar, otak adalah keseluruhan sistem dan semua sirkuit dalam otak terlibat dan berkolaborasi sepanjang waktu. Korteks prefrontal membutuhkan sisa otak untuk berfungsi, dan respons “melawan-atau-lari“ (fight or flight) ketika ada sesuatu yang menakutkan akan  melibatkan sirkuit di ganglia basal dan korteks serebral.

Kesimpulannya, otak manusia hebat sejak dulu dan tidak bisa disamakan dengan otak binatang manapun. Otak telah terbukti sangat kompleks dan rumit dan sangat banyak memiliki koneksi.  Daerah di otak, elemen-elemen otak tidak bisa dipisah-pisahkan dan seluruh bagian otak saling berkolaborasi.

Jadi jika hoax datang, tidak hanya direspons oleh rasa takut tapi juga logika seharusnya bermain dan  dengan nalar yang benar Anda akan mengambil keputusan yang benar dan bukan keputusan yang berdasarkan rasa takut dan emosi semata.  Abaikan saja berita-berita hoax dan jangan percaya bahwa Anda adalah manusia reptil yang merespons dengan emosional dan tanpa akal sehat.

Anda dapat memutuskan, mau menjadi manusia reptil atau manusia modern seutuhnya?

Vera Herlinadr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.