James Quincey, CEO Baru Coca-Cola: “We are Where We are”

Coca Cola

(Business Lounge Journal – General Management)

Kantor James yang luas di puncak gedung kantor pusat Coca-Cola Atlanta terlihat kosong dan didominasi oleh standing desk miliknya. Sebagai CEO baru, James punya banyak daftar pekerjaan yang menantinya untuk memimpin perusahaan soft drinks terbesar di dunia. Ketika sebuah media bertanya mengenai CEO seperti apa dia sebenarnya? Maka James menjawab, “We are where we are”. Menurutnya juga, di manapun dalam bisnis seseorang memimpin, maka target selanjutnya adalah pertumbuhan perusahaan.

James yang fasih berbahasa Spanyol, bergabung pertama kali di Mexico dan Argentina. Saat di Eropa, James mengawasi akuisisi 90 persen saham perusahaan Innocent Smoothies, perusahaan Inggris yang menjual 2 juta smoothies setiap minggu. Terakhir sebelum menjadi CEO, James kemudian dipercaya menjual dan melakukan kondolidasi bisnis pembotolan Coca-Cola Eropa.

Saat ini Coca-Cola bergerak kembali ke bisnis intinya yaitu memproduksi dan memasarkan minuman, bukan mendistribusikannya. Keputusan ini telah membuat karyawan Coca-Cola berkurang dari 150.000 orang pada tahun 2012 menjadi 40.000 orang saat ini, disebabkan karena penjualan pabrik-pabrik pembotolannya. Namun tanpa pabrik pembotolanpun, Coca-Cola adalah perusahaan yang kompleks dan sekarang ada pada tangan James.

Media di Atlanta menyatakan, James yang adalah seorang veteran Coke lebih dari 20 tahun dan berasal dari Inggris ini akan melakukan pemotongan pekerjaan untuk membebaskan sekitar USD 800 juta dari pengeluaran tahunan perusahaan. Uang itu, katanya, sebagian akan digunakan untuk membantu meremajakan pertumbuhan Coca-Cola, yang telah ditandai dengan penurunan dalam beberapa tahun terakhir karena orang-orang beralih ke minuman yang tidak menggemukan atau tidak lagi minum minuman soda tradisional seperti Coca-Cola untuk sesuatu yang berbeda.

Coca-Cola menjual sekitar 3.900 produk yang berbeda dari minuman bersoda, teh, dan minuman sehat bukan hasil pabrik. Coca-Cola harus melakukan lebih dari yang dilakukannya sekarang ini dikarenakan permintaan masyarakat yang semakin meningkat untuk minuman yang bernutrisi sementara pemerintah di seluruh dunia memberlakukan pajak untuk membatasi minuman manis yang menimbulkan obesitas. Sementara itu penjualan minuman bersoda Coca-Cola masih dibawah saingannya PepsiCo dan Dr Pepper Snapple perusahaan minuman ringan asal Texas, Amerika.

James melihat hal ini juga dan Coca-Cola memerlukan difersikasi dan rencana peningkatan investasi pada bisnis start-ups dengan syarat, perusahaan harus bisa lebih besar dari brand Coca-Cola. Perubahan besar telah terjadi pada preferensi konsumen minuman ringan, hal ini dibuktikan melalui jatuhnya merk Coca-Cola yang menempati urutan teratas secara global menjadi urutan ke 27 pada dekade yang lewat menurut peringkat brandfinance. Hal ini terlihat dari penurunan penjualan Coca-Cola USD10 milyar sampai USD31.8bn tahun ini.

Rencana James saat ini memastikan Coca-Cola menjadi minuman yang menguntungkan apapun rasanya. Melalui semua strategi yang akan dilakukan, James meyakinkan revenue Coca-Cola akan kembali bergerak naik mulai tahun 2018, dan 2019, itu akan naik dengan stabil.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BD/MP Business Advisory Division, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group