No Litter|The Japanese Culture of Throwing Garbage

Japan Garbage 4

(Business Lounge Journal – Culture) Masalah membuang sampah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, rasanya tidak mungkin ada sebuah hari tanpa sampah. Bayangkan saja apabila dalam satu hari Anda hanya membuang sebuah bungkus permen maka dalam setahun Anda telah menimbun 365 bungkus, lalu kalikan saja dengan usia Anda sekarang. Apa yang akan Anda lakukan dengan tumpukan bungkus permen itu?

Mungkinkah tidak ada sampah? Tidak mungkin! Namun mungkinkah untuk melenyapkannya? Mungkin. Itulah sebabnya Jepang memiliki target bebas sampah atau dalam bahasa Jepangdisebut gomi.

Bagi warga negara matahari terbit itu, budaya membuang sampah telah menjadi sebuah budaya kerja keras yang patut mendapatkan acungan dua jempol. Bukannya hanya pemerintah, tetapi semua warga dengan rela hati membersihkan sampahnya sendiri hingga layak didaur ulang. Kotak susu dicuci bersih, botol-botol plastik juga dicuci sebersih mungkin. Semua yang akan dibuang sedapat mungkin dalam keadaan bersih.

Saking pentingnya masalah budaya buang sampah ini, jika Anda perhatikan website yang memberikan informasi mengenai wisata ke Jepang akan mencantumkan aturan main bagaimana membuang sampah untuk dipatuhi para wisatawan asing. Bahkan kota Niihama memiliki petunjuk untuk membuang sampah sepanjang 21 halaman.

Tempat sampah tidak mudah ditemui di tempat-tempat umum, andaikata pun Anda menemukannya, Anda harus berpikir keras untuk membuang sampah Anda pada tempat yang tepat. Jadi, jika Anda memiliki sampah ketika sedang berjalan-jalan di Jepang, Anda harus mengantongi sampah Anda sendiri untuk dibawa pulang ke tempat tinggal Anda.

Setiap kota dan kabupaten memiliki aturan pembuangan sampahnya masing-masing. Bahkan di Tokto saja, terdapat 23 sistem yang berbeda, demikian menurut sebuah media Jepang. Sehingga jika Anda sudah menguasai cara pembuangan sampah di sebuah kota tidak menjamin Anda akan dapat langsung mengikuti cara yang berlaku di kota lain. Sebab cara pengklasifikasian, waktu pembuangan, serta warna kantong yang digunakan akan berbeda-beda. Secara sederhana mungkin dapat digambarkan bagaimana sampah harus dipisahkan menurut jenisnya dan kemudian dikumpulkan di lokasi tertentu pada hari-hari tertentu. Secara garis besar, sampah dipisahkan menjadi:

  1. Sampah yang dapat dibakar (burnable garbage).
  2. Sampah yang tidak dapat dibakar (unburnable garbage).
  3. Sampah daur ulang (recyclable garbage), seperti alumunium, baja, berbagai botol plastik, kaleng, kaca, kertas, kardus, dan berbagai karton yang harus dicuci dan dibuka terlebih dahulu.
  4. Sampah lainnya termasuk sampah besar (other garbage including bulky refuse).

Japan Garbage 2

Kota Kamikatsu menuju bebas sampah

Kamikatsu adalah sebuah kota di Jepang yang menargetkan menjadi kota bebas sampah pada tahun 2020. Apakah hal yang mudah untuk memulai budaya ini?

Sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Seeker Network menceritakan bagaimana warga kota ini telah mulai dengan budaya membuang sampah pada tahun 2003. Pada awalnya Kamikatsu membuka tempat pembakaran sampah, namun atas pertimbangan kesehatan maka metodenya pun diubah. Jalannya pun tidak mulus, tidak semua warga dengan rela hati melakukannya, tetapi sebuah nilai-nilai yang terus ditanamkan akhirnya pun berbuah manis. Semua warga kini rela bekerja keras untuk memproses sampah yang mereka miliki, sebab kota ini tidak memiliki truk sampah dan tidak ada petugas sampah.

Jika sebelumnya sampah dikategorikan ke dalam 4 jenis sampah, namun warga Kamikatsu memilihanya menjadi 34 jenis sampah. Misalnya, untuk semua yang terbuat dari kertas digolongkan lagi menjadi karton, kardus, koran, brosur, majalah. Sampah plastik pun dipisahkan, plastik yang bersih, plastik yang berminyak, botol dipisahkan dengan tutupnya dan sebagainya. Semua sampah yang dapat dibersihkan pun dipastikan dibuang dalam keadaan yang bersih. Kemudian sebanyak 80 persen sampah didaur ulang dan digunakan kembali sebagai kompos, sedangkan 20 persen lainnya dibawa sendiri ke tempat pembuangan sampah dan dipastikan hingga dapat ditangani dengan benar. Namun pada tahun 2020, Kamikatsu merencanakan untuk tidak menggunakan tempat pembuangan sampah sama sekali.

Rela membayar untuk membuang sampah

Japan Garbage 1Apakah Anda pernah membayar untuk dapat membuang sampah? Di Jepang, jika Anda hendak membuang sampah besar seperti furnitur, peralatan listrik, atau rumah tangga maka Anda harus mengatur pembuangannya dan membayar biayanya. Namun kadang-kadang toko tempat Anda membeli barang-barang elektronik Anda dapat menerimanya kembali. Sangat berbeda dengan apa yang kita alami di sini. Kapan saja kita meletakkan barang-barang yang tidak terpakai pada area tempat sampah di depan rumah, maka tidak perlu menunggu berjam-jam sudah ada mereka yang dengan segera memunggutnya. Bahkan banyak yang menanti-nantikannya.

Membutuhkan sebuah usaha, hanya untuk membuang sampah. Mulai dari membersihkannya, memilah-milahnya yang tidak jarang salah dalam melakukan penggolongan sebab tidak mudah untuk mendeteksi bahan apa yang dikandung dari material sampah yang akan Anda buang. Jika Anda salah memilah, maka jangan menyesal jika sampah akan dikembalikan pada Anda. Wah tega sekali ya… Tetapi tidak hanya dikembalikan, akan ada stiker yang ditempelkan pada kantung yang salah sehingga semua orang di sekitar Anda tahu bahwa Anda melakukan kesalahan. Hal ini adalah hal yang memalukan bagi para warga Jepang. Namun lama kelamaan Anda pasti akan terbiasa untuk melakukannya. Memasukkannya pada kantong dengan warna yang tepat dan pada hari yang tepat pula.

Untuk membuang pakaian-pakaian atau produk tekstil usang Anda, maka Anda dapat menyalurkannya pada sebuah pusat keterampilan yang dengan senang hati mengubahnya menjadi boneka, tas, dan berbagai produk lainnya. Tidak hanya itu, sebuah toko juga disediakan khusus bagi Anda yang ingin menukarkan barang-barang tekstil Anda dengan cuma-cuma.

Memang tidak mudah untuk menanamkan sebuah budaya yang melibatkan seluruh penduduk kota bahkan negara. Namun Jepang telah memulainya sejak 13 tahun yang lalu dan kini telah menuai hasilnya. Ternyata dibutuhkan sebuah kerja keras hanya untuk dapat membuang sampah.

nancy/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Picture: Business Lounge Journal