(Business Lounge Journal – General Management) Pasar modal dan pasar uang global hari-hari ini sedang dalam situasi gunjang-ganjing, salah satunya karena isu “Brexit” (British Exit), apakah Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa atau tidak pada referendum tanggal 23 Juni 2016 nanti. Vibiznews baru-baru ini memberitakan bahwa Bursa Saham AS ditutup melemah di AS dengan investor mencermati pertemuan The Fed minggu ini dan kekuatiran Brexit. Jajak pendapat Brexit terbaru, yang dirilis oleh The Guardian, menunjukkan kenaikan suara “meninggalkan” dibandingkan “tetap.” (vibiznews, 14/06/2016).

Menjelang Brexit, diskusi dan kampanye seputar hal itu semakin panas. Kelompok yang pro dan kontra dengan Brexit pun makin sering berkampanye. Masing-masing pihak rajin memperlihatkan hasil studinya untuk mendukung sikap dan pilihan mereka.

Risiko Brexit

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Inggris George Osborne menyatakan bahwa Inggris bisa tenggelam dalam resesi setahun jika memilih hengkang dari keanggotaan Uni Eropa, sembari meyakinkan masyarakatnya untuk menjaga Inggris tetap masuk dalam koridor Uni Eropa.

Osborne yang memimpin kampanye “In” menekankan risiko Brexit bagi perekonomian negara ini. Dia meramalkan adanya penurunan standar hidup serta jatuhnya harga rumah dan naiknya tagihan belanja. Pada kondisi terburuk, disampaikan Osborne, ekonomi Inggris akan turun 6 persen dalam dua tahun dibanding Inggris tetap di Uni Eropa. Inflasi akan naik tajam dan harga rumah akan jatuh sampai 18 persen.

Perdana Menteri Inggris Cameron, berulang kali menyebutkan bahwa pilihan yang dihadapi rakyat Inggris pada 23 Juni nanti semakin jelas, yaitu antara kepastian dan ketidakpastian. Kepastian dan keamanan ekonomi jika Inggris tetap bergabung di Uni Eropa. Sebaliknya, situasi stabil saat ini akan jatuh ke dalam ketidakpastian yang akan menaikkan berbagai harga kebutuhan. Cameron juga memperingatkan, suara untuk Brexit bisa menyebabkan resesi, jatuhnya nilai pound, dan hilangnya setengah juta pekerjaan.

Di pasar uang dewasa ini, pound terpantau cenderung melemah terhadap dolar AS, mendekati level terendah dua bulan. Empat jajak pendapat dari tiga perusahaan yang terpisah telah menempatkan kampanye untuk Inggris meninggalkan Uni Eropa. Media telah menunjukkan bahwa isu referendum ini benar-benar telah mendorong volatilitas tinggi pada satu bulan terakhir dan nilai tukar pound turun ke level lebih rendah dari level terburuk di bulan bulan November 2008, pada puncak krisis keuangan global (vibiznews, 14/06/2016).

Salah Satu Risiko Terbesar

Dana Moneter Internasional (IMF) secara tegas menyatakan khawatir dengan adanya kemungkinan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Brexit disebutkan menimbulkan risiko bagi perekonomian dunia yang sedang lemah karena menambah ketidakpastian dalam rezim keuangan yang baru.

CEO dari Lloyd’s of London, salah satu perusahaan asuransi besar dunia, Inga Beale memaparkan bahwa risiko Inggris memilih keluar dari Uni Eropa adalah salah satu risiko terbesar bagi ekonomi dunia saat ini. Demikian disampaikannya kepada CNBC baru saja (CNBC, 13/06/2016).

Diuraikan Inga dalam Lloyd’s City Risk Index, yang menganalisis potensi dampak risiko ekonomi pada sejumlah kota-kota besar dunia, menunjukkan Brexit berada di tiga risiko yang teratas, mengindikasikan dapat terjadinya goncangan pasar bahkan crash yang memengaruhi GDP dunia.

Di tempat lain, sejumlah bankir bank sentral dunia mulai dari the Fed, Eropa hingga India mengkhawatirkan akan kacaunya keputusan kebijakan moneter mereka bila Inggris keluar dari Uni Eropa (UE). Pimpinan the Fed Janet Yellen memperingatkan bahwa Brexit akan “berdampak ekonomi signifikan”.

Presiden ECB Mario Draghi, sementara itu, mengatakan bahwa dia siap menghadapi apapun hasilnya, sambil menambahkan bahwa lembaganya lebih mengharapkan “Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa.”

Argumentasi yang Pro

Namun demikian, bagi pihak yang Pro-Brexit, kekhawatiran terhadap Brexit dianggap berlebihan. Nigel Farage, pemimpin Partai Independen, menyatakan hanya Brexit yang bisa menumbuhkan ekonomi Inggris lebih baik lagi. Bahkan, beberapa industri yang bermasalah, termasuk industri baja, hanya bisa diselamatkan bila Inggris tak lagi bergabung dengan UE.

Bila keluar dari UE, Inggris akan mempunyai peluang menciptakan biaya yang lebih kompetitif dan menawarkan proteksi lebih kuat lagi dari ancaman praktik dumping Tiongkok. Dengan dumping ini, harga produk baja Tiongkok menjadi lebih murah di pasar internasional. Selama Inggris berada di UE, negara ini tak akan bisa bangkit. Kesempatan dan keuntungan besar justru didapat negara lain, seperti Jerman dan Prancis. “Bila kita memilih tetap berada di UE pada 23 Juni nanti, ini akan menjadi akhir dari hidup industri baja di negara ini,” jelas Farage kepada media beberapa waktu lalu.

Sejumlah data yang menolak Brexit diragukan Vote Leave yang selama ini gencar berkampanye agar Inggris keluar dari UE. Mereka menyebutkan, setiap pekan negara harus mengeluarkan dana sebesar 350 juta pound agar tetap berada di UE. “Sangat buruk saat menegosiasikan perdagangan di UE, bahkan merusak lapangan kerja dan ekonomi. Itulah alasannya bagi Inggris untuk kembali mengontrol negosiasi perdagangannya secara mandiri dengan keluar dari UE,” ungkap seorang juru bicara Vote Leave, seperti dilaporkan BBC pada beberapa waktu lalu.

Mewaspadai Risiko

Brexit rupanya akan mungkin berdampak signifikan terhadap pasar modal dunia dan bahkan perkonomian global. Apapun gejolak yang terjadi pada perekonomian dunia yang dewasa ini masih rapuh pertumbuhannya, tentunya akan berpengaruh kepada perekonomian kita di Indonesia. Lebih lanjutnya berpengaruh kepada pergerakan IHSG, nilai rupiah, arus modal asing masuk dan keluar, kinerja ekspor, nilai impor, cadangan devisa Indonesia, dan seterusnya. Pada akhirnya, ini akan memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi kita yang saat ini sedang diupayakan bertumbuh dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di seantero negeri oleh pemerintahaan yang dipimpin Jokowi – JK.

Kita harapkan saja jangan situasi Brexit ini akhirnya menghadang pertumbuhan ekonomi dalam negeri kita yang sekarang sedang berjuang menembus tekanan pelambatan pertumbuhan. Kita harapkan Brexit ini tidak menimbulkan goncangan besar terhadap perekonomian dunia yang mengundang kembali datangnya resesi global.

Bagi Anda pembaca, secara langsung ataupun tidak langsung, nantinya akan terkena juga dampak dari keputusan referendum Brexit ini. Perlu waspada. Salah satu tindakan manajemen risiko adalah memastikan komposisi aset investasi Anda, untuk saat ini, agar lebih didominasi aset yang relatif aman terhadap kemungkinan gejolak perekonomian. Setuju?

Pak AlfredAlfred Pakasi/Deputy Chairman of Vibiz Consulting Group, CEO of Vibiz Consulting/VMN/BL

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.