ICIJ: dari Wikileaks Cablegate hingga Panama Papers

(Business Lounge Journal – News and Insight) Kasus Panama Papers yang serentak mencuat di seluruh media Internasional pada Minggu (3/4) lalu, memang menggemparkan. The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) telah bekerja keras dengan lebih dari 350 jurnalis dari 80 negara dalam 25 bahasa secara diam-diam sejak awal tahun 2015 untuk mengungkap dokumen yang dimiliki sebuah firma hukum Mossack Fonseca yang bermarkas di Panama. Hal ini jugalah yang menyebabkan kasus ini disebut dengan Panama Papers. Mossack Fonseca telah menjadi sangat dikenal di kalangan para pemilik dana untuk membantu mendirikan perusahaan-perusahaan offshore (perusahaan yang berada pada yuridiksi bebas pajak) di seluruh dunia.

Banyaknya jumlah nama klien baik perseorangan maupun perusahaan yang tercantum pada dokumen yang bocor tersebut serta merta menjadikan kasus ini menjadi kasus penggelapan pajak yang terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan saja besarnya data yang mengungkap kegiatan perusahaan ini sejak tahun 1970-an hingga mencapai ukuran file sebesar 2.6 terabytes, terdiri dari 11,5 juta dokumen, dan merupakan informasi 214,000 perusahaan. Data ini sangat lengkap, setiap nama memiliki satu folder yang memiliki rincian data di dalamnya seperti email si klien, pdf file, foto, salinan passport, dan certificates. Data yang sangat besar ini pertama kali diterima oleh perusahaan media harian Jerman, Süddeutsche Zeitung yang kemudian melibatkan ICIJ untuk menanganinya. Maka semua pihak pun bekerja keras untuk mengidentifikasi nama demi nama termasuk upaya untuk mencari informasi kerabat para orang-orang terkenal dunia dan memastikan bilamana nama-nama tersebut juga ada pada dokumen.

Negara-negara seperti British Virgin Islands, Swiss, dan Panama memang sudah lama dikenal menjadi tax haven dan telah menjadi favorit di kalangan mereka yang ingin bebas pajak.

The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ)

Bukan baru pertama kali ini ICIJ melakukan investigasi. Rangkaian demi rangkaian investigasi pernah dilakukannya seperti Wikileaks Cablegate, Offshore Leaks, Lux Leaks, dan Swiss Leaks. Tetapi jika dibandingkan kasus-kasus sebelumnya yang pernah dibongkar, kasus Panama Papers ini memang adalah kasus yang paling besar.

ICIJ yang merupakan organisasi non profit bersifat global, terdiri dari 190 jurnalis pada lebih dari 65 negara. Organisasi ini berdiri sejak tahun 1997 dimotori oleh Chuck Lewis, jurnalis dari Amerika.

Wikileaks Cablegate

Peristiwa ini terjadi sekitar empat tahun lalu saat sejumlah 251.287 dokumen milik pemerintah Amerika bocor pada jurnalis yang kemudian dipublikasikan oleh Wikileaks secara sepihak. Dokumen-dokumen ini tergolong rahasia sebab meliputi data dan identitas informan internasional dan berbagai operasi penyamaran. Namun apa yang dilakukan wikileaks ini dianggap tidak bijaksana, dan keputusannya untuk mempublikasikan dokumen ini mendapatkan penentangan.

Offshore Leaks

Terjadi pada April 2013 saat terbongkarnya sejumlah 130,000 akun offshore. Mirip dengan Panama Paper, seorang jurnalis Jerman pada Maret 2012 diserahi sebuah harddisk yang berisi data penggelapan pajak saat berada di sebuah kantor di Washington.

Lux Leaks

Atau dikenal dengan Luxembourg Leaks terjadi pada November 2014, saat bocornya informasi rahasia yang mengakibatkan dilakukannya investigasi yang berdampak pada 300 perusahaan multinasional yang berbasis di Luxembourg. Pengungkapan ini membuat dunia menyoroti adanya praktik-praktik penghindaran pajak yang terjadi di Luxembourg.

Swiss Leaks

Masih seputar kasus penghindaran pajak yang dilakukan oleh nasabah bank swasta terbesar di dunia dengan menyimpannya di Swiss. Investigasi ini juga terjadi setelah terjadinya kebocoran data. Penyimpanan dilakukan berdasarkan nama pribadi dan kemudian sejumlah kompensasi harus dibayarkan kepada bank. ICIJ membutuhkan waktu sekitar 6 tahun untuk mempublikasikan hasilnya. Namun demikian peristiwa ini menggemparkan dunia perbankan global. Pemerintah beberapa negara pun meminta data lengkap terkait warganya yang memiliki simpanan di Swiss.

Selalu Blak-blakan

ICIJ memang selalu blak-blakan, bahkan ia menyediakan aplikasi pada webiste resminya, sehingga siapa saja dapat menuliskan sebuah nama untuk mengetahui adakah orang tersebut memiliki perusahaan baik di British Virgin Islands, the Cook Islands, atau Singapura. Namun data ini merupakan data sebelum tahun 2010 yang telah dideteksi oleh ICIJ lengkap beserta informasinya.

Sepak terjang ICIJ memang membuat pihak-pihak yang memiliki rahasia seputar perpajakan dan keuangan yang tidak transparan merasa tidak tenang, sebab suatu saat apa yang selama ini mereka tutupi dapat terbongkar. Hal ini memungkinkan mengingat kekuatan jurnalisme pada zaman seperti sekarang ini.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : flickr – Nicolas Raymond