Negara-negara Terhijau di Planet Ini

(Business Lounge Journal – News) Hasil dari sebuah pelaporan 2016 Environmental Performance Index yang diterbitkan di Yale ada 180 peringkat negara berdasarkan bagaimana mereka melindungi ekosistem dan kesehatan manusia.

Planet ini memang sudah berada dalam pengaruh manusia. Bagaimana bumi ini dapat teratur atau berantakan semuanya tergantung kepada manusia. Pemerintah negara-negara mulai memberikan perhatiannya pada masalah lingkungan hidup dan semakin banyak pemerintah memperhatikan seperti Climate Change Conference yang berlangsung tahun lalu di Paris telah menghasilkan komitmen dari 195 negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Pada dasarnya, hal ini akan menyelamatkan dunia.

Untuk itu, para peneliti universitas di Yale dan Columbia bersama dengan World Economic Forum telah menciptakan Environmental Performance Index (EPI) dua tahun sekali selama 15 tahun terakhir. Laporan ini memberikan peringkat global kinerja lingkungan untuk 180 negara dan langkah-langkah bagaimana yang mereka lakukan untuk melindungi ekosistem dan kesehatan manusia. Tujuannya adalah untuk menyediakan alat praktis bagi para pembuat kebijakan untuk lebih memahami dan meningkatkan kinerja negara-negara untuk mengatasi isu-isu lingkungan.

Iterasi terbaru, laporan 2016, menemukan bahwa telah terjadi peningkatan global dalam iklim dan energi, dampak kesehatan dan air serta sanitasi – yang merupakan berita besar. Di seluruh dunia, upaya memfokuskan untuk mengembangkan air minum bersih dan infrastruktur limbah telah secara dramatis mengurangi kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui air. Ini cukup luar biasa; sejak tahun 2000 jumlah orang yang tidak memiliki akses ke air bersih telah berkurang hampir setengah dari lebih satu miliar untuk 550 juta. Selain itu ada beberapa kemajuan yang juga membesarkan hati. Ada juga yang telah meningkatkan penekanan pada perlindungan habitat, dan banyak negara yang sekarang ini jauh dari target internasional untuk perlindungan habitat darat dan laut, demikian menurut laporan tersebut.

Di sisi lain, komunitas global memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan di daerah lain. Menurut laporan dari Yale tersebut, 23 persen negara memiliki nol pengolahan air limbah. Perikanan dunia berada dalam keadaan putus asa, dengan sebagian besar stok ikan “berisiko habis.” Polusi udara telah menjadi begitu buruk dan menjadi penyebab dari 10 persen angka kematian yang terjadi (dibandingkan dengan dua persen karena air yang tidak bersih). Sebuah statistik yang mencengangkan: Lebih dari 3,5 miliar orang – setengah dari orang di planet ini – tinggal di negara-negara dengan tingkat yang tidak aman dari polusi udara.

“Sementara banyak masalah lingkungan adalah hasil dari industrialisasi, temuan kami menunjukkan bahwa baik negara-negara miskin dan kaya menderita polusi udara yang serius,” demikian dikatakan Angel Hsu, Asisten Profesor di Yale-NUS College dan Yale School of Forestry & Environmental Studies (F & ES) dan penulis utama laporan tersebut. “The EPI menunjukkan bahwa fokus, upaya global yang terkoordinasi yang penting untuk membuat kemajuan pada tujuan global dan untuk menyelamatkan nyawa.”

Berada di peringkat pertama sebagai negara dengan skor 90,68 untuk bidang Kesehatan, Air dan Sanitasi, dan Keanekaragaman Hayati dan Habitat. Berikut adalah 10 besar negara yang terhijau beserta dengan skor yang diperolehnya:

1. Finlandia (90,68)
2. Islandia (90,51)
3. Swedia (90,43)
4. Denmark (89,21)
5. Slovenia (88,98)
6. Spanyol (88,91)
7. Portugal (88,63)
8. Estonia (88,59)
9. Malta (88,48)
10. Prancis (88,20)

Amerika Serikat berada di nomor 26 dengan skor 84,72. Sedangkan Indonesia di peringkat ke-107 dengan skor 65.85. Apakah yang membuat peringkat Indonesia rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya? Beberapa hal yang memperoleh skor kurang baik seperti sumber air, hutan, dan stok ikan.

Karena itu EPI mengirimkan sinyal yang jelas kepada para pembuat kebijakan untuk dapat menangani keadaan lingkungan hidup mereka dan EPI pun memberikan data untuk mengembangkan solusi untuk tantangan mendesak yang dunia hadapi.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image :  wikipedia