Rencana Suksesi Kepemimpinan Dalam Bisnis Keluarga

(Business Lounge Journal – Manage Your Business) Saya memiliki pengalaman berkenalan dengan seorang ibu pemilik bisnis keluarga tekstil tradisional yang menyekolahkan anaknya ke Jerman untuk belajar tentang tekstil dengan harapan akan menjadi penerus bisnisnya. Sang anak pulang dari Jerman malahan tidak tertarik dengan bisnis tekstil, dia memilih untuk menjadi tuan tanah yang bisa dengan cepat mendapatkan keuntungan. Sang ibu tidak putus asa, ia pun menaruh harap pada anak laki-lakinya yang kedua yang ternyata juga kurang tertarik dengan urusan bisnis dan memilih untuk menjadi biksu saja di Myanmar. Anak laki-lakinya yang ketiga – yang paling kecil adalah seorang mahasiswa yang sedang belajar keuangan di Amerika dan ibu ini mengharapkan kembali supaya bisnis keluarga ini dapat diteruskan olehnya. Namun sang anak pulang dari Amerika lebih tertarik membangun bisnis perhotelan sendiri. Bisnis tekstil ibu ini ditawarkan kepada saya, dan harapannya adalah bisnis ini menjadi bisnis sosial yang berguna bagi masyarakat. Inilah sepenggal cerita tentang kegagalan bisnis keluarga mencari pemimpin pengganti pendiri perusahaan.

Saya juga pernah menyaksikan bagaimana seorang pemilik perusahaan perabotan rumah membagi bisnisnya di depan saya. Sang ayah berkata “untuk anak saya yang laki-laki saya serahkan bisnis retail saya, anak perempuan saya tertua membangun pabriknya, dan anak perempuan saya yang paling kecil bisnis properti saya.” Sesudah selesai diskusi keluarga, sang ayah meminta saya untuk mendampingi ketiga anaknya, dan saya mencoba menyusunkan rencana bisnis ke depan, namun di luar pertemuan, salah satu anaknya mengatakan tidak memerlukan rencana bisnis dan mau jalan sendiri. Rencana bisnis keluarga pun terkatung-katung hingga sekarang dan suksesi untuk kepemimpinan bisnis masih belum jelas.

Cerita lain, bagaimana saya menyaksikan sang ayah dalam proses rencana suksesi perusahaan mewajibkan semua anaknya hadir pada setiap kesempatan untuk pertemuan. Wajah sang anak yang hadir nampak tidak suka, dan terpaksa mengikutinya dan sesekali sang ayah menegor anaknya untuk memperhatikan pembicaraan. Di luar pertemuan sang anak, tertawa-tawa bergurau tentang sikap sang ayah yang tidak bisa dilawan. Saya melihat bahwa sang ayah belum mendapatkan pemimpin pengganti dirinya, dan masih perlu waktu untuk ia berhenti dari bisnis, padahal usianya sudah lebih dari enam puluh tahun.

Saya teringat juga seorang pemilik perusahaan yang mendidik anaknya untuk meneruskan kepemimpinan sejak dia masih punya waktu. Sang anak yang masih muda, merasa takut dan tidak percaya diri. Namun dengan perhatian dan dorongan sang ayah akhirnya berhasil mulai berani dan siap menggantikan kepemimpinannya.

Dari beberapa pengalaman saya tersebut, pergantian kepemimpinan atau rencana sukseksi yang gagal dapat menyebabkan runtuhnya bisnis keluarga. Terkait dengan dimensi transformasi visi dalam bisnis keluarga yang bertumbuh, suksesi kepemimpinan bisnis keluarga memerlukan pemupukan sejak dini. Melatih anggota keluarga untuk memimpin sejak dini, setelah mereka mengerti visi yang akan dicapai oleh sang pendiri akan mengurangi kesenjangan kepemimpinan.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BD/MP Business Advisory Division, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group