Kewirausahaan: Sekedar Tren atau Memberikan Pengaruh terhadap Perekonomian?

(Business Lounge Journal – Manage Your Business) Dua pekan lalu, kami sudah membahas empat peran entrepreneurship dalam perekonomian nasional. (Baca: Kewirausahaan: Sekedar Tren atau Memberikan Pengaruh terhadap Perekonomian?). Empat peran tersebut adalah menggalang pembentukan modal, menciptakan lapangan kerja, memecah konsentrasi kekuatan ekonomi, dan mengoreksi sistem bisnis.

Kali ini kami akan membahas beberapa peran lain yang dimainkan para pengusaha dalam perekonomian nasional dan bahkan internasional. Apa saja peran-peran tersebut?

Meningkatkan Standar Hidup Masyarakat. Pada masa lalu, jika ingin mengetahui kabar kerabat, orang tua atau kekasih yang tinggal di tempat yang jauh, kita melakukannya dengan berkirim surat. Waktunya bisa berhari-hari, bahkan bisa berminggu-minggu.

Beruntung dunia menganugerahkan Alexander Graham Bell kepada kita. Berkat penemuannya, telepon, kita tak perlu lagi menunggu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk menyampaikan kabar penting atau rasa rindu dengan kekasih. Dengan adanya telepon, kita bisa langsung berkomunikasi dengan pihak nun jauh di sana.

Tapi, teknologi terus berkembang. Peran pesawat telepon tetap (fixed phone) yang ditemukan Bell kini kian berkurang penggunanya, karena digantikan oleh telepon selular (ponsel). Dengan adanya ponsel, jika ingin menelepon, kita tak perlu lagi menghampiri pesawat telepon yang ada di meja. Sebab, semuanya ada dalam genggaman.

Dengan semakin canggihnya ponsel, kini kita tak memerlukan lagi buku agenda. Semua bisa dicatat melalui aplikasi memo di ponsel, atau aplikasi lainnya. Dulu kalau bingung mencari jalan di Jakarta dan sekitarnya, kita membuka buku peta buatan Gunther W. Holtorf. Kini ada Google Maps. Bahkan ada Waze, aplikasi yang bukan hanya menampilkan peta, tetapi juga memberikan petunjuk arah, termasuk jalur-jalur jalan mana saja yang macet. Semua aplikasi itu ada di ponsel pintar kita.

Meningkatkan Ekspor. Para pengusaha manufaktur di Tiongkok memulai bisnisnya dengan mendatangkan produk dari luar, bongkar, pelajari, tiru dan modifikasi. Banyak pemilik merek di luar negeri yang geram dengan perilaku para pengusaha Tiongkok, tapi mereka tidak peduli.

Mulanya produk–produk itu mereka jadikan sebagai substitusi impor dengan pasar dalam negeri sebagai tempat uji coba. Namun, dengan skema bongkar, pelajari, tiru, dan modifikasi, para pengusaha manufaktur dan industri di Tiongkok terus menyempurnakan produknya. Setelah produknya jauh lebih baik, Tiongkok pun masuk ke pasar ekspor.

Berkat peran para pengusaha, ekspor kini jadi mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Ekspor negeri itu kini sudah melampaui impornya. Misalnya, sampai Agustus 2015, nilai ekspor produk Tiongkok mencapai USD196,88 miliar, sementara impornya USD136,65 miliar.

Kita adalah saksi mata kejayaan ekspor Tiongkok. Cobalah masuk ke pasar atau gerai-gerai penjualan barang. Di sana kita pasti akan dengan mudah menemukan produk buatan Tiongkok.

Merangsang Inovasi dan Perkembangan Teknologi. Pada masanya bisnis roti sudah penuh sesak dengan berbagai merek. Maka, ketika pengusaha salon, Johnny Andrean, ingin masuk ke bisnis ini, ia harus menawarkan sesuatu yang lebih. Apa itu?

BreadTalk, sesuai namanya, menjadi pembicaraan bukan hanya karena rasa rotinya yang khas, tetapi berkat sistem open kitchen-nya. Biasanya dalam banyak bisnis, dapur adalah sesuatu yang disembunyikan. Itu sebabnya muncul istilah “rahasia dapur”. Mungkin karena pemandangan di dapur yang kotor dan serba berantakan. Johnny Andrean tidak. Ia malah menjadikan proses pembuatan roti di dapur sebagai tontonan. Itulah inovasi yang ia tawarkan dan membuat bisnis BreadTalk berkembang di mana-mana.

Meningkatkan Perimbangan Pembangunan Daerah. Kita mengenal banyak pengusaha yang bermula dari daerah. Setelah bisnisnya berkembang, baru mereka masuk ke Jakarta. Di Indonesia, misalnya, para pengusaha rokok dan jamu ternama semuanya berangkat dari daerah. Djarum dari Kudus, Gudang Garam dari Kediri, atau Sampoerna dari Surabaya, dan Bentoel dari Malang.

Kehadiran mereka di daerah bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menyeimbangkan laju pembangunan antara pusat dan daerah. Sampai sekarang, meski sebagian besar mereka sudah memiliki kantor perwakilan, atau bahkan berkantor pusat di Jakarta, pusat-pusat produksinya masih tetap ada di daerah.

Dari uraian tersebut, kita bisa melihat fenomena hadirnya pengusaha-pengusaha baru dan semangat entrepreneurship-nya bukan hanya sekadar tren, tetapi mereka memang memainkan peranan penting dalam perekonomian nasional. Bentuknya beragam. Bisa berupa meningkatkan penerimaan pajak, baik di pusat atau daerah, mendorong inovasi, hingga ke penciptaan lapangan kerja.

Maka, kita perlu terus mendorong lahir-lahirnya pengusaha-pengusaha baru melalui penciptaan iklim bisnis yang kondusif. Di antaranya, kemudahan dalam berbisnis, termasuk perizinan dan permodalan.

Tyas Seputro, JB Soesetiyo/VMN/BL/Podomoro University
Editor: Ruth Berliana
Image : Business Lounge Journal