Leadership Tips: Belajar dari Kebiasaan para Militer

(Business Lounge Journal – Lead and Follow) Kepemimpinan militer sering kali menjadi contoh yang dipandang kurang enak, dipandang otoriter, tidak ada toleransi, bahkan kerap kali mengundang komentar-komentar yang kurang sedap di telinga.

Namun apakah demikian? Tidak juga. Ada beberapa hal yang dapat Anda adopsi dan Anda terapkan dalam memimpin tim Anda. Salah satunya apa yang berlaku pada kemiliteran Amerika, bagaimana ada kata-kata yang tidak boleh dilontarkan sebagai anggota kemiliteran. Jika Anda dapat membangun sebuah budaya kerja yang menerapkan hal ini, Anda akan melihat bagaimana produktifnya tim Anda. Berikut beberapa kata yang dapat Anda hapuskan dari tim Anda.

1. “Saya tidak sanggup melakukannya.”

Bangunlah selalu pemikiran yang positif pada tim Anda, bahwa semua anggota memiliki kesanggupan untuk melakukan hal-hal yang dipercayakan kepadanya. Daripada mengatakan saya tidak sanggup, lebih baik mengatakan saya akan melakukkanya. Masalah hasil? Itu dapat dibicarakan kemudian.

2. “Maaf saya terlambat.”

Para anggota militer memang paling dikenal kedisiplinannya. Ciptakanlah dunia disipin. Bukan berarti tidak ada waktu beristirahat atau bercengkrama. Bekerjalah pada waktu bekerja, hadirlah pada saat rapat, dan beristirahatlah pada waktu beristirahat. Terkadang keterlambatan terjadi karena tidak dapat me-manage waktu dengan baik.

3. “Saya tidak tahu.”

Kata “tidak tahu” dapat saja memiliki kesamaan dengan “tidak mau tahu”. Bangunlah rasa peduli dan ingin tahu yang positif di antara sesama anggota tim. Cobalah untuk mengatakan, “Saya belum tahu, tapi saya akan mencari tahu dan menghubungi Anda kembali.”

4. “Saya akan menghubungi HR.”

Saya termasuk sering mengidentifikasi mereka yang selalu menghubungi HR untuk masalah-masalah internal tim yang sebenarnya dapat dipecahkan sendiri. Orang-orang seperti ini cenderung ingin melemparkan tanggung jawabnya. Tidak mau mengambil risiko untuk mendapatkan jalan keluar maka memilih untuk melibatkan HR yang dipandang lebih dapat direpoti.

5. “Maaf saya menyakiti perasaan Anda.”

Walaupun tidak semua budaya militer sama, tetapi membawa perasaan adalah hal yang tidak dilakukan seorang anggota militer. Penting untuk tidak bersikap sensitif dalam pekerjaan kantor. Sepanjang Anda memang tidak melakukan hal-hal di luar batas norma-norma, maka yakinlah bahwa Anda tidak akan menyinggung perasaan siapa pun juga. Sebaliknya, penting bagi Anda untuk membangun budaya “tidak sensitif” di lingkungan Anda. Ya, memang lain kepala lain pemikirannya. Namun bukankah budaya dapat ditumbuhkan?

6. “Mari kita bicarakan hal ini.”

Anggota militer pada umumnya akan hidup dalam sebuah persahabatan. Mereka tinggal bersama, makan bersama, berjuang bersama, atau bahkan berperang bersama. Mereka tidak akan meminta ijin untuk membicarakan sesuatu, melainkan dengan otomatis mereka akan membicarakan apa saja yang perlu dibicarakan bahkan permasalahan yang perlu diselesaikan di antara mereka. Bagi mereka menekan ego telah sering dilakukan demi sebuah persahabatan.

7. “Jangan hubungi saya.”

Ciptakanlah budaya untuk selalu mau membantu. Jangan pernah menolak untuk dihubungi atau tidak mau diganggu. Penting untuk menyadari bahwa hari ini Anda dimintakan bantuan, esok hari mungkin Anda yang akan membutuhkan bantuan.

8. “Mari kita menunda masalah ini sampai pertemuan berikutnya.”

Penting untuk tidak menunda memecahkan permasalahan. Menunda hanya akan membuat permasalahan bertambah besar. Sedapat mungkin carilah jalan keluar secara bersama-sama.

Cobalah identifikasi kalimat apa yang sering kali diucapkan anggota tim Anda yang memiliki maksud yang negatif, dan mulailah membangun sebuah budaya yang positif.

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/MP Human Capital Development, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group