Media Sosial, Para Talent, dan Pengembangannya

(Business Lounge Journal – Empower People) Apakah Anda berupaya untuk mendapatkan para talent terbaik? Sudah waktunya untuk Anda memperbaiki keterampilan media sosial Anda.

Sampai hari ini, apa yang disebut dengan perang bakat belum lagi berakhir, namun telah terjadi perubahan dalam ruang lingkupnya. Edward Lawler, direktur Center for Effective Organizations and Distinguished Professor of Business dari University of Southern California dalam wawancaranya dengan Ernst & Young memberikan pandangannya tentang masa depan talent management dan dampak teknologi pada fungsi SDM (Sumber Daya Manusia). Menurut Lawler, walaupun istilah talent management tidak sering terdengar sekarang ini, namun hal itu bukan berarti perang talent sudah berakhir. Hal ini sangat tergantung pada industrinya. Salah satu perang talent yang terus berlangsung adalah pada dunia teknologi, seperti yang terjadi khususnya di kalangan perusahaan Silicon Valley, yaitu bagaimana caranya untuk memperebutkan para talent.

Selama lima tahun terakhir, perusahaan-perusahaan AS telah berusaha untuk mendapatkan produktivitas dari tenaga kerja yang ada. Sehingga mereka menghindari merekrut atau setidaknya menambahkan sejumlah besar karyawan, ketika mencoba untuk mengembangkan bisnis mereka pada waktu yang sama. Dalam beberapa hal, perusahaan-perusahaan ini telah cukup berhasil dan ini telah muncul dalam pendapatan yang lebih baik untuk banyak perusahaan. Banyak dari mereka telah menemukan bahwa mereka dapat meningkatkan produksi dan pendapatan mereka dengan mengubah praktek manajemen mereka tanpa secara signifikan meningkatkan biaya tenaga kerja mereka.

Dampak Media Sosial pada Fungsi SDM Guna Mempertahankan para Talent.

Di zaman internet sekarang ini maka peranan media sosial juga sangat terasa dalam dunia SDM. Banyak perusahaan dan profesional HR telah menghabiskan banyak waktu berpikir tentang bagaimana menanggapi media sosial, untuk dapat menarik para talent dan juga dalam hal kebijakan untuk menggunakan media sosial di tempat kerja. Hingga kini beberapa perusahaan memberikan kebebasan bagi karyawannya untuk dapat mengakses media sosial dari tempat kerja serta mengkaitkan bagaimana media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan karyawannya.

Mungkin perusahaan belum tentu merasa penting untuk menggunakan media sosial, tetapi tidak ada pilihan lain, sebab generasi saat ini tidak lagi dapat dipisahkan dari sosial media. Sehingga menjadi bagian dari media sosial adalah sebuah strategi untuk memikat para talent.

Talent Management dan Masalah Kurangnya Data

Menurut Lawler, perang talent belum berakhir, tetapi telah berubah dalam lingkup. Perlu disadari bahwa perusahaan yang bergerak maju melakukan cukup banyak analisis sekitar seleksi dan proses rekrutmen, serta pergantian staf untuk mencari tahu apakah mereka bisa mengidentifikasi apa yang terjadi dengan tenaga kerja mereka. Namun permasalahan yang sering kali timbul bagi orang-orang SDM yang mengelola talent, adalah kurangnya angka dan kurangnya data untuk dapat dianalisa. Selain itu juga diperlukan fungsi SDM yang dapat menganalisa. Namun bukannya berarti hal ini tidak mungkin ditambahkan.

Membutuhkan Dukungan Pemimpin

Oleh karena pekerjaan menjadi lebih berbasis pengetahuan, dan sebagaimana perusahaan memiliki lebih banyak karyawan yang berfokus pada diri sendiri, maka dibutuhkan kepemimpinan yang berbeda. Hal ini juga membuat kepemimpinan menjadi lebih penting karena Anda perlu untuk menggantikan struktur dan tugas kerja yang tidak lagi ketat. Kepemimpinan adalah penting untuk mengarahkan perilaku masyarakat dan memastikan bahwa mereka tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dan termotivasi untuk melakukannya.

Apakah perusahaan masih melihatnya sebagai tanggung jawab mereka untuk mengembangkan tenaga kerjanya seperti yang mereka lakukan di masa lalu? Untuk hal ini, terjadi suatu perubahan oleh karena semakin banyak tanggung jawab ditempatkan pada individu untuk pengembangan pribadi. Hal ini disebabkan perusahaan harus memiliki perhitungan yang yang sangat ketat untuk mengembangkan tenaga kerja mereka. Selain itu adanya pandangan bahwa semakin berkualitas karyawan mereka, semakin besar kemungkinan mereka mencari kesempatan bergabung dengan organisasi lain. Berurusan dengan persepsi ini dan melakukan pelatihan yang tepat merupakan prioritas penting untuk fungsi HR dalam perusahaan.

Namun menurut Lawler kurangnya investasi pada talent memiliki konsekuensi ekonomi yang lebih luas dan akan tidak hanya akan berdampak kepada perusahaan namun juga akan menimbulkan kesulitan bagi negaranya untuk bersaing. Hingga kini, hal itu terus diperdebatkan tentang bagaimana pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang berharga dan bagaimana mengukur manfaatnya bagi masyarakat.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Business Lounge Journal