(Business Lounge Journal – News and Insight) Bulan lalu Bank Dunia menerbitkan perkiraan kemiskinan global yang baru. Mereka mengkonfirmasi bahwa 25 tahun terakhir merepresentasikan sejarah kemajuan manusia. Target untuk memotong tingkat kemiskinan secara ekstrim yaitu lebih dari setengah selama periode ini dicapai tujuh tahun lebih cepat dari perkiraan. Dibandingkan angka awal maka nampak telah terjadi penurunan lebih dari 70 persen. Ke depannya, sebuah tujuan baru untuk memberantas kemiskinan secara ekstrim selama 15 tahun ke depan telah disahkan oleh PBB. Untuk memahami bagaimana hal ini bisa dicapai, pertama kita harus mengakui bahwa kehidupan orang miskin secara fundamental telah berubah. Hal ini tidak lain dan tidak bukan oleh karena dipengaruhi oleh koneksi yang dimungkinkan oleh jaringan digital (digital networks), demikian seperti dilansir olehwired.

Setiap tahun sekitar 60 juta orang, setara dengan penduduk Inggris, melihat kenaikan pendapatan mereka di atas garis kemiskinan global USD 1,90 per hari atau sekitar 27 ribu rupiah. Mengesankan meskipun tren ini masih terbilang kecil. Namun jumlah orang di seluruh dunia tersebut berdampak pada kepemilikan ponsel, rekening bank, kartu identifikasi biometrik, dan akses online yang masing-masing telah meningkat sejumlah 200 juta hingga 300 juta setiap tahunnya atau hampir sebanyak jumlah penduduk Amerika. Teknologi sedang diadopsi dengan kecepatan untuk mencapai mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, yaitu dengan memberi jalan masuk bagi golongan tersebut ke jaringan formal untuk berkomunikasi, untuk bertransaksi, dan akses layanan keuangan dasar, untuk mendapatkan informasi, dan berbagai layanan bermfaat lainnya.

Mereka yang miskin secara tradisional hidup terpinggirkan dan memiliki koneksi yang terbatas dengan orang lain, pasar, dan pemerintah. Namun saat memasukkan mereka ke dalam jaringan resmi maka hal ini sama saja menghilangkan batasan-batasan dan menimbulkan kemungkinan baru untuk pengurangan kemiskinan. Orang miskin lebih mampu menavigasi cara mereka sendiri keluar dari kemiskinan ketika mereka memiliki akses yang lebih besar ke pasar dan informasi dan dapat menegaskan identitas mereka. Selain itu, pemerintah, badan amal, dan donor internasional lebih mampu menargetkan mereka yan miskin dan menentukan kebutuhan mereka, meningkatkan lingkupan program anti-kemiskinan yang diharapkan untuk dicapai.

Digital vs Analog

Dunia digital telah menghadirkan jaringan ponsel, jaringan perbankan, jaringan identifikasi, dan jaringan online yang memberikan keuntungan. Hal ini membuat mereka mampu mencapai sudut terjauh dunia berdasarkan biaya marjinal yang rendah. Sebagai perbandingan, penetrasi global jaringan analog seperti listrik dan air masih jauh dari kata ‘rampung’ walaupun telah lebih dari satu abad setelah peluncurannya, padahal biaya yang dikeluarkan cukup mahal untuk menghubungkan warga terpencil.

Jaringan digital juga dapat memberdayakan masyarakat miskin karena data yang mereka hasilkan, baik melalui daftar panggilan telepon, kebiasaan browsing, atau transaksi bank, merupakan aset berharga yang dapat dimanfaatkan. Data ini dapat digunakan dalam berbagai cara, dari sinyal preferensi untuk perusahaan ritel untuk menunjukkan kelayakan kredit. Jaringan digital dan teknologi juga dapat menyajikan berbagai layanan tambahan, seperti penyebaran peringatan kesehatan masyarakat melalui SMS, dan pembentukan jaringan baru, seperti ruang kelas virtual online, yang semuanya ini memberikan manfaat dan pilihan bagi mereka yang miskin.

Sementara jaringan digital yang berkembang pesat, mereka masih jauh dari menjadi universal, namuan penggalian manfaat penuh dari jaringan digital kembali lagi akan tergantung pada kebijakan dan cerdas dan regulasi.

nancy/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published.