(Business Lounge Journal – News and Insight) Perlahan tetapi pasti, kabut asap pun semakin dapat diatasi. Hari-hari ini pun semua gembira menyambut hujan yang datang hampir secara merata di kota-kota di Indonesia dan langit pun mulai cerah di beberapa kota di Kalimantan. Namun di Sumatera, kabut asap masih ada hingga hari ini. Dengan kata lain, kabut asap ini masih mengancam kesehatan masyarakat.

Pencemaran Udara

Sebenarnya seberapa mengganggukah kabut asap terhadap kesehatan kita? Dalam kondisi normal tanpa kabut asap, sesungguhnya udara kita telah tercemar dengan partikel-partikel kecil. Partikel-partikel kecil di udara tercemar ini dapat meningkatkan risiko kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas). Apalagi jika orang melakukan olahraga di luar ruangan, semakin tinggi resiko bagi jantung pembuluh darah dan paru.

Kabut asap memiliki partikel halus yang terdiri dari bahan-bahan yang terbakar, selain juga uap hasil pembakaran yang mengandung konsentrasi karbon yang tinggi serta mengandung kuman. Semakin dekat tempat tinggal seseorang dengan lokasi kebakaran hutan berarti konsentrasi partikel juga semakin tinggi.

Di beberapa kota jarak pandang menjadi semakin pendek akibat pekatnya kabut asap.

Paparan tingkat yang lebih tinggi dari partikel halus ketika berjalan di daerah lalu lintas berat juga membuat penderita asma semakin menderita dan meningkatkan kemungkinan kematian sel jantung pada individu yang berisiko tinggi. Penelitan terhadap partikel halus dan dampaknya terhadap jantung paru pernah dilakukan di Inggris pada tahun 2004 dan 2007.

Polusi udara partikulat halus (≤2.5 pM diameter) dapat menimbulkan penyakit pada jantung paru yang dapat menimbulkan kematian. Selain memperberat asma, paru juga dapat terkena bronkhitis, PPOK. Kabut asap yang berlangsung lama dapat menimbulkan dampak penurunan kognitif.

Efek Terhadap Tubuh

Berikut ini adalah bagian tubuh yang dapat terkena efek dari kabut asap berupa reaksi alergi, infeksi dan peradangan, yaitu:

  1. Mata
  2. Hidung
  3. Tenggorokan
  4. Paru
  5. Jantung
  6. Otak (penurunan kognitif)
  7. Sistem Imunitas (daya tahan tubuh menurun khususnya pada bagi lansia dan anak-anak.

Di samping itu tentu saja sarana air bersih dan makanan menjadi tercemar juga, tidak dapat terlindungi. Kualitas bahan makanan dari alam pasti akan menurun, tidak ada tanaman yang dapat bertahan hidup di udara yang terpolusi. Begitu pula pasti akan berdampak terhadap ternak dan unggas yang terpaksa juga harus menghirup kabut asap. Dapat dibayangkan mereka pun juga akan terkena infeksi paru dan sebagainya.

Secara keseluruhan, kualitas hidup daerah-daerah yang terkena kabut asap semakin menurun dari sehari ke sehari. Masyarakat yang tidak mampu berbuat apa-apa menjadi korban dari keganasan kabut asap yang dapat membunuh secara perlahan.

Kita harapkan saja sebagai bagian dari bangsa Indonesia agar kabut asap ini segera dapat berakhir.

Vera Herlina/VMN/BL/CEO of Management Soft Skill Academies Vibiz Consulting Group
Editor: Ruth Berliana
Image: Antara

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.