Kendala Logistik, Para E-commerce India pun Menunggu Untung

(Business Lounge Journal – Global View) Untuk saat ini, para pelaku e-commerce di India sangat tergantung pada para konsumen rumahan yang membeli barang-barang dari toko online secara satuan. Hal ini tidak hanya berlaku pada kota yang sama bahkan antar kota. Seperti diceritakan oleh WSJ bagaimana seorang wanita di bagian selatan India memesan sebuah baju sari dari seorang pedagang online di sebelah barat India. Untuk mengirimkannya baju sari tersebut harus menempuh waktu perjalanan 3 hari, melibatkan 30 orang, dibawa dengan truk yang berjalan sepanjang dua malam, penerbangan jarak jauh hingga kemudian dibawa oleh sepeda motor hingga tiba di depan rumahnya. Tidak hanya itu, pengiriman barang ini pun akan menemui banyak hambatan di perjalanan seperti jalan rusak, truk yang kondisinya buruk, banjir, angin, bandara yang penuh sesak, dan peraturan pajak yang rumit. Sebuah perjalanan yang kompleks dan mahal. Membutuhkan biaya hingga hampir seperempat harga baju sari yang dibeli. Walau demikian sebenarnya jika dihitung maka uang yang diperoleh dari hasil penjualan baju sari tersebut tidak akan cukup untuk membayar upah karyawan, menyewa kantor, dan biaya-biaya lainnya. Itulah sebabnya banyak pelaku e-commerce di India memerlukan dukungan investor untuk tetap bertahan.

Tantangan Para Pelaku E-commerce di India

Hal ini pun dialami oleh banyak pelaku e-commerce lainnya. Banyak startups e-commerce India menghabiskan sebanyak 30% dari penjualan bersih mereka untuk logistik, demikian menurut perusahaan konsultan Technopak yang berbasis di New Delhi. Jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan Amazon di AS pada tahun lalu maka biaya logistik di India lebih besar 11,7%,  demikian seperti dilansir oleh WSJ. Sedangkan bila dibandingkan dengan biaya logistik di Tiongkok, raksasa e-commerce Alibaba Group Holding Ltd tidak menanggung biaya pengiriman apapun, sebab biaya tersebut ditanggungkan kepada pedagang dan pembeli.

Itulah sebabnya usaha binis e-commerce di India banyak membutuhkan suntikan dana dari para  venture capitalists yang juga sedang mencari “Alibaba” di India seperti yang sudah dialami oleh pemain-pemain e-commerce dari India sebelumnya seperti Flipkart Internet Pvt atau Jasper Infotech Pvt. Amazon pun berencana untuk berinvestasi sebesar USD 2 miliar untuk melakukan ekspansi ke India. Seperti dilansir oleh WSJ, Amazon sudah memperhitungkan medan yang akan ditemuinya di India dengan tetap memberikan harga yang miring untuk penjualan sebuah smartphone juga barang-barang elektronik lainnya guna mendapatkan pelanggan di negara anak benua ini.

Mengapa India?

India belum pernah mengalami ledakan e-commerce seperti yang dialami Tiongkok. Sebagai perbandingan, pada tahun 2007 menurut data Credit Suisse Group AG, penjualan e-commerce di Tiongkok mencapai USD 7 miliar. Sedangkan pada tahun lalu, pasar e-commerce di Tiongkok mencapai USD 458 miliar atau melonjak sebesar 65 kali lipat selama 7 tahun. Sebuah angka yang fantastis. Bagaimana dengan India. Pasar e-commerce India saat ini bernilai USD 4 miliar dan masih dapat meningkat mengingat jumlah penduduk India yang mencapai lebih dari 1 miliar. Namun bukan berarti tanpa kendala sebab menurut laporan yang dikeluarkan oleh McKinsey & Co, hampir 85% penduduk India belum memiliki akses internet pada tahun 2013. Tetapi pasar India merupakan bagian yang menantang pada masa depan.

Suntikan Dana untuk Keuntungan di Masa Datang

Mengirimkan barang lewat pasar e-commerce dengan harga yang tetap murah setelah melintasi beberapa kota, dengan menumpangi beberapa transportasi, dan melibatkan beberapa orang memang sesuatu yang tidak masuk akal. Namun demikian kenyataannya, seperti dilansir oleh WSJ, Delhivery sebuah perusahaan logistik di India mengatakan bahwa 20% dari barang yang dikirimkannya bersumber dari perdagangan e-commerce. Hal ini menunjukkan bahwa pengiriman dengan menggunakan pesawat tetap menjadi populer padahal biaya perjalanannya tentu akan lebih mahal. Namun apakah hal itu menguntungkan bagi para pelaku e-commerce? Belum tentu, tetapi di sinilah dibutuhkan peranan para investor yang dapat memandang jauh ke depan.

Torent sebagai salah satu investor di India diakui mulai melambat dan mulai me-review bilamana para pelaku e-commerce dapat mulai menguntung, demikian seperti dilansir oleh WSJ. Padahal para startup di India belum diharapkan dapat segera mendulang keuntungan. Bukankah Amazon baru dapat menikmati keuntungannya setelah 20 tahun? Flipkart Internet Pvt telah memperkirakan bahwa perusahaan akan mulai mendapatkan keuntungan pada tahun 2017. Sedangkan Snapdeal, e-commerce di India memprediksi akan mulai menguntung pada 2-3 tahun ke depan.

Menaikkan Harga dan Kehilangan Pelanggan?

Para investor tentu saja berharap para pelaku e-commerce yang mereka danai dapat segera menguntung. Itulah sebabnya harus dipikirkan permainan harga untuk memperoleh keuntungan. Menaikkan marjin produk untuk mengkomidir harga logistik tentu akan berdampak kepada berpalingnya para konsumen. Pertimbangan lain adalah bermain dengan kuantiti atau mengganti cara pengiriman barang dengan memilih cara lain daripada jasa pengiriman udara. Para pelaku e-commerce India harus menemukan sebuah pola bisnis yang pas untuk dapat segera mendulang keuntungan.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Business Lounge Journal