Berbisnis Chai di India Mungkinkah Mengikuti Kejayaan Starbucks?

(Business Lounge – Manage Your Business) Baru-baru ini, Bloomberg memuat hasil research yang dilakukan oleh Euromonitor International mengenai perbandingan jumlah konsumsi teh untuk Turki, Irlandia, Kuwait, UK, Pakistan, Russia, dan India untuk tahun 2014. Dari ke-7 negara tersebut maka Turki menduduki tempat yang pertama dengan jumlah konsumsi mencapai 3kg teh per kapita. Irlandia berada di tempat kedua dengan mengkonsumsi 2,1 kg per kapita. Perbedaan yang cukup jauh dengan Turki. Sedangkan di antarake-7 negara tersebut, India memiliki jumlah konsumsi teh yang paling rendah yaitu sekitar 0,3 kg per kapita. Sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Jeli Melihat Kesempatan Berbisnis

India memang tidak memiliki kebiasaan minum teh. Namun jika melihat data konsumsi teh pada tahun-tahun sebelumnya, maka nampak terjadi kenaikan sejak tahun 2007 hingga tahun 2014 yang mencapai  sekitar 20%. Apalagi saat ini India sedang keranjingan ramuan minuman baru yang menggabungkan teh manis dan susu yang disebut chai. Hal ini serta merta menggerakkan para pengusaha untuk mulai membangun rumah-rumah teh. Hal seperti ini pernah terjadi ketika kopi masuk ke India dan membuat sebuah revolusi selama 15 tahun yang akhirnya membawa starbucks masuk ke India pada tahun 2012.

Namun kelihatannya teh memiliki kesempatan yang lebih besar daripada kopi karena perbandingan konsumsi teh dan kopi adalah 30 cangkir berbanding 1 cangkir, demikian dikatakan seorang pemilik gerai teh dengan 12 cabang di dan sekitar New Delhi seperti dilansir oleh Bloomberg. Euromonitor International juga menunjukkan data belanja teh per kapita di negara kedua terpadat dunia ini mencapai USD 1,7 per tahun pada tahun 2014, dibandingkan USD 18 di Inggris, menunjukkan adanya potensi untuk berkembangnya bisnis minuman versi premium.

Fokus kepada yang Sudah Populer

Belajar dari kesuksesan Starbucks bagaimana perusahaan kopi tersebut menjadikan minuman yang memang sudah populer di Amerika tersebut sebagai komoditinya hanya dengan cara yang lebih baik, maka para pengusaha India pun dapat berpikir untuk menjual chai yang sudah lebih bagian dari budaya India guna mengikuti keberhasilan Starbucks. Tetapi memang teh yang ditawarkan pun harus semakin tinggi kualitasnya terutama untuk mereka yang berada di kelas menengah ke atas.

Meskipun penduduk India mengkonsumsi teh dalam jumlah yang kecil, namun jika digabungkan secara total maka tingkat konsumsi negara terbesar kedua di dunia ini pun mencapai terbanyak kedua setelah Tiongkok karena jumlah penduduknya semata-mata. Sehingga berbisnis chai dapat menjadi peluang yang sangat baik. Tetapi memang belum ada jaminan bahwa membuka gerai-gerai teh baru akan membawa teh dapat menyaingi Starbucks. Diperlukan value proposition yang lebih baik.

Daerah-daerah yang ditargetkan adalah lingkungan anak-anak muda yang mempunyai daya beli dan menyukai aktivitas nongkrong. Tantangan terbesar untuk bisnis ini akan dalam memilih lokasi yang menonjol yang memikat pelanggan sebab salah satu yang menjadi kendala di India adalah harga sewa yang tinggi untuk tempat-tempat tertentu di lingkungan real estate disewakan dengan harga tinggi sehingga membuatnya sulit untuk menghasilkan keuntungan, demikian seperti dilansir oleh Bloomberg.

Untuk mengulangi kejayaan Starbucks, maka berbisnis chai haruslah dirumuskan dengan menentukan value proposition yang berbeda.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Business Lounge