Michael Judah, pendiri Business Lounge Journal – Vibiz Media Network, hadir sebagai pembicara tamu pada Invest Asean 2015 yang diselenggarakan pada 6 Oktober 2015 oleh PT Maybank Kim Eng Securities. Acara ini membahas bagaimana kaum millennial tampil sebagai entrepreneur pada masa sekarang ini. Business Lounge/Herwantoro.

Invest Asean 2015: Millennial Indonesia Membutuhkan Pengetahuan dan Pendidikan

(Business Lounge – Global News) Tidak dapat dipungkiri bahwa kelahiran entrepreneur di bumi Indonesia ini bukan lagi hal yang asing. Bahkan pada saat ini, kita dapat menemukan banyak entrepreneur muda yang telah memulai bisnis mereka sejak usia mereka yang masih terbilang muda dengan pengetahuan dan keahlian yang masih sangat minim.

Hal ini menjadi salah satu sorotan yang banyak diperbincangkan, itulah sebabnya topik ini pun diangkat dalam sebuah acara talkshow yang bertajuk Invest ASEAN 2015 yang diselenggarakan oleh PT Maybank Kim Eng Securities dengan menghadirkan 6 orang pembicara tamu, yaitu Michael Judah sebagai pendiri Business Lounge Journal, Ditha Mayasari dari Cekaja.com, Abraham Viktor pendiri Wedlite, Peter Goldsworthy pendiri Bizzy.co.id, Veronika Linardi pendiri Qerja.com, dan Muhammad Fajrin Rasyid pendiri Bukalapak.com.

Masa depan Generasi Millennial 

Beberapa hal yang dibahas dalam talkshow ini yaitu mengenai pendidikan, kesempatan kerja, dunia usaha, serta kegairahan generasi millennial yang ada di Indonesia untuk dapat merangkai masa depan mereka di Indonesia. Generasi millennial adalah mereka yang saat ini berada pada kisaran usia 20 tahun hingga 33 tahun. (Baca: Mengidentifikasi Tenaga Kerja dari Empat Generasi). Rata-rata mereka yang berusia pada rentang ini memang telah hampir menyelesaikan pendidikan S1 mereka atau malah sudah mulai memasuki dunia kerja.

Secara unik mereka yang menjadi bagian generasi ini juga memiliki persamaan karakter, yaitu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, berteknologi tinggi, sangat kreatif, dan sangat ambisius. Generasi ini pun memiliki ambisi untuk memasuki dunia usaha, terlihat dari pertambahan startup yang terus menerus meningkat.

Mengutip data yang disebutkan Bikram Singh yang bertindak sebagai host bahwa menurut sebuah survei yang pernah diadakan maka persentase entrepreneur di Indonesia berada di bawah 2 persen, sedangkan untuk menumbuhkan perekonomian suatu bangsa dibutuhkan paling tidak 2 persen dari populasi yang melakukan SME (Small/Medium Enterprises). Jika dibandingkan dengan Singapore dan Malaysia maka ke dua negara tersebut sudah mencapai 5-7 %. Namun sangat diyakini bahwa jumlah entrepreneur di Indonesia akan terus bertambah.

Michael Judah: Pentingnya Pendidikan dan Pengetahuan bagi kaum millennial Indonesia

Tampil sebagai nara sumber pertama yaitu Michael Judah, pendiri Business Lounge Journal (BLJ). Satu hal yang menjadi alasan bagi Michael mendirikan (BLJ) adalah keinginannya untuk mengedukasi young millennial yang mulai terjun ke dunia usaha dan managerial.

Young entrepreneur Indonesia sangat passionate. Mereka ingin menciptakan banyak hal, entah itu sepatu, kerajian kulit, dan lainnya. Mereka ingin mengikuti pendahulu mereka yang sudah sukses terlebih dahulu di Amerika, Eropa, juga Jepang sementara kondisinya berbeda. Indonesia baru saja terjun pada dunia entrepreneur, sedangkan negara lain misalnya Swedia telah ada dalam dunia entrepreneur sangat lama. Ketika millennial Indonesia mulai masuk dunia bisnis mereka lebih memilih untuk masuk ke dunia entrepreneur untuk melakukan apa yang mereka mau sesuai dengan passion mereka dan mereka merasa enggan untuk kerja di kantor,” demikian pemaparan Michael. “Namun kondisinya pengetahuan business mereka masih sangat minim. Mereka tidak tahu bagaimana membuat business planning. Mereka tidak tahu menganalisa business, sementara young entrepreneur Indonesia membutuhkan banyak pengetahuan,” demikian Michael melanjutkan penjelasannya mengapa ia membangun Business Lounge Journal.

Melalui Business Lounge Journal, maka diharapkan banyak millennial Indonesia yang ingin terjun ke dunia bisnis dapat memperoleh pembelajaran. Lagi bagi pria yang sedang menyelesaikan program master-nya ini, young entrepreneur Indonesia membutuhkan guidance selain juga passion. Namun tidak hanya mendapatka pembelajaran mengenai bisnis, young entrepreneur juga membutuhkan pembelajaran untuk dapat tampil percaya diri termasuk dalam berpakaian. Hal ini akan membantu membangkitkan kepercayaan diri mereka.

Michael Judah: Adanya unsur peraya sebagai budaya Indonesia yang tidak dapat disangkali

Dalam perbincangan ini hal yang menarik yang juga dibahas adalah bahwa budaya Indonesia membedakan bagaimana para young entrepreneur Indonesia memasuki dunia bisnis. Yaitu bagaimana mereka masih sangat bergantung pada pengaruh dan keputusan orang-orang terdekat mereka seperti keluarga, orang tua, suami/isteri, dan sebagainya. Bahwa mereka sangat percaya kepada orang-orang terdekat mereka dalam mengambil keputusan. Hal inilah yang membedakan millennial Indonesia dengan negara-negara lain.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : BLJ