Teknologi untuk Manahan Penyebaran Ebola

(Business Lounge – Global News) Ebola mungkin telah bertemu dengan tandingannya. yaitu beberapa chip berteknologi tinggi.

Sebuah metode baru yang dikembangkan oleh para peneliti dari California bisa mengubah cara mengidentifikasi Ebola, memudahkan petugas medis mendiagnosa penyakit secara langsung di lapangan daripada mengirim sampel ke laboratorium. Dengan cara baru tersebut, peneliti akan dapat mempercepat penahanan virus Ebola di Afrika Barat, yang telah menjadi salah satu dari epidemik penyakit terburuk pada dekade ini, karena kesulitan dalam mendiagnosis Ebola.

Sistem ini bergantung pada dua chip: sebuah chip “mikrofluida” yang digunakan untuk menyimpan dan menyiapkan sampel, dan chip “optofluidic”, yang dapat mendeteksi molekul individu yang mengandung virus. Tes awal menunjukkan bahwa metode baru ini terbukti seefektif tes laboratorium konvensional.

Kesulitan dalam penanganan Ebola selama ini

Sejak wabah Ebola di Guinea pada tahun 2013, penyakit ini telah menewaskan lebih dari 11.000 orang di seluruh Afrika Barat, dengan kasus yang baru-baru ini terjadi, masih terjadi di Guinea dan Sierra Leone. Penyakit ini sulit untuk dihentikan; gejala sering tidak muncul selama beberapa hari, dan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan tes diagnostic guna mengkonfirmasi virus.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa kapasitas diagnostik sangat lah penting, karena gejala awal penyakit virus Ebola terlihat mirip dengan banyak penyakit lainnya yang sering terlihat di daerah Afrika Barat, seperti malaria, demam tifoid, dan demam Lassa.

Kemajuan terbaru mempermudah penanganan Ebola

Diagnosis Ebola biasanya mengandalkan tes yang dikenal sebagai PCR (polymerase chain reaction), yang melibatkan proses pengiriman sampel virus ke laboratorium untuk meneliti dan mempelajari materi genetik. PCR adalah proses yang rumit karena metode ini bergantung pada pemeriksaan molekul DNA. Sayangnya, virus Ebola tidak terdiri dari DNA, tetapi RNA. Meskipun RNA mirip dengan DNA, RNA memiliki struktur yang berbeda dan mempunyai fungsi lain dalam tubuh. Salinan DNA dari RNA harus dilakukan sebelum pengujian dapat dimulai.

Holger Schmidt, seorang profesor optoelektronik di University of California, Santa Cruz, dan juga yang merupakan penulis laporan senior penelitian ini, menjelaskan bahwa bila dibandingkan dengan sistem yang timnya temukan. Pendeteksian PCR jauh lebih kompleks dan membutuhkan laboratorium, sementara metode yang baru ini bisa dengan langsung mendeteksi asam nukleat dan mencapai hasik deteksi yang sebanding dengan PCR.

Metode sederhana yang bisa memiliki banyak fungsi

Metode yang dijelaskan oleh para peneliti dari Santa Cruz dan UC Berkeley relatif sederhana, membuatnya menjadi teknologi yang dapat digunakan oleh peneliti mana pun dan khususnya di daerah dengan sumber daya terbats. Sistem ini melibatkan pemeriksaan molekul tunggal satu per satu, karena mereka melewati saluran cairan kecil pada sebuah chip.

Tes awal telah dilakukan pada sampel virus, tetapi langkah berikutnya melibatkan tes dengan sampel darah mentah, yang harus berlangsung di fasilitas dengan tingkat keamanan hayati yang lebih tinggi.

Schmidt mengatakan timnya juga sedang bekerja pada cara untuk menggunakan sistem yang sama untuk mendeteksi penyakit lainnya.