Membuat Google Car Menjadi Lebih Manusiawi, Mungkinkah?

(Business Lounge – Automotive) Entah apa yang sedang Google pikirkan. Awalnya Google memiliki ide yang cemerlang dan inovatif untuk menciptakan self-driving car, namun kali ini Google kembali membuat sesuatu yang membuat orang berpikir. Google berencana untuk mengajari self-driving car mereka cara untuk mengemudi seperti manusia.

Menciptakan mobil yang dapat berkendara sendiri adalah sesuatu hal, tetapi mengajari mobil tersebut untuk berkendara seperti seorang pengendara mobil yang tidak mahir, stress, emosi, dan sering marah-marah di jalanan adalah hal yang sepenuhnya berbeda.

Namun, itulah kenyataannya. Google mendapatkan ide ini dalam mengembangkan mobil self-driving-nya. The Wall Street Journal menggambarkan bahwa para teknisi telah mengambil langkah pertama untuk menciptakan mobil self-driving yang berperilaku “seperti manusia”.

Alasan dari Menjadikan Self-driving Lebih Seperti Manusia

Chris Urmson, yang memimpin proyek self-driving Google, mengatakan bahwa alasan mengapa self-driving Google sering mengalami kecelakaan bukanlah karena mobil mereka, tetapi karena manusia. Ia menegaskan tidak pernah ada kesalahan yang dilakukan mobil Google. Hanya sifat dasar manusialah yang tidak dapat diprediksi. Mereka juga sering melanggar hukum lalu lintas.

Salah satu masalah yang dimiliki mobil Google adalah mobil mereka lebih neurotik dari manusia. Mereka akan berhenti pada kemungkinan paling kecil akan terjadinya masalah. Atau setidaknya apa yang komputer anggap sebagai berpotensi sebagai masalah.

Pada intinya, mobil self-driving Google berkendara seperti orang yang baru pertama kali berkunjung ke negeri yang jauh, sangat gugup. Banyak kecelakaan yang melibatkan mobil self-driving – tidak ada yang serius – tapi selalu saja mobil Google-lah yang berada di belakang posisi kecelakaan.

Bila Mobil Google Benar-benar Bisa Berkendara Seperti Manusia

Ada begitu banyak permutasi dalam perilaku manusia, bahkan jika komputer dapat mendaftarkan mereka semua, ada sedikit harapan bahwa komputer akan tetap bereaksi secara real time terhadap apa yang sebenarnya terjadi, bukan apa yang dikhawatirkan akan terjadi.

Salah satu contoh perilaku humanistik adalah bahwa orang-orang tidak berganti arah dalam posisi yang sempurna. Pengemudi sering mengambil jalan pintas kapan pun mereka bisa. Google harus bisa mengajarkan mobil mereka untuk melakukan hal yang sama.

Tidak hanya dalam perjalanan, penerapan karakteristik manusia juga harus diterapkan ketika ingin parkir. Google telah mengajari mobilnya untuk menyeberangi garis kuning untuk menghindari mobil yang mengambil dua ruang parkir dan memblokir jalannya.

Masih Belum Sepenuhnya “Manusiawi”

Masih banyak yang harus dilakukan untuk “menyempurnakan” mobil Google agar dapat berkendara seperti manusia yang tidak sempurna. Misalnya apakah ketika mobil Google menepi di jalan dan membiarkan bila ada orang asing yang usil masuk ke dalamnya, atau apakah mobil Google akan masuk ke jalur tengah dan melewati batas kecepatan ketika berhadapan dengan pengendara yang lambat di jalan tol nantinya. Pert nyaan seperti yang kedua ini belum dapat dijawab oleh pihak Google.

Oleh karena itu, Google masih harus mengembangkan agar mesin mereka bisa lebih seperti manusia. Para peneliti menemukan hal yang menarik dengan menyadari bagaimana manusia menyelesaikan masalah dengan naluri, serta cara mengimprovisasi tindakan. Mungkin saja, mobil self-driving Google akan dapat memiliki performa yang lebih baik di dunia nyata dengan bertindak tidak rasional seperti manusia, dibandingkan seperti komputer yang kalkulatif.

Alvin Wiryo Limanjaya/VMN/BL/Contributor
Editor: Ruth Berliana
Image: