Memahami Rasa Lapar

(Business Lounge – Healthy Wealthy) Ketika siang tiba, melewati food court sebuah mall dengan wangi aneka makanan yang tercium, biasanya Anda akan semakin merasa lapar, perutpun ‘bernyanyi’ minta diisi. Rasa lapar sebenarnya merupakan tanda bahwa tubuh memerlukan makanan. Tapi rasa lapar yang tidak pada jamnya berbahaya dan dapat membawa kita pada kebiasaan mengemil. Pastilah akan sangat berpengaruh pada kenaikan berat badan. Bagi sebagian orang menahan lapar sudah biasa, namun sebaliknya sulit ditahan bagi sebagian orang. Sebagian orang lagi terbiasa dengan pola makan yang teratur tanpa mengemil.

Banyak orang menduga bahwa potensi gemuknya tubuh terkait genetik alias bakat gemuk atau tidak. Sebagian orang sangat mudah naik berat badan. Sebagian orang lagi makan banyak tapi tidak kunjung gemuk. Sebenarnya apakah yang terjadi?

Ada dua jenis rasa lapar: lapar fisiologis dan lapar psikologis atau yang seringkali disebut orang lapar mata. Manusia berbeda dari hewan, jika kita makan maka tidak hanya untuk memuaskan rasa lapar tubuh, tetapi juga memberi makan pikiran kita atau rasa lapar di pikiran kita. Menempatkan makanan di mulut kita belum tentu tepat untuk memberi makan rasa lapar psikologis kita.

Masalah seperti gangguan makan dan obesitas dapat terjadi karena kita keliru untuk memuaskan rasa lapar psikologis kita dengan makan makanan. Kita perlu menyadari bahwa makanan belum tentu memberi makan pikiran kita. Akibatnya kita makan, tapi kita tidak merasakan kenyang. Sampai akhirnya kita menyadari bukan tubuh kita yang membutuhkan makanan tapi pikiran kita dan akhirnya tidak bisa puas dengan apa yang kita masukkan ke dalam mulut kita. Dengan demikian, rasa lapar adalah bagaimana tubuh dan pikiran kita bersama-sama diberi makan dengan baik.

Makan merupakan suatu kerja bagi otak yang sangat kompleks. Para ilmuwan telah menemukan bahwa bagian otak yang bernama Hipotalamus yaitu kelenjar kecil di atas batang otak (bagian dari otak yang menghubungkan ke bagian atas tulang belakang), berfungsi mengotrol nafsu makan.

Di daerah Hipotalamus ini, hormon dan bahan kimia lainnya mengontrol rasa lapar dan nafsu makan. Misalnya, Hipotalamus melepaskan neuropeptida Y (NPY), zat kimia yang terhubung pada sel-sel otak dan kemudian mengirimkan sinyal lapar sehingga Anda berkata: “Masih lapar nih…makanannya kurang banyak”. Saat Anda tidur, glikogen (cadangan gula dan persediaan gula darah Anda) habis, menyebabkan otak untuk melepaskan NPY. Jika Anda tidak sarapan pagi maka kadar NPY akan meningkat sehingga ketika sore tiba, Anda menjadi sangat lapar dan merencanakan untuk pesta karbohidrat dan makan banyak-banyak. Keinginan ini untuk karbohidrat adalah pekerjaan dorongan biologis bawaan tubuh Anda.

Perasaan memuaskan setelah makan disebut kenyang, sinyal yang mengatakan kepada pikiran Anda, “sudah cukup..”, “aku tidak sanggup makan burger lebih banyak lagi”. Sel-sel tubuh lainnya seperti Leptin juga memainkan peran dalam membuat tubuh Anda berkata, “Aku kenyang.”

Leptin ditemukan pada penelitian tahun 1995 oleh para peneliti di Universitas Rockefeller. Mereka menemukan gen dalam sel-sel lemak yang memproduksi hormon yang disebut leptin (Bahasa Yunani artinya tipis), yang memberitahu tubuh Anda berapa banyak lemak yang telah disimpan, sehingga mengatur rasa lapar Anda dan membuat Anda memahami bahwa Anda perlu makanan untuk menjadi bahan bakar atau energi bagi tubuh Anda untuk melakukan semua aktivitas Anda.

Dengan memahami rasa lapar ini, jika Anda makan karena kebutuhan biologis Anda maka artinya makanan itu benar-benar sedang dibutuhkan tubuh. Tidak perlu merasa bersalah untuk makan, kecuali jika Anda tahu itu hanyalah lapar pikiran yang tidak perlu dilayani.

dr. Vera Herlina/VMN/BL/CEO of Management Soft Skill Academies Vibiz Consulting Group
Editor: Ruth Berliana
Image: pexel