Strategi Silicon Valley dengan Parental Leave

(Business Lounge – Empower People) Dalam sebuah konferensi tahunan yang di adakan oleh Salesforce di San Francisco, maka untuk pertama kalinya menampilkan leadership summit untuk para pemimpin wanita. Hadir sebagai salah satu tamu adalah CEO Youtube, Susan Wojcicki. Dalam perbincangan dengan Wojcicki, maka salah satu topik pembahasan yang menarik adalah apa yang hingga kini menjadi salah satu issue di industri teknologi, yaitu parental leave atau cuti bagi karyawan yang sudah menjadi orang tua. Seberapa pentingkah perusahaan memberikan parental leave kepada karyawannya? Atau, pentingkah karyawan mendapatkan parental leave dari perusahaan tempat ia bekerja?

Menanggapi topik parental leave ini, Wojcicki berandai-andai dengan mengatakan, “Bagaimana jika saya harus kembali bekerja pada hari ke-10?” Wojcicki yang memiliki lima anak kemudian menanggapi pertanyaan yang dilontarkannya sendiri, “Saya akan berhenti. Itulah yang akan saya lakukan.”

Upaya Silicon Valley Dapatkan Talent

Saat ini memang sedang terjadi sebuah era yang baru pada perusahaan-perusahaan di Silicon Valley, yaitu bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut mulai mencoba untuk menarik bakat terbaik dengan menawarkan sesuatu yang sangat berbeda, salah satunya adalah paid parental leave (cuti orang tua berbayar). Hal ini tiba-tiba menjadi sesuatu yang menarik terutama bagi mereka yang tinggal di Amerika Serikat. Menurut Departemen Tenaga Kerja Amerika, hanya 12 persen pekerja sektor swasta memiliki akses ke cuti orangtua di Amerika Serikat, dan perusahaan teknologi merupakan salah satunya.

Dalam beberapa minggu terakhir ini, Netflix, Microsoft, dan Adobe baru saja meng-upgrade kebijakan cuti bersalin bagi karyawan wanita yang melahirkan dan cuti paternitas bagia karyawan pria yang isterinya melahirkan. Sementara itu, Google yang merupakan induk perusahaan YouTube memberikan manfaat cuti melahirkan bagi karyawan wanitanya yang melahirkan selama 18 minggu dan memberikan cuti parternitas bagi karyawan pria yang baru saja memiliki anak selama 12 minggu. Hal ini merupakan hal yang baik bagi bisnis yang berlangsung, demikian menurut Wojcicki, dalam pertemuan tersebut.

Parental Leave di Indonesia

Cuti di Indonesia juga merupakan sebuah manfaat yang diberikan kepada para tenaga kerja oleh pemilik usaha. Namun memang pemerintah mengambil bagian dalam membuat kebijakan dalam peraturan ketenagakerjaan, yaitu karyawan wanita atau karyawati berhak memperoleh istirahat atau cuti hamil selama 1,5 bulan (dalam arti, satu bulan dan lima belas hari) sebelum saatnya melahirkan anak, dan cuti melahirkan selama 1,5 bulan (satu bulan dan 15 hari) sesudah melahirkan, menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Sehingga total menjadi 3 bulan kalender. Hal ini pun diterapkan di perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Sedangkan karyawan pria yang isterinya melahirkan maka berhak mendapatkan cuti selama 2 (dua) hari.

Berbagai Jenis Parental Leave

Hal ini pun menjadi manfaat yang dapat menjadi pertimbangan bagi para tenaga kerja untuk dapat memilih tempat bekerja. Namun tidak hanya kedua jenis cuti di atas bagi para pemberi kerja maka pemberian manfaat cuti menjadi sebuah nilai tambah yang patut diperhitungkan sebagai nilai tambah. Misalnya saja cuti berbayar dapat diberikan apabila anak pekerja disunat atau dibaptis, apabila anak pekerja melangsungkan pernikahan, atau bila mengalami kedukaan. Selain itu, beberapa pemberi kerja juga memberikan kebijakan untuk memberikan unpaid leave atau cuti tidak berbayar apabila tenaga kerja wanita merasa membutuhkan waktu untuk merawat anaknya yang masih balita atau yang sedang mengalami masalah kesehatan. Namun biasanya memiliki maksimal waktu cuti selama satu tahun. Hal ini diberikan untuk mempertahankan para talent yang membutuhkan waktu untuk mengurus anaknya, sehingga pada saat masalah tersebut selesai maka si pemberi kerja masih dapat memiliki tenaga kerja yang dianggapnya potensil tersebut.

Cuti sebagai Non Cash Benefit

Banyak orang merasa bahwa cuti bukanlah suatu yang perlu dipertimbangkan, melainkan total upah dalam bentuk tunai yang akan diterima pekerja. Hal ini jelas suatu hal yang keliru, sebab bagaimana pun pemberian cuti berbayar merupakan sebuah keuntungan yang dapat dipertimbangkan. Bagaimana bila untuk memperoleh cuti seperti keperluan di atas maka diberlakukan pemotongan gaji? Hal ini jelas merugikan tenaga kerja, sehingga pemberian cuti merupakan hal yang dilihat sebagai sebuah manfaat.

Cuti sebagai Jawaban Masalah “Gender”

Perlu disadari bahwa pada masa sekarang ini, talent tidak hanya didapati pada para pekerja pria,tetapi juga para pekerja wanita. Bagaimana untuk dapat membuat daya tarik bagi para talent wanita untuk bekerja pada perusahaannya? Pemberi kerja haruslah dapat mengakomodir kebutuhan para pekerja wanita. Salah satunya dengan memberikan beberapa jenis parental leave di atas.

Penting untuk mulai mempertimbangkan hal ini guna me-retain para talent wanita.

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/Managing Partner Human Capital Development