(Business Lounge – Global Insight) Pada Selasa (1/9) World Meteorological Organization (Organisasi Meteorologi Dunia) yang diwakili oleh ilmuwannya mengadakan konferensi pers yang membahas mengenai fenomena cuaca El Nino. Menurut lembaga meteorologi dunia tersebut, fenomena El Nino yang sedang terjadi saat ini dapat berkembang menjadi salah satu yang terkuat berdasarkan catatan yang ada.

El Nino merupakan saat peralihan angin di Samudra Pasifik di sepanjang khatulistiwa setiap beberapa tahun, dengan air di Samudera Pasifik menjadi jauh lebih hangat dari biasanya dan memicu perubahan pola cuaca global. Negara-negara berkembang yang bergantung pada pertanian dan perikanan, khususnya yang berbatasan dengan Samudera Pasifik, menjadi negara-negara yang paling terpengaruh.

Model iklim ini menunjukkan suhu air di Samudera Pasifik tropis cenderung melebihi 2 derajat Celsius di atas rata-rata, demikian dikatakan Rupa Kumar Kolli, seorang ahli dari PBB yang berbasis di Jenewa demikian seperti dilansir oleh BBC.

“Kekuatan puncak El Nino diperkirakan dapat terjadi pada Oktober 2015 hingga Januari 2016 dan berpotensi menjadi El Nino terkuat ke-4 sejak tahun 1950. Ketiga El Nino yang terkuat lainnya adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 1972-1973, tahun 82-83, dan tahun 97-98,” demikian dijelaskan Kolli.

El Nino yang terjadi pada tahun 1997-1998 menyebabkan kerusakan properti senilai lebih dari USD 33 miliar di seluruh dunia.

Biasanya, fenomena tersebut mengubah pola cuaca yang membentuk pola cuaca pada berbagai belahan dunia, membawa kekeringan parah di Asia sementara pada saat yang sama membawa banjir berat untuk beberapa bagian dari Amerika Utara.

Hal ini juga dapat membawa curah hujan yang lebih tinggi dan kadang-kadang banjir di negara-negara Afrika seperti Somalia, Ethiopia, Eritrea, Djibouti, dan Sudan, tetapi menyebabkan kondisi kering di Afrika bagian selatan.

Tetapi para ilmuwan iklim memiliki persiapan yang lebih baik dari sebelumnya dengan model prediksi dan data mengenai pola El Nino. Namun dampak dari ini El Nino di belahan bumi utara (Northern Hemisphere) termasuk sulit untuk diperkiraan karena ada juga efek pemanasan Arktik pada Atlantic jet stream, demikian dikatakan David Carlson yang saat ini menjabat sebagai World Climate Research Program dari WMO.

“Ini adalah planet yang baru. Akankah dua pola saling memperkuat atau meniadakan satu sama lain? Kita tidak memiliki preseden untuk situasi ini,” demikian dikatakan Carlson.

Dampak El Nino tahun ini di California adalah salah satu pertanyaan yang masih ada berkepanjangan. Fenomena ini biasanya akan membawa hujan musim dingin yang cukup berat untuk pantai California, tetapi para ilmuwan WMO mengatakan mereka tidak tahu mengapa California masih menderita kekeringan terus-menerus selama empat tahun dan mereka tidak bisa memastikan kapan hujan akan datang.

nancy/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image :

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.