Media Massa : Perjalanan Media Massa Di Indonesia

Cover_SpecialReport_RRI

(Business Lounge – Special Report) Genap 70 tahun sudah, sejak pertama kali diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Ir.Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang sangat penting untuk bangsa Indonesia karena saat itu merupakan awal perjuangan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan bebas dari penjajahan. Selain para pahlawan yang berjuang untuk mencapai kebebasan Negara kita ini, media juga mengambil bagian dalam mencapai Kemerdekaan Indonesia. Media massa atau pers merupakan suatu istilah yang digunakan pada tahun 1920-an terhadap media yang khusus dibuat untuk mencapai masyarakat luas. Pada dasarnya media massa merupakan suatu wadah untuk memberitakan informasi kepada masyarakat. Media memiliki peran yang penting untuk Indonesia dalam mencapai kemerdekaan karena dengan adanya media massa, rasa nasionalisme tumbuh dalam setiap individu masyrakat Indonesia dari sabang sampai merauke. Dengan adanya media massa yang memberitakan perjuangan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan itu juga, terlahirlah semangat masyarakat untuk terlepas dari penjajahan serta memperoleh kebebasan sebagai suatu negara yang mandiri. Media massa yang digunakan pada jaman penjajahan tidak banyak seperti jaman sekarang. Kebanyakan media yang digunakan untuk memberitakan perjuangan masyarakat untuk mencapai kemerdekaan adalah media cetak seperti koran atau surat kabar.

Koran 1

Sejarah Pers di Indonesia.

Koran 7

Dimulai pada tahun 1619, media massa di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Jan Pieterzoon Coen yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Jendral VOC. Media massa pada saat itu ditulis tangan yang dinamakan “Memories der Noevelles”. Memories der Noevelles merupakan media massa yang ditulis dalam bahasa Belanda yang bertujuan untuk kepentingan Belanda sendiri. Tetapi dengan adanya media tersebut, pada tahun 1688 masuklah mesin percetakan pertama di Indonesia dari Belanda. Pada masa penjajahan, media massa digolongkan sebagai Pers Kolonial dikarenakan media massa yang beredar merupakan informasi untuk menegakkan penjajahan Belanda dan untuk kepentingan Belanda sendiri serta menentang pergerakan rakyat Indonesia. Selain Pers Kolonial, pada jaman pemerintahan Belanda terdapat juga Pers China yang merupakan media masssa yang diterbitkan oleh masyarakat Cina di Indonesia. Media massa yang meliputi majalah dan Koran-koran ini ditulis dalam beberapa bahasa yaitu bahasa Cina, Indonesia atau Belanda.

Pers Cina merupakan golongan pers yang dianggap relatif netral sehingga media massa ini digunakan sebagai wadah tokoh pergerakan untuk menyebarkan ide-ide atau pemikiran tentang perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Golongan media massa pada jaman penjajahan yang terakhir adalah Pers Nasional. Pers Nasional merupakan pers yang dibentuk oleh masyarakat Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat pada masa penjajahan. Walaupun banyak mendapatkan tantangan dan tekanan dari para penjajah, masyarakat Indonesia tetap menggunakan media massa untuk memupuk nasionalisme dan semangat masyarakat luas untuk mencapai kemerdekaan. Beberapa media cetak yang ada di Indonesia pada masa itu adalah Bromartini yang dicetak dalam bahasa Jawa, Perca Barat yang beredar di Sumatera, Sinar Matahari di Manado, serta Pewarta Borneo di Kalimatan. Setelah berhasil mencapai kemerdekaan Indonesia, pers di Indonesia semakin berkembang dimulai dengan beredarnya media cetak seperti Soeara Merdeka, Berita Indonesia, Merdeka, Independent, Warta Indonesia, dan The Voice of Free Indonesia. Bukan hanya media cetak, perkembangan media massa di Indonesia juga terjadi dalam media suara atau  Radio. Radio Republik Indonesia (RRI) akhirnya resmi dibentuk pada bulan September 1945 atas inisiatif Maladi dan dr. Abdulrahman Saleh yang merupakan pemimpin umum RRI yang pertama.

Koran 5

Koran 8

Beberapa Tokoh dalam Perkembangan Media Massa di Indonesia

Raden Mas Tirto Adhi Soeryo memulai minatnya dalam menulis pada usia yang masih belia yaitu 14-15 tahun dalam bahasa Belanda atau Jawa. Beliau juga dikenal sebagai pengusaha Indonesia pertama yang bergerak dalam pernerbitan dengan membangun Soenda Berita, yang merupakan pers nasional pertama di Indonesia.

Raden Mas Tirto Adhi Soeryo memulai minatnya dalam menulis pada usia yang masih belia yaitu 14-15 tahun dalam bahasa Belanda atau Jawa. Ia juga dikenal sebagai pengusaha Indonesia pertama yang bergerak dalam pernerbitan dengan membangun Soenda Berita, yang merupakan pers nasional pertama di Indonesia.

Wage Rudolf Supratman adalah seorang pahlawan nasional yang juga dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”.  Bukan hanya itu, pria yang juga ikut terlibat dalam Kongres Sumpah Pemuda II ini pernah mejadi seorang wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Beliau juga pengarang lagu “Ibu Kita Kartini”.

Wage Rudolf Supratman adalah seorang pahlawan nasional yang juga dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”. Bukan hanya itu, pria yang juga ikut terlibat dalam Kongres Sumpah Pemuda II ini pernah mejadi seorang wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Beliau juga pengarang lagu “Ibu Kita Kartini”.

Sutomo atau Bung Tomo yang dikenal sebagai pembangkit semangat rakyat Surabaya ini dikenal dengan Sutomo atau Bung Tomo. Beliau pernah bekerja sebagai jurnalis dan kemudian bergabung dengan beberapa kelompok politik. Bung Tomo dikenal dengan seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran

Sutomo atau Bung Tomo yang dikenal sebagai pembangkit semangat rakyat Surabaya ini pernah bekerja sebagai jurnalis dan kemudian bergabung dengan beberapa kelompok politik. Bung Tomo dikenal dengan seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran.

Burhanuddin Mohammad Diah murid dari Douwes Dekker. Ia kemudian menjabat sebagai redaktur harian Sinar Deli. Kemudian bekerja di beberapa harian hingga pernah dijebloskan ke penjara karena keberaniannya berjurnalisme. Sempat menjadi penyiar di Radio Hosokyoku. Setelah kemerdekaan ia mendirikan Harian Merdeka.

Burhanuddin Mohammad Diah murid dari Douwes Dekker. Ia kemudian menjabat sebagai redaktur harian Sinar Deli, juga pernah bekerja pada pada beberapa harian hingga pernah dijebloskan ke penjara karena keberaniannya berjurnalisme. Sempat menjadi penyiar di Radio Hosokyoku. Setelah kemerdekaan ia mendirikan Harian Merdeka. BM Diah menjabat sebagai Menteri Penerangan yang ke-18 pada tahun 1966-1967.

Mereka yang Berjasa Dalam Penyebaran Berita Kemerdekaan Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 hanya berlangsung sekitar 1 jam di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Namun sayangnya, Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA mengaku bahwa semua yang hadir saat itu tidak ada yang mengingat untuk menghubungi Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Tetapi beruntung ada Frans Mendur dari IPPHOS dengan plat filmnya yang tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan sebagian foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.

Berita proklamasi ini pun diteruskan melalui telepon, telegrap, radio, dan pos ke semua kantor PTT secara beranting. Seorang pemuda bernama Syahruddin yang bekerja sebagai wartawan Kantor Berita Domei, menyerahkan teks proklamasi untuk disiarkan stasiun Radio Domei. Waidan Palenewan yang menjadi kepala bagian radio memerintahkan seorang Markonis bernama F Wuz untuk menyiarkan berita proklamasi tiga kali. Baru dua kali F Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara. Tapi mereka nekat terus menyiarkan berita proklamasi.

Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, memerintahkan berita tentang proklamasi tidak disebarluaskan. Akibat jasa mereka, berita ini bisa diteruskan hingga ke luar negeri. Wartawati SK Trimurti menjelaskan pada tanggal 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita Amerika di San Fransisco telah memberitakan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.

Jepang kemudian menyegel kantor berita tersebut tanggal 20 Agustus 2010. Tapi para pemuda tak kehilangan akal. Seorang pembaca berita stasiun radio Domei bernama Jusuf Ronodiputro membuat pemancar baru di markas aktivis Menteng 31. Jusuf dibantu para teknisi radio Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar.

Sedangkan di Bandung, informasi telah diteruskan ke kantor telegrap di Bukittinggi tanggal 16 Agustus menyatakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 akan terjadi peristiwa penting karena itu operator di Bukittinggi supaya siap pada pesawatnya. Benar juga, keesokan harinya kantor telegrap Bukittinggi menerima berita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan segera pula secara hari-hati meneruskannya ke kantor-kantor lain di Sumatera. Berita proklamasi kemerdekaan yang pertama-tama disiarkan ke luar negeri berasal dari Stasiun Radio Pemancar PTT di Dayeuhkolot pada tanggal 17 Agustus 1945 itu juga.

Perjuangan juga dilakukan para pemuda lewat surat kabar, poster dan pamflet. BM Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang berjuang lewat berita di surat kabar. Sementara rekan-rekan mereka menempelkan poster di mana-mana. Mulai dari gedung, rumah penduduk hingga kereta api. Mereka juga mencoreti kereta api dengan tulisan-tulisan yang menggambarkan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu para anggota PPKI yang berasal dari daerah ikut menyebarkan berita ini di daerah masing-masing. Mereka adalah Teuku Mohammad Hassan dari Aceh, Sam Ratulangi dari Sulawesi, Ktut Pudja dari Sunda Kecil (Bali) dan AA Hamidan dari Kalimantan. Tanpa jasa dan perjuangan gigih mereka, tak akan banyak orang tahu Indonesia telah merdeka.

Media Massa Sekarang

Media massa di Indonesia terus berkembang sampai saat ini. Dengan perkembangan teknologi dan era Globalisasi, masyarakat di Indonesia dengan mudah mendapatkan informasi tentang kejadian-kejadian yang terjadi di dalam Negeri. Informasi yang dulu hanya dapat diakses melalui majalah, Koran atau selebaran, kini berkembang dan  semua informasi dapat mudah disebarkan melalui Internet, Televisi, ataupun Radio. Walaupun pada masa orde baru, media tidak memiliki kebebasan yang luas dalam memberitakan sebuah informasi tetapi media tidak berhenti berjuang untuk memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia. Pada ulang tahun Indonesia yang ke-70 ini, dapat disimpulkan bahwa peran media di Indonesia dari jaman penjajahan sampai perayaan kemerdekaan kita sekarang adalah untuk mengingatkan kembali semangat Nasionalisme masyarakat di Indonesia. Sejak jaman penjajahan media massa digunakan untuk menjadi wadah pemersatu masyarakat Indonesia untuk meraih kebebasan menjadi negara yang mandiri dan hal itu harus dipertahankan  sampai masa yang akan datang.

Ammy Hetharia/VMN/BL/Contributor
Editor: Ruth Berliana

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.