Kilas Peristiwa Jelang Kemerdekaan RI: 14 Agustus 1945

(Business Lounge – Jelang Kemerdekaan RI ke-70) Telegram resmi kekalahan Jepangtelah diterima di Bandung pada 13 Agustus 1945 dan tentara sekutu pun telah memaksa Jepang untuk menyerah dengan menyebarkan pamflet yang berisi ancaman bahwa akan ada kota yang dijatuhi bom atom lagi kepada rakyat Jepang sehingga rakyat Jepang pun memaksa kaisar untuk menerima kekalahannya. (Baca:  Kilas Peristiwa Jelang Kemerdekaan RI: 13 Agustus 1945).

Golongan Muda Mendesak Golongan Tua

Setelah siaran radio BBC pada 14 Agustus 1945 mewartakan kekalahan Jepang oleh Sekutu, Sjahrir berambisi menyiarkan kemerdekaan Tanah Air secepatnya. Setelah tiga tokoh nasional, Soekarno, Bung Hatta, dan dr Radjiman Wedyodiningrat kembali dari Dalat, Vietnam, mereka langsung mendapatkan desakan untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu itu walaupun Jepang sudah dikabarkan menyerah, namun pasukan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang masih tetap berkuasa di Indonesia. Namun pihak Jepang telah menjanjikan akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu.

Golongan muda seperti Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh terus mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tetapi Soekarno dan Hatta tidak ingin tergesa-gesa sebab mereka berupaya meminimalkan adanya kemungkinan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Kedua tokoh kemerdekaan itu pun melakukan konsultasi pada PPKI tetapi tidak didukung oleh golongan muda mengingat PPKI adalah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta berupaya mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka) tetapi tidak bertemu dengan siapa pun di sana. Soekarno dan Hatta pun akhirnya mengadakan pertemuan dengan Laksamana Muda Maeda. Persiapan kemerdekaan pun dimulai.

Pernyataan Kekalahan Kaisar Hirohito

Pada 14 Agustus 1945, curiga bahwa Jepang sedang merancangkan serangan balasan kepada Amerika, maka armada Ketiga Amerika Serikat mulai menembakkan meriam-meriamnya ke pantai Jepang dan ini menjadi serangan udara terbesar sepanjang sejarah Perang Pasifik, Amerika Serikat yang mengerahkan lebih dari 400 pesawat pengebom B-29 untuk menyerang Jepang sepanjang hari 14 Agustus 1945. Kemudian pada malam hari ditambahkan lagi dengan 300 pesawat. Hingga total 1.014 pesawat dikerahkan dan semuanya kembali dengan selamat.Dalam misi pengeboman terpanjang dalam sejarah perang, pesawat B-29 dari Skuadrom Bombardemen 315 terbang 3.800 mil untuk menghancurkan pengilangan Nippon Oil Company di Tsuchizaki yang berada di ujung utara Honshu. Pengilangan minyak tersebut merupakan satu-satunya pengilangan minyak Jepang yang masih beroperasi di Jepang dan menghasilkan 67% dari kebutuhan minyak Jepang.

Kabinet Jepang segera melakukan rapat dan dengan suara bulat meratifikasi keinginan Kaisar. Mereka juga memutuskan untuk menghancurkan sebagian besar dokumen yang berkaitan dengan kejahatan perang dan tanggung jawab perang dari para pemimpin-pemimpin tertinggi Jepang. Segera seusai konferensi, Kementerian Luar Negeri mengirimkan perintah-perintah ke kedutaan di Swiss dan Swedia untuk menerima syarat-syarat kapitulasi yang ditentukan Sekutu. Pesan-pesan ini ditangkap dan diterima di Washington pada pukul 02.49 tanggal 14 Agustus 1945.

Naskah Perintah Kekaisaran selesai pada pukul 19.00, ditulis oleh ahli kaligrafi resmi istana, dan dibawa ke menteri kabinet untuk ditandatangani. Sekitar pukul 23.00, Kaisar Hirohito dengan bantuan seorang awak rekaman NHK membuat sebuah rekaman gramafon berisi pembacaan pidato naskah Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi. Rekaman tersebut diberikan kepada pengurus rumah tangga istana Yoshihiro Tokugawa yang menyembunyikannya dalam tempat penyimpanan di kantor sekretaris Permaisuri Kōjun. Malam itu terjadi sebuah percobaan kudeta untuk menggagalkan disiarkannya pernyataan Kaisar Hirohito sehingga istana sempat diduduki oleh kelompok yang dipimpin oleh Hatanaka, namun berhasil digagalkan.

Tanggal 14 dan 15 Agustus 1945 dirayakan sebagai Hari Kemenangan atas Jepang di negara-negara Sekutu.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Wikipedia