Seorang warga memotret bunga sakura yang bermekaran di Tokyo, Jepang, Senin (30/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Toru Hanai.

Ternyata Jepang Kekurangan Tenaga Terampil, Ini Strateginya

(Business Lounge – Global News) Ternyata bukan hanya universitas-universitas di Indonesia saja yang sedang fokus dengan penyelenggaraan berbagai research. (Baca:  Jelang Reformasi Teknologi). Namun Jepang yang sudah terkenal dengan kecanggihan teknologinya sekali pun terus mencanangkan research pada setiap universitas nasionalnya.

Abe Inginkan Universitas Fokus pada Penelitian

Perdana Menteri Shinzo Abe sedang berupaya untuk mengubah universitas yang didanai pemerintah Jepang menjadi universitas terdepan baik dalam penelitian ilmiah atau sekolah yang difokuskan pada pelatihan kejuruan. Abe pun meminta setiap universitas untuk mendefinisikan kembali misinya serta merestrukturisasi kurikulum mereka. Untuk itu pemerintah Jepang pun memperlengkapi universitas-universitas publik dengan program-program keterampilan dan mulai menggeser program-program seni liberal seperti seni, sastra, sejarah, dan ilmu sosial. Namun tidak semua tokoh pendidikan menyetujui hal ini. Salah satunya Bruce Stronach, dekan Temple University yang beranggapan bahwa warga yang produktif adalah mereka yang terlibat dalam masyarakat dan memahami isu-isu politik dan sosial yang sedang terjadi, demikian dilansir oleh wsj.

Subsidi Pemerintah akan Disesuaikan dengan Visi Perguruan Tinggi

Untuk itu ke-86 universitas publik berskala nasional, wajib membuat rencana restrukturisasi dan mereka pun diberitahukan bahwa subsidi pemerintah yang sangat mereka harapkan tersebut akan dialokasikan sesuai dengan visi mereka.

Upaya ini merupakan bagian dari usaha Abe untuk merevitalisasi Jepang, menyuntikkan hal-hal yang lebih dinamis dan inovatif ke dalam perekonomian melalui fokus yang lebih besar pada penelitian, dan meningkatkan daya saing lulusan dengan tepat disesuaikan pekerjaan. Banyak bisnis telah memotong program pelatihan mereka dan mencari perguruan tinggi untuk mengisi kesenjangan yang ada. Sebagaimana bisnis telah menjadi begitu global, perusahaan pun mencari tenaga kerja dengan keterampilan sosial dan organisasi yang lebih baik dan kemampuan untuk bekerja dalam tim. Walaupun banyak yang berpendapat bahwa tindakan hingga mengorbankan seni liberal adalah hal yang keliru.

Kekurangan Tenaga Terampil

Dengan upaya perbaikan ini, maka dapat dikatakan bagaimana Jepang menambah semakin banyaknya negara maju, termasuk Amerika Serikat, dengan kondisi kekurangan pekerja yang terampil. Hal ini mendorong terciptanya perdebatan tentang nilai disiplin akademis tradisional. Untuk Jepang, argumen ini juga didorong oleh kekhawatiran atas kualitas pengajaran, dengan ukuran besar kelas dan sedikitnya kelas diskusi, serta ketidaksesuaian antara harapan siswa dan orang-orang dari pihak pemberi kerja.

Secara mengejutkan sebuah survei yang diadakan kementerian tenaga kerja menghasilkan bahwa lebih dari 30% lulusan perguruan tinggi keluar dari pekerjaan pertama mereka dalam waktu tiga tahun, seperti dilansir oleh WSJ. Sedangkan pada tahun 2012, menurut sebuah survei yang diadakan oleh perusahaan pendidikan Benesse Corp bahwa dua pertiga dari mahasiswa Jepang menghabiskan hanya kurang dari dua jam setiap minggunya untuk belajar di luar kelas dan untuk tidur di dalam kelas adalah sesuatu yang umum.

Namun berbeda lagi dengan pendapat Minoru Amoh, mantan eksekutif DuPont yang menjabat sebagai ketua panel reformasi pendidikan pada Japan Association of Corporate Executives, kelompok yang telah mempelopori restrukturisasi kurikulum, bahwa para pemimpin bisnislah oknum yang harus disalahkan untuk kekurangan keterampilan dari para tenaga kerja oleh karena mereka harus menjelaskan dengan jelas keterampilan apa yang mereka cari pada siswa.

Menurunnya Jumlah Mahasiswa Membuat Perguruan Tinggi Bergantung pada Pendanaan Pemerintah

Pendanaan mungkin menjadi motivator yang kuat untuk universitas yang bergantung pada pemerintah pusat untuk mendapatkan 70% dari pendapatan mereka. Kompetisi untuk siswa diharapkan menjadi lebih intens sebagaimana populasi kaum muda mulai menyusut, sehingga mengurangi pendapatan dari iuran tahunan. Jumlah mereka yang berusia 18 tahun diperkirakan akan turun hingga setengahnya pada tahun 2050, demikian prediksi Departemen Keuangan seperti dilansir oleh WSJ.

Pejabat pemerintah telah mendesak perguruan tinggi negeri untuk mendiversifikasi sumber pendapatan mereka dengan meniru seperti California Institute of Technology, seperti yang dikatakan kementerian keuangan bahwa 56% dari pendapatan tahunan universitas pada tahun fiskal 2012-2013 berasal dari kontrak penelitian. Di Universitas Tokyo, universitas terkemuka Jepang, 45% dari pendapatan berasal dari pemerintah.

Salah satu tujuan Abe adalah untuk pada akhirnya 10 universitas di Jepang akan menduduki peringkat 100 besar universitas. Untuk saat ini hanya dua universitas yang memasuki peringkat 100 besar seperti dirilis oleh majalah Times Higher Education Inggris, yaityu Universitas Tokyo di No 23 dan Kyoto University di Nomor 59.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Antara