Interview Session with Riana Bismarak

 

Cover-RianaBismarak 1

(Business Lounge – Special Report)

BelowCepek.com hadir untuk mendadani para wanita Indonesia untuk dapat tampil percaya diri dan berkualitas tanpa harus menggunakan produk luar ataupun berbagai brand dengan harga yang selangit. Ini adalah visi yang dimiliki oleh Riana Bismarak ketika ia memutuskan untuk resign dari jabatannya sebagai Corporate Director sebuah perusahaan di Jakarta dan memilih untuk mendirikan BelowCepek.com yang diresmikan pada tanggal 24 November 2011. Toko online ini memiliki konsep menjual produk-produk buatan Indonesia yang berkualitas dengan harga di bawah seratus ribu rupiah. Businesslounge.co.id – Vibiz Media Network berkesempatan mewawancarai Riana Bismarak untuk mengetahui strategi branding yang diterapkannya ketika ia membangn BelowCepek.com.

BL: Business Lounge

RB: Riana Bismarak

BL: Bagaimana Anda membangun branding Below Cepek?

RB: Branding itu adalah salah satu yang paling saya suka sehubungan dengan expertise saya selama 16 tahun di sales marketing. BelowCepek.com ini saya betul-betul pikirkan sampai detil. Hal pertama, namanya Below Cepek. Saya tidak punya uang banyak untuk membuat promosi iklan billboard, membayar endorser dengan artist atau yang lainnya. Saya tidak punya uangnya. Jadi saya harus make sure nama online shop saya harus sangat catchy sehingga orang langsung mengerti, bahwa saya menyediakan barang di bawah seratus ribu. Hal kedua adalah warna. Sebenarnya saya suka sekali warna ungu. Semua teman saya tahu bahwa I’m a purple lady. Tapi tidak untuk Below Cepek sebab ungu itu mysterious, glamour, mahal, tidak pas dengan konsep Below Cepek. Warna yang saya pilih untuk Below Cepek adalah orange dan hijau. Lebih fresh, friendly, dan lebih enak buat dilihat. Hal ketiga adalah logo. Logo Below Cepek adalah mannequin, jadi jelas kalau orang yang datang ke Below Cepek memiliki ekspektasi menemukan produk wanita. Hal keempat adalah slogan. Saya punya slogan I’m a smart shoper. Saya tidak memilih slogan ‘online shop paling murah se-Indonesia’ atau ‘baju murah fashion wanita’. Kenapa? Saya yakin pelanggan Below Cepek bukan mencari barang murah, tetapi mereka adalah smart shopper. Mereka mempunyai uang and they know dengan uang ini value apa yang mereka dapat, yaitu kualitas yang bagus dan mengikuti tren. Itulah branding-nya.

belowcepek 1

BL: Bagaimana Anda meng-handle advertisement BelowCepek.com?

RB: Advertisement… kembali lagi saya tidak punya uang untuk beriklan. Jadi yang saya lakukan adalah waktu launching pertama, saya tidak buat party besar-besaran, melainkan saya membuat press conference yang proper. Artinya proper yaitu saya menyewa jasa PR Agency, membuat sebuah fashion show mini, membuat preview, dengan sekitar 30 media yang hari itu saya undang untuk datang. Kemudian saya siapakan cerita tentang apa sih di balik online shop ini. Siapa sih BelowCepek.com? Siapa pembelinya? Seperti apa? Sebab jika hanya launching online shop jualan baju, tidak akan menarik. Serunya adalah waktu terjadinya press conference tersebut, saya melakukan mini fashion show yang dilakukan oleh model-model yang sebenarnya orang-orang biasa, yaitu teman-teman saya semua. Mengingat saat itu saya tidak punya uang. Ternyata reaksi dari wartawan benar-benar sesuai dengan apa yang saya harapkan. Beberapa mengatakan, “Oh dia muat ya? Berarti saya muat” atau “Eh, dipakai dia lucu ya? Kayaknya saya bisa deh.” Sama persis dengan apa yang saya sudah persiapkan. Ke-30 wartawan itu sangat me-support saya hingga berita ini dipublikasikan di media cetak, media online, dan media tv. Sejak itu brand Below Cepek semakin naik.

BL: Apa yang Anda lakukan setelah itu?

BL: Jika saya hanya melakukan sekedar press conference dan kemudian saya berhenti, pastinya Below Cepek tidak akan berkembang sampai sekarang. Jadi yang saya lakukan adalah advertisment. Saya hanya melakukan lewat digital untuk saat itu karena memang tidak semahal kalau print dan dapat saya ukur. Berapa banyak yang klik dan dari mana yang klik. Saya juga memakai sosial media, untuk sebagai buzzer saya, artinya, kami punya banyak pelanggan yang sebenarnya mereka suka barang kami dan mereka dengan senang hati, me-tweet dan mem-posting-nya di facebook wall mereka tanpa saya bayar. Itu saya recognize. Banyak sekali pelanggan kami yang tadinya saya kenal di sosial media, akhirnya ketemuan dan jadi teman sekarang. Itu adalah salah satu yang saya lakukan untuk mempertahankan brand dari Below Cepek. Sampai sekarang itu tidak pernah putus.

Below cepek

BL: Apakah keunggulan BelowCepek.com?

RB: Salah satu yang bagi saya adalah strength dari Below Cepek adalah ceo sekaligus pemiliknya adalah perempuan. Saya jualan baju perempuan dan saya mengerti perempuan. Beberaopa online shop yang lain ceo-nya rata-rata laki-laki. Jadi saya anggap itu adalah salah satu keuntungan buat saya. 

BL: Bagaimana meyakinkan pelanggan untuk mengenakan pakaian seharga 99ribu?

RB: Bagi beberapa khalayak ramai saat ini berlangsung fenomena untuk pakai baju mahal dan itu gaya. Jadi untuk bisa memakai baju bermerek, beberapa orang sampai mengorbankan uangnya untuk membeli barang ‘KW’. Mereka ingin dilihat keren, tetapi buat saya tidak. Keren itu dengan apa yang kita pakai dengan confidence, buat saya sudah ok. Jadi yang saya lakukan adalah saya sendiri setiap hari memakai baju belowcepek.com. Tiap hari saya ‘mix and match’. Kalau pun ada beberapa barang yang bukan below cepek, misalnya beberapa merek yang mahal, buat saya tidak masalah. Kalau kamu confidence pakai head to toe bermerek dan semua mahal, itu sudah biasa. Tetapi kalau kamu masih confidence memakai baju apa saja, termausk pakai baju produk Indonesia dengan harga 99ribu, itu baru sesuatu yang luar biasa. Jadi itu yang saya ajarkan setiap hari.

BL: Apakah itu berarti Anda menerapkan walk the talk?

RB: Ya. Setiap hari saya akan posting gambar saya dengan baju yang saya pakai pada hari itu dengan hastag dandantiaphari, sebab tiap hari saya dandan. Lucunya adalah sehabis saya posting, maka biasanya baju yang sama yang masih ada di webstore akan langsung habis. Lucu ya? Jadi kadang-kadang saya akan lihat dulu di web, mana nih baju yang masih ada stoknya karena saya harus hati-hati kalau saya posting bajunya sudah tidak ada saya akan dimarahi orang, “mbak, bajunya sudah tidak ada di website”. Jadi saya harus make sure baju yang saya pakai dan saya posting hari itu masih ada di webstore.

Mengenal Lebih Dekat Riana Bismarak

BL: “Buku apa yang sedang dibaca?”
RB: “Saya lagi baca bukunya Rachel Zoe. Saya suka dia sebab business plan-nya hampir mirip dengan saya. Dengan hanya karyawan sedikit dia bisa bikin berbagai macam division, bisa dibilang dia sekarang terkenal di seluruh dunia.”

BL: “Jam berapa sudah ada di meja kerja setiap hari?”
RB: “Kantor saya buka jam 10, jadi biasanya saya sampai kantor jam 10 kalau kecepatan jam 10 kurang.”

BL: “Aktifitas apa untukmengisi waktu luang?”
RB: “Karena sudah jadi entrepreneur, sekarang saya bisa bikin sesuai apa yang saya suka. Jadi sekarang saya masih sempat nyanyi, saya kebetulan sekolah jazz untuk vokal. Saya nge-gym 4 kali seminggu. Saya bekerja di fashion sedangkan saya suka makan, jadi saya nge-gym. Saya tidak terlalu banyak aktifitas kecuali memang kalau sedang ada event.”

BL: “Pada waktu apa biasanya dapat ide?”
RB: “Tiap hari. Saya orangnya tidak bisa diam. Saya bisa dibilang terpapar oleh majalah, sosial media, internet, tv, dan radio. Mungkin kalau saya mau buat bank ide mungkin idenya sudah kepenuhan kali ya.”

BL: “Sebutkan 3 barang yang tidak boleh lupa dibawa ke mana saja?”
RB: “Handphone, dompet, dan tas.”

Riana Bismarak 1

BL: “Fashion style khusus yang disukai?”
RB: “Saya sukanya casually fabulous. Saya tidak bisa terlalu rapi, jadi saya selalu casual tapi harus ada faboulus-nya.

BL: “Pulang ke rumah jam berapa dan apa yang dilakukan sampai di rumah?”
RB: “Kalau tidak ada apa-apa saya biasanya pulang dari kantor jam 7. Tetapi kalau ada janji dengan teman untuk dinner atau saya ambil yoga pada malam hari, saya biasanya sampai rumah jam 10. Kalau sampai rumah yang saya lakukan adalah cuci muka lalu nonton tv. Tidak pernah lihat lagi yang namanya laptop sampai besok pagi jam 10.”

BL: “Tim seperti apa yang diandalkan untuk men-support bisnis ini?”
RB: “Saya tipe orang yang lari, jadi saya harapkan saya punya tim yang bisa lari bareng sama saya. Memang awal-awalnya saya harus ‘tarik supaya akhirnya mereka bisa have a same face with me. Tapi akhirnya setelah sudah lebih dari setahun, kerja dengan saya, akhirnya mereka secara tidak sadar lama-lama mereka bisa berlari dengan saya.

BL: “Kalau tentang leadership stylenya mbak?”
RB: “Kalau saya model leadership-nya if I can do it, you can do it. Saya gampang banget karena saya awalnya dari sales biasa, saya sudah pernah knocking the door, datangi 14 perusahaan dalam satu hari. So, if I can do it then you can do it. Tipe leadership saya semuanya adalah lead by example.”

BL: “Jadi di mana mbak paling bisa belajar leadership/bisnis/entrepreneur? Sekarang, atau waktu kemarin bekerja, atau waktu di kuliah?”
RB: “Saya beruntung karena saya sudah bekerja di usia yang lumayan sangat muda, 20 tahun sudah bekerja di perusahaan besar. Saat itu saya punya director of sales orang Jepang yang sangat detil,. Jika saya membuat kesalahan, dia tidak akan kasih tahu yang mana yang salah, dia hanya katakan, “Ri, I know you can do better.” Maka saya tahu bahwa pekerjaan saya pasti ada yang salah, jadi saya teliti kembali. Ini membentuk saya menjadi orang yang sangat disiplin. Saya belajar time management, belajar detil hingga saya pindah ke hotel lain, dengan posisi yang lebih tinggi. Saya mempelajari leadership dengan mengamati manaer atau GM saya. Apa yang baik untuk diterapkan dan apa yang jangan dilakukan. Jadi all of my past 16 years of working for some one else, itu membuat saya adalah sekolah yang paling mahal yang pernah saya dapatkan. Karena saya diajari dan saya digembleng dengan sekian banyak boss selama 16 tahun terakhir.

Ruth Berliana/VMN/BL/Editor
Editor: Ruth Berliana

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.