(Business Lounge – AACC2015) Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KTT Asia Afrika) 1955 memang membanggakan bagi Bangsa Indonesia. Negara-negara yang baru saja merdeka, belum merdeka penuh, bahkan belum merdeka berkumpul bersama-sama membicarakan perdamaian dunia dan mengecam penjajahan. Hal ini sebenarnya mengejutkan bagi dunia barat yang sebelumnya bertindak sebagai penjajah. Sebuah surat kabar harian bernama The Launcenston Examiner of Tasmania (30/12/1954) menuliskan bahwa konferensi ini sangat rasialis dan diskriminatif sebab hanya mengikutsertakan bangsa-bangsa dengan kulit berwarna (Asia – Afrika). Namun banyak juga yang kagum melihat bagaimana bangsa-bangsa bekas jajahan yang dianggap rendah berhasil membuat sebuah pertemuan internasional.

Salah satu fakta yang terjadi di dunia pada waktu itu juga adalah bagaimana dua blok (AS dan Uni Soviet) sedang berlomba untuk memperluas pengaruhnya sehingga timbul kekuatiran bahwa konferensi ini dapat memihak salah satu blok. Tak heran KTT Asia Afrika kemudian menghasilkan Gerakan Non Blok.

KAA 2Presiden Soekarno Tiba di Jalan Asia Afrika, Bandung. Lokasi : Jl. Asia Afrika, Sumber : Museum Konperensi Asia Afrika.

Ada 5 negara penggagas KTT Asia Afrika 1955, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Myanmar (dulu Burma), dan Sri Lanka. Sempat terjadi pertanyaan di antara ke-5 negara tersebut apakah akan mengundang China. Roeslan Abdul Gani menuliskan pada buku, Bandung Connection bahwa ikut sertanya China pada waktu itu, mendapatkan tentangan dari Pakistan dan Sri Lanka. Alasannya adalah kekuatiran kehadiran China akan mempengaruhi keikutsertaan beberapa negara Arab, serta Thailand, dan Filipina yang sebenarnya telah bergabung dengan blok barat. Tetapi kekuatiran ini dibantah oleh PM India Nehru dan PM Burma U Nu yang berpandangan bahwa pada dasarnya Partai Komunis di Asia lebih dekat dengan budaya Asia dibandingkan Partai Komunis di Barat. Selain itu PM Burma pun sempat mengancam untuk menarik diri dari KAA apabila China yang dikatakannya merupakan kunci perdamaian di Asia oleh karena kekuatannya dan geopolitik. Sehingga diputuskanlah untuk mengundang China.

KAA 7Salah seorang pandu (sekarang pramuka) meminta tanda tangan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Lokasi: Ruang tunggu Lapangan Udara Husein Sastranegara, April 1955.

Untuk meyakinkan dunia Barat bahwa KTT ini tidak berkaitan dengan komunis, salah satu ide yang diberikan oleh Roeslan Abdulgani yang saat itu menjabat sebagai sekretaris jenderal di Kementerian Luar Negeri sekaligus koordinator pelaksana teknis KAA adalah dengan memasukkan puisi tentang Paul Revere yang dikagumi oleh masyarakat Amerika dalam pidato pembukaan Presiden Soekarno. Tokoh Paul Revere sangat dikenal karena upayanya yang heroik dengan menunggang kuda selama kurang lebih 14 jam sejak pukul 10 malam dari Boston hingga Lexington demi memberitahukan pasukan milisi di AS untuk bersiap menghadapi pasukan kolonial Inggris. Tanpa disengaja pula, hari dibukanya KTT Asia Afrika 18 April 1955 jatuh tepat 180 tahun peringatan hari Paul Revere memberikan pengumuman.

KAA 6Bandung Walk (kiri ke kanan)Emir Faisal Ibn Abdul Aziz Al Saud, Gamal Abdul Nasser, Emir Seif El Islam Al Hassan and Mahmoud Muntasser (Delegasi dari Saudi Arabia, Mesir, Yaman, dan Libya) berjalan menuju Gedung Merdeka.

Sedangkan Rusia, oleh karena sikapnya yang memusuhi negara-negara yang menolak bekerja sama dengannya, maka negara penggagas KAA pun memutuskan untuk tidak mengundang Rusia. Pada waktu itu, blok kapitalis dan komunis juga mengadakan konferensi dunia tetapi tidak dengan tanpa pamrih melainkan dengan imbalan perlindungan militer serta bantuan ekonomi. Hal ini jelas tidak ditemui pada KTT Asia Afrika 1955, melainkan hanya sebuah harapan untuk kehidupan bangsa yang lebih baik.

Akhirnya China pun menghadiri KTT ini dengan diwakili oleh PM Chou En Lai yang menyatakan dukungannya atas dasar dan tujuan KAA dengan tidak mengusung agenda lain.

KTT Asia Afrika 1955 kemudian menghasilkan Dasa Sila Bandung yang lebih menekankan lingkungan politik luar negeri regional yang damai bagi seluruh negara terlepas dari ideologinya. Terlepas dari peran serta India, Pakistan, Burma, dan Sri Lanka, namun kemampuan Indonesia untuk berdiplomasi meyakinkan mereka mengenai pentingnya KTT ini untuk segera dilaksanakan, patut untuk diakui.

Hadir 29 bangsa Asia-Afrika dengan berbagai perbedaannya namun memiliki itikad yang sama untuk kemerdekaan dan perdamaian dunia.

uthe/VMN/BL/Journalist

Image: Museum KAA

Leave a Reply

Your email address will not be published.