Archie – Classical Awakening

Banner-Archie_1200x520px(Business Lounge – Entrepreneurial News) Bicara soal niche market, memang sepertinya hal ini paling tidak ada matinya di antara para wirausahawan muda. Produk-produk yang ditawarkan sekarang pun semakin beragam dan unik yang mungkin tiga tahun lalu masih terbilang sulit didapat di pasaran. Tidak hanya menciptakan produk, sekarang jika Anda memiliki visi dan misi yang kuat, Anda pun dapat membawa produk buatan luar untuk dipasarkan di Indonesia. Inilah juga yang menjadi fenomena generasi Y, setiap individunya seperti tertantang untuk mengubah hobinya menjadi sumber penghasilan.

Momen inilah yang menginspirasikan seorang Michael Wong untuk mengubah kecintaannya terhadap fashion menjadi sumber penghasilannya. Mengemban pendidikan tinggi di negeri Kangguru (Sydney, Australia) telah memberikannya kecintaan terhadap fashion/classic menswear.

Archie2

“Di Indonesia, image tentang suit atau jas itu adalah untuk mereka yang berumur 30-40 tahun ke atas. Mereka yang sudah bekerjalah yang otomatis harus pakai formal suit,” ucap Michael.

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang orang Indonesia tidak terbiasa dengan budaya memakai jas atau suit dalam keseharian, namun menurut Michael persepsi itu muncul karena beberapa pandangan dan anggapan yang sudah cukup mendarah daging bagi orang Indonesia.

“Ada yang menganggap pakai jas itu panas, ribet, terlalu formal dan ya itu tadi…tua,” ujarnya sembari tertawa.

Rak 1

Namun Michael justru berencana untuk mengubah persepsi ini sebab menurutnya orang cenderung memilih suit atau jas yang salah.

“Kadang kalau kita memilih jas ukurannya suka tidak pas, bahannya tidak cocok dengan iklim Indonesia, dan cutting-nya atau pemilihan warna atau motif yang salah cenderung membuat kita terlihat tua, tidak muda, dan maskulin,” Michael berpendapat. “Namun dengan pemilihan yang benar, sebenarnya dalam berbagai occasion kita bisa pakai suit atau jas. Bisa disesuaikan dengan acaranya, mau ke kantor atau santai,”  demikian dijelaskannya.

Dari pemikiran tersebut, Michael pun menginginkan untuk memperkenalkan pemahamannya ini hingga lahirlah The Archie Store yang mengambil lokasi strategis di jantung Jakarta Selatan, sebuah wilayah di Jakarta yang terkenal sebagai tempat lahirnya tren-tren baru yang dibawa oleh para pengusaha muda, tepatnya di gedung Gunawarman 30.

Archie3

Archie4

Soal design, Michael tidak tanggung-tanggung. Ia menyewa interior designer ternama untuk menangani tokonya. Alhasil, design interior Archie Store pun jika dilihat tidak kalah dengan design toko sekaliber Cesare Attolini, salah satu bespoke tailor yang namanya tersohor di dunia. Tidak hanya itu, logo dan detail juga tidak luput dari perhatian Michael. Lihat saja design dari amplop untuk invoice-nya yang tidak kekurangan.Amplop

“Kami bawa koleksi pakaian, sepatu dan aksesorisnya dari berbagai negara contoh: Jepang, Italy, Inggris, Spain, Jerman, dll. Merek-mereknya mungkin masih kedengaran asing di Indonesia, tetapi mereka adalah spesialis atau bisa disebut artisan yang fokus pada design, fungsi dan kualitas,” ujar Michael.

Tapi, apa strategi dari Archie Store untuk menembus pasar Indonesia yang masih “awam” soal suit atau jas ?

“Pertama pastinya kami akan perkenalkan terlebih dahulu tentang produk-produk kami. Selanjutnya memberikan konsultasi mengenai styling dan kebutuhan masing-masing individu. Selanjutnya dari segi marketing, kami melakukan promosi lewat social media dan kedepannya kami akan lakukan berbagai community program yang bisa kami share bersama, contoh: basic shoes polishing. Visi kami adalah ingin membangun komunitas with like minded people dan juga membagikan pengetahuan dan pengalaman kami untuk yang masih awam. Setelah mengetahui produk kami, pasti itu kembali lagi kepada kebutuhan dan personality individu masing-masing.”

Menurutnya lagi, jas ataupun blazer sebenarnya bukanlah hal yang terlampau asing untuk masyarakat Indonesia.

“Sebenarnya kita sering lihat anak muda pakai kaos dan jeans dipadu dengan blazer.  Gak Cuma di acara pernikahan saja kita lihat orang Indonesia pakai setelan formal/suit. Kadang untuk hangout di cafe, atau jalan-jalan. Jadi sebenarnya basic dari budaya dan lifestyle-nya sendiri sudah ada,” demikian Michael meyakinkan.

Archie7 Archie5 Archie6

Business Analysis: Mengenalkan niche product pada masyarakat berkembang memang membutuhkan extra effort. Ketika barang-barang yang dianggap “mewah” ataupun “baru” masuk ke Indonesia, sosialisasi produk menjadi langkah awal yang sangat krusial dan sangat perlu diperhatikan. Saya ingat satu artikel dari WSJ sekitar dua tahun lalu tentang cara memasarkan niche product.  Hal mendasar yang perlu diingat tentang niche product adalah Anda harus “menemukan keunikan atau sweet spot, sehingga produk Anda akan dihargai lebih tinggi daripada biaya produksi/distribusi.” Inilah yang disebut sebagai Resonance Marketing.

Resonance Marketing berarti Anda menciptakan “musik” atau “resonansi” yang ingin didengar oleh customer Anda, yang berarti Anda tidak mempromosikan hal-hal marketing standard seperti sekedar price dan service saja. Customer Anda akan membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu. Mereka membutuhkan perceived value bahwa produk anda bernilai lebih daripada harga di price tag. Tak terkecuali, terkadang Anda harus menjadi teman bagi customer Anda. Anda harus mempromosikan “siapa Anda, dan image dan reputasi apa yang Anda projeksikan dan promosikan”. Pastikan, selain customer Anda juga memiliki value yang sama dengan Anda, alat-alat promosi Anda juga harus sesuai dan konsisten dengan selera aesthetic dari customer Anda. Entah itu dalam design website, social media, atau seperti yang telah disebutkan di atas, layout design toko, logo, cara mempromosikan, dan detail.

Michael Judah/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana

Leave a Reply

Your email address will not be published.