(Business Lounge – Lead & Follow) Era saat ini disebut turbulent era, ketika seluruhnya serba cepat. Mungkin sudah kurang tepat memakai pepatah “alon-alon asal kelakon”  atau biar lambat asal selamat. Kondisi ini adalah dampak dari era informasi yang sangat terbuka, yang membuat pasar menjadi berubah sangat sensitif terhadap perubahan, baik harga, kualitas maupun pelayanan yang diberikan. Pengalaman saya dalam bisnis media misalnya, maka pelayanan yang saya berikan kepada para pembaca, dalam satu hari – malahan dalam satu jam berita yang diliput, segera akan timbul di media lain dengan kualitas yang lebih baik. Kalau saya pergi ke restoran sering kali pelayanan yang lama membuat pelanggan segera berpindah ke tempat lain. Pasar menjadi sangat sensitif, demanding, juga dihadapkan pada pilihan yang sangat banyak.

Pelayanan pelanggan dituntut untuk memberikan kualitas yang semakin tinggi, dibandingkan produk lain. Cerita tentang maskapai penerbangan seperti Lion Air yang beberapa waktu lalu mengalami masalah tertundanya penerbangan, merupakan contoh yang paling mudah dilihat. Saat penundaan terjadi maka berduyun-duyun penumpang berpindah ke maskapai lain, sekalipun harga yang ditawarkan jauh lebih mahal.

Menghadapi tuntutan pasar yang bergerak seperti ini diperlukan sebuah organisasi yang agile. Agile organization adalah tipe organisasi yang cekatan, cepat bergerak dan ini terjadi di semua tingkatan, mulai dari tingkatan paling atas hingga tingkatan paling bawah. Saya teringat banyak mentor saya untuk mempersiapkan saya sebagai pemimpin selalu mengatakan, “Jangan lelet!” Situasi organisasi yang bergerak serba cepat ini sekerang menjadi tuntutan dalam bisnis. Bahkan tidak kurang, Presiden Jokowi juga menamakan kabinetnya Kabinet Kerja, karena alasan ingin dengan cepat melayani masyarakat.

Bagaimanakah sebenarnya membangun sebuah organisasi yang agile? Tentulah yang harus dibenahi pertama adalah para pemimpin dalam organisasi ini. Pemimpin harus bergerak lebih cepat, memutuskan lebih cepat, bereaksi dengan cepat dan tidak menunda apa yang harus diselesaikan setiap hari. Pemimpin-pemimpin puncak dalam organisasi harus menjadi contoh untuk melakukannya, baru selanjutnya organisasi akan bergerak semakin cepat. Penataan kedua yang harus dibenahi adalah struktur organisasi dibuat seramping mungkin untuk sampai kepada pelanggan. Panjangnya hirarki dari pelanggan sampai kepada pengambil keputusan sering membuat pelayanan menjadi nampak lama.  Pengambil keputusan tidak selalu pemimpin puncak, untuk masalah-masalah yang dapat diselesaikan di tingkat tertentu dapat diselesaikan dengan segera tanpa harus sampai kepemimpin puncak. Kondisi ini berarti bahwa diperlukan juga menata pendelegasian wewenang untuk terbentuknya agile organization. Proses yang panjang seringkali juga menghambat cepatnya sebuah pelayanan, melalui tatanan proses maka agile organization dapat juga terjadi.

Masih banyak hal lagi yang bisa disiapkan untuk menjadi agile organization, dari semua paramater yang ada, people merupakan faktor paling utama untuk keberhasilannya, perubahan nilai-nilai pada seluruh organisasi menjadi cekatan terletak pada perubahan manusianya.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BD/Regional Head-Vibiz Research Center

Related Posts

No Responses

  1. Anggi Dila

    Pepatahnya udah berubah jadi “biar cepat asal selamat”.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.