Menumbuhkan Budaya Perusahaan yang Berbasis Ilmu Pengetahuan

(Business Lounge – Empower People) Bagaimana cara orang Jepang bekerja? Samakah dengan dengan orang Eropa bekerja? Lalu bagaimana dengan cara kerja para akuntan publik? Samakah dengan mereka para programmer? Atau coba bedakan antara entrepreneur dan seorang karyawan. Semua pasti memiliki karkateristik yang berbeda-beda dan karkateristik inilah yang biasa kita sebut dengan sebuah budaya.

Budaya yang tumbuh pada sebuah kantor pemerintah tentu akan berbeda dengan budaya yang tumbuh pada sebuah perusahaan retail dan juga akan berbeda dengan budaya yang berkembang pada sebuah perusahaan alat berat dan begitu seterusnya. Budaya yang tumbuh pada sebuah perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh budaya sesuai dengan letak geografis dari perusahaan tersebut, budaya dari sumber daya manusianya, budaya dari pemimpinnya, dan beberapa faktor lainnya. Namun tidak hanya hal-hal tersebut. Budaya perusahaan juga dapat ditumbuhkan sesuai dengan visi dan misi yang dicanangkan dan dapat dipelajari.

Memiliki budaya perusahaan yang berbasis kepada ilmu pengetahuan menjadi salah satu yang saat ini terus dikembangkan sehingga muncullah berbagai riset dan studi mengenai pengetahuan. Sebab tidak ada kata selesai untuk terus belajar, dan organisasi dalam hal ini perusahaan adalah sebuah tempat yang penting untuk dapat terus belajar. Belajar untuk menjadi pemimpin, belajar untuk berorganisasi, belajar untuk bekerjasama, belajar untuk berinteraksi, dan sebagainya. Karena itu sangat penting untuk menumbuhkan budaya perusahaan yang berbasis kepada ilmu pengetahuan.

Budaya ini tidak hanya ditumbuhkan pada managerial level tetapi sejak staff, semua sudah harus memiliki keinginan untuk terus belajar. Saya pernah menghadapi klien yang entah bagaimana setelah para karyawan mencapai usia tertentu maka dengan otomatis keinginan untuk belajar itu memudar. Sehingga ketika mereka dikirim untuk ikut training maka sedapat mungkin mereka mengelak atau andaikata pun harus ikut maka mereka mengikutinya dengan setengah hati. Akibatnya mereka yang berjiwa dinamis dan ingin selalu berkembang dengan otomatis mencari pekerjaan yang lebih menantang di tempat lain. Maka siapakah yang salah dalam hal ini? Tidak ada yang perlu disalahkan tetapi management sangat penting untuk memberikan stimulus untuk tidak ada kata berhenti untuk belajar bagi setiap karyawannya.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menciptakan budaya perusahaan yang berbasis pengetahuan. Jangan pernah berhenti untuk memberikan ilmu pengetahuan. Perusahaan perlu untuk memfasilitasi hal ini. Mengapa orang Indonesia terbiasa makan nasi sedangkan orang Amerika terbiasa makan burger? Ini berbicara masalah kebiasaan. Dari sejak berusia 6 bulan, ketika lepas dari ASI maka anak Indonesia akan mulai diperkenalkan dengan bubur saring, kemudian bubur kasar, nasi lembek hingga akhirnya terbentuk pola makan nasi. Maka demikian juga dalam membentuk budaya perusahaan yang berbasis ilmu pengetahuan.

Hal ini bukan hanya berbicara mengenai jadwal training yang wajib diikuti selama satu tahun, tetapi kebiasaan yang harus diciptakan sehari-hari. Akan sangat sulit untuk menumbuhkan sebuah kebiasaan jika tidak menanamkannya tiap-tiap hari. Oleh karena itu sangat penting untuk melibatkan kepala divisi, team leader, dan para supervisor. Buatlah mekanismenya, misalnya dengan mengadakan morning meeting setiap hari dan menunjuk tim yang akan memberikan presentasi untuk topik-topik yang telah disepakati sebelumnya. Adapun topik-topik yang ditentukan tidak terbatas pada masalah pekerjaan tetapi juga dapat mengenai pengetahuan atau topik-topik management yang sedang berkembang.

Hal selanjutnya, Anda dapat memberikan stimulus bagi para pekerja dengan mengadakan kompetisi untuk riset, survey, atau penelitian kecil yang berkaitan dengan perusahaan yang berguna untuk pembuatan kebijakan atau sebagai proyek CSR dari perusahaan. 

Namun kembali lagi, mulailah dari setiap individu sehingga terbentuk sebuah budaya belajar yang kemudian menjadi budaya perusahaan.

ruth_revisiRuth Berliana/Managing Partner Human Capital Development/VMN/BL