Tjendol Doeloe: Palm Sugar Goodness

Tjendol-Banner_Wide

(Business Lounge – Entrepreneurial News)

[dropcap size=small]S[/dropcap]iapa tidak kenal dengan dessert khas Indonesia yang terbuat dari tepung beras yang dibentuk menjadi pilinan-pilinan kecil berwarna hijau? Kemudian dihidangkan dengan campuran kuah santan kelapa nan gurih serta didominasi oleh rasa khas dari palm sugar, atau gula merah. Es cendol!

Tepat! Penganan ini sangat popular dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, tidak perduli usia, strata ataupun income. Mudah didapat, mulai dari pedagang kaki lima yang dijajakan dengan gerobak, hingga hidangan saat berbuka di hotel-hotel mewah. Namun tidak dapat dipungkiri image sebagai ‘makanan rakyat’ melekat kuat pada penganan ini. Sssst…ini juga merupakan salah satu hidangan pencuci mulut yang digemari businesslounge.co, Vibiz Media Network loh.

Cendol 3

Tjendol Doeloe

[dropcap size=small]F[/dropcap]elicia dan Patricia adalah dua saudari yang berasal dari Pondok Indah yang memiliki ide untuk menjual jajanan ini namun dengan konsep yang berbeda.

“Ya, cendol kan biasanya dijual di pinggir jalan ya, tapi kali ini kita menawarkan cendol home industry. Yang pastinya punya kualitas yang lebih terjaga, ditambah…bisa delivery !” ungkap Patricia. Unik memang, kakak-beradik kembar ini, walaupun berkuliah di tempat yang berbeda, memiliki hobi yang sama, memasak.

“Ya, dulu kita sempet hobi masak, lalu sejak SMA, kita suka jualin juga di sekolah dulu ke temen-temen, spaghetti tuna cabe ijo, nasi jamblang, macam-macam,” ujar Felicia. Duo kembar ini juga memberikan nama perusahaan yang unik pada jajanan rakyat hasil karya mereka, “Tjendol Doeloe”.

Berawal dari pengamatan mereka saat menghadiri sebuah pesta makan-makan yang salah satu sajiannya adalah es cendol yang kemudian menjadi pilihan dari kebanyakan tamu yang hadir pada pesta tersebut. Serta merta timbullah ide duo kembar ini untuk mencoba berbisnis cendol dengan cara yang berbeda.

Sukses membuat cendol yang berbeda, dagangan mereka pun sangat diminati oleh para ibu rumah tangga demikian analisa Felicia. Mengapa ?

“Kalau seorang ibu  membeli es cendol pasti dia akan berpikir juga untuk membelikan anaknya, suaminya, sepupunya atau siapapun bahkan kalau ada acara seperti arisan. Jadi kita kasih targetnya ke ibu-ibu. Karena, kalau kita targetin untuk anak-anak muda kita mikirnya pasti mereka belinya hanya untuk konsumsi pribadi,” ungkap Felicia.

Tjendol Doeloe juga menawarkan layanan unik berupa jasa delivery bagi para konsumen yang tiba-tiba ingin merasakan paduan santan gurih dan manisnya gula merah, entah itu di rumah ataupun di kantor. Tertarik ?

Cendol 2

Business Analysis : Dalam mengubah image suatu produk, sangat dibutuhkan extra effort. Dalam kasus ini, mengubah image jajanan pinggir jalan menjadi suatu yang lebih “tinggi” derajatnya, bukanlah suatu hal yang mustahil mengingat di Indonesia sendiri banyak restoran yang menjajakan penganan pinggir jalan dengan harga yang premium. Namun tentu saja dengan sebuah konsep points of differentiation. Usaha seperti ini akan berhasil jika kita mampu membaca market dan mahir dalam melakukan promosi. Karena sejatinya, ini adalah usaha yang “Red Ocean” (Baca: Special Report : Red Ocean, Blue Ocean part 1 dan part 2). Satu-satunya cara untuk memenangkannya adalah dengan terus berinovasi dan membuat perbedaan dari para kompetitor lainnya, ditambah dengan kemampuan untuk lay of the land, yaitu mengerti kondisi dan demand pasar.

Michael Judah/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana