(Business Lounge – Business Insight)-Pernah dengar tentang Uber Technologies Inc? Atau mungkin masih terdengar asing? Perusahaan ini merupakan perusahaan rintisan teknologi yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat. Dengan penuh semangat saat ini perusahaan tengah melakukan ekspansi di beberapa kawasan dunia khususnya ke negara-negara di Asia Tenggara.

Melihat kilas balik sejarah perusahaan ini maka Uber berdiri pada tahun 2009. Setidaknya hingga saat ini layanan Uber sudah tersedia di lebih dari 200 kota sedunia. Melihat urutan waktu maka Uber beroperasi di Ho Chi Minh sejak bulan Juni. Selanjutnya pada bulan Oktober, layanan mobile itu membuka jasa mereka di Hanoi. Sementara untuk di Bangkok, Uber mulai diluncurkan pada bulan Februari. Selanjutnya Uber merambah ke Pulau Phuket di Thailand dan Singapura pada bulan Oktober.

Secara signifikan valuasi perusahaan mengalami kenaikan sampai puluhan miliar dolar AS. Namun, baru-baru ini penyedia layanan mobile untuk berbagi kendaraan ini menghadapi tantangan baru di Asia Tenggara. Sejumlah negara di kawasan ini mempertanyakan dan melakukan pengawasan  terhadap Uber. Banyak negara yang mempertanyakan legalitas layanan Uber.

Beberapa masalah di lapangan yang sudah terjadi adalah di Thailand, Vietnam, serta Singapura terkait legalitas operasi Uber.

Pada Senin pekan lalu, menteri transportasi Thailand Prajin Juntong menyatakan pemerintah akan meminta Uber menghentikan layanan di negaranya. Salah satu alasannya, jasa perjalanan Uber menggunakan mobil pribadi yang tak menggunakan sistem tarif per meter.

Sedangkan di Vietnam, media lokal melaporkan kalau pemerintah mulai mendenda pengemudi mobil Uber pekan silam. Media mengutip petinggi yang mengatakan bahwa jasa perjalanan Uber termasuk ilegal. Sebab, Uber tak diizinkan beroperasi sebagai layanan taksi.

Beda lagi dengan apa yng terjadi di Vietnam. Berdasarkan informasi yang diposkan pada situs pemerintah Menteri transportasi Vietnam Dinh La Thang  menyatakan bahwa negaranya  akan mempelajari kemungkinan melegalisasi layanan Uber.

Lalu apa pendapat dari internal Uber? Juru bicara Uber menegaskan perusahaannya tetap beroperasi secara normal di Thailand dan Vietnam.

Seperti dikutip oleh The Wall Street Journal, dalam tulisan blog tentang situasi terbaru di Vietnam, Uber berkilah telah turut meningkatkan kompetisi dalam industri taksi. Uber merupakan “perusahaan teknologi” yang tak “memiliki, mengoperasikan kendaraan, atau mempekerjakan pengemudi.” Perusahaan menghubungkan pengguna ke mitra Uber yang memiliki sopir, tulis perusahaan dalam blog mereka.

Sementara Bryan Tan dari firma hukum Pinsent Masons berpendapat bahwa ketidakpastian hukum Uber di Asia Tenggara merupakan isu yang krusial. Perusahaan yang bergantung pada teknologi dan menantang industri yang telah mapan.“butuh kepastian hukum untuk bisa berkembang.” Perusahaan rintisan teknologi biasanya “bekerja di jalur yang kepastian hukumnya masih rancu. Mereka biasanya berupaya terlibat dengan pemangku kebijakan untuk memastikan posisi perusahaan,” jelasnya.

Terkait semua kisruh ini maka pada bulan Oktober pemerintah Singapura mengeluarkan aturan baru perihal jasa taksi. Pemerintah mulai tahun depan akan mewajibkan perusahaan pemesanan taksi pihak ketiga untuk hanya memakai sopir dan kendaraan berlisensi. Peraturan lainnya, perusahaan harus tetapkan tarif di awal dengan jelas. Menanggapi hal ini maka pihak internal Uber mengatakan telah mematuhi aturan Singapura.

 

Febe/Journalist/VMN/BL

Editor: Tania Tobing

Image: Uber

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.