(Business Lounge – Business Insight)

[dropcap size=small]B[/dropcap]aru-baru ini, tepatnya pada minggu ini, Price Waterhouse Cooper (PwC) Indonesia mengeluarkan siaran pers mengenai survei bisnis keluarga di Indonesia. Menarik temuan-temuan yang dirilis PwC Indonesia tersebut. Di antaranya disebutkan bahwa lebih dari 95 persen perusahaan di Indonesia merupakan bisnis keluarga. Definisi terhadap perusahaan bisnis keluarga menurut PwC adalah perusahaan yang mayoritas hak suaranya berada di tangan pendiri atau orang yang mengakuisisi perusahaan, misalnya pasangan, orang tua, anak, atau ahli waris. Selain itu, disebutkan setidaknya ada satu perwakilan keluarga yang terlibat di dalam manajemen atau administrasi perusahaan.

Survei ini dilakukan oleh PwC secara global melalui interview terhadap 2.378 koresponden pada lebih dari 40 negara di dunia. Hasilnya dirilis dalam laporan internasional dengan tajuk: “Up close and professional: the family factor – Global Family Business Survey”. Untuk responden di Indonesia, ada 30 pelaku bisnis keluarga yang telah diwawancara dalam rentang waktu penelitian bulan Mei-Agustus 2014. 

Temuan lainnya yang dapat dirangkum di antaranya sebagai berikut:

  • Lebih dari 40 ribu orang kaya di Indonesia (0,2 persen dari total populasi) menjalankan bisnis keluarga.
  • Total kekayaan mencapai Rp 134 triliun (sekitar 25 persen PDB Indonesia).
  •  27 persen dari perusahaan keluarga tersebut memiliki omzet antara US$ 5 juta-US$ 10 juta atau Rp 60 miliar-Rp 129 miliar per tahun. Sisanya mengaku memperoleh omzet yang jauh lebih besar dari itu.
  • Para responden telah melibatkan anak-anaknya dalam menjalankan bisnis keluarga, dengan 30 persen pelaku bisnis bahkan masih di bawah 20 tahun.
  • 87 persen keluarga merupakan pemilik sekaligus manajemen dari perusahaan dan hanya 13 persen yang berstatus sebagai pemilik tanpa masuk dalam manajemen.
  • Mayoritas perusahaan keluarga menempatkan anggota keluarganya sebagai Presiden Direktur (47 persen) atau Direktur Keuangan (23 persen), dan jabatan strategis lainnya.
  • Lebih dari 60 persen bisnis keluarga di Indonesia memiliki dua hingga tiga generasi penerus.
  • Lebih dari 50 persen pelaku bisnis keluarga berencana mewariskan kepemilikan usahanya kepada keturunannya namun tetap melibatkan profesional dalam menjalankan operasional perusahaan.

Survei ini telah menunjukkan bahwa memang mayoritas perusahaan di Indonesia dikuasai oleh perusahaan keluarga. Untuk masa yang akan datang nampaknya akan tetap didominasi dengan perusahaan keluarga. Sementara itu, terlihat bahwa bisnis keluarga telah dipersiapkan untuk bertumbuh dan berkembang secara turun temurun. Bahkan sekitar sepertiganya telah melibatkan anak-anaknya dalam menjalankan bisnis ini, sejak usianya masih belasan tahun.

Menarik untuk dikaji kira-kira peluang apa saja yang dapat diambil para pelaku bisnis di tanah air sehubungan dengan temuan mengenai bisnis keluarga di Indonesia dan juga di dunia sebagai referensinya.

Peluang Pasar Modal dan Perbankan

[dropcap size=small]T[/dropcap]emuan ini harusnya menarik bagi dunia pasar modal, karena terlihat masih sangat banyak potensi bisnis yang dapat ditarik untuk terjun ke pasar modal. Dapat kita bayangkan besarnya sekitar 40 ribu bisnis, padahal saat ini jumlah emiten kita belum mencapai angka 500 perusahaan.

Para stakeholders dari pasar modal kiranya dapat tertantang untuk menarik dan menggaet para pelaku bisnis keluarga untuk segera memasuki dunia pasar modal supaya potensi bisnis dapat dikembangkan secara lebih cepat dan luas. Omzet-nya pun cukup menarik. Lebih dari dua pertiganya di atas Rp 130 miliar setahun. Terobosan untuk dapat mengundang pelaku bisnis keluarga mulai dari kelompok UKM yang berkualitas kiranya perlu diedukasikan secara luas.

Kita belum tahu dari survei ini berapa persen persisnya yang sudah memperoleh kredit perbankan dan berapa yang belum. Tetapi ini menarik untuk dikaji lebih dalam dan menjadi tantangan bagi industri perbankan juga, bahwa masih ada ribuan bisnis keluarga Indonesia yang beromzet sudah segmen menengah ke atas tetapi belum ada banker-nya. Bisa jadi mereka tidak perlu bank karena modal sendirinya telah berkembang dengan sangat memadai. Tapi bisa juga karena mereka belum ter-info dengan benar tentang manfaat adanya kredit bank, sampai ada bank yang proaktif mengedukasikan mereka dengan benar dan menantang. Menantang, karena kredit ini dapat meningkatkan ROE (Return on Equity) bisnis mereka tanpa menambah modal.

Selain aspek kebutuhan pembiayaan atau kredit, segmen priority banking kelihatan akan semakin berkibar dan dibutuhkan. Tinggal sekarang bagaimana industri perbankan meningkatkan lagi kelasnya dalam melayani kepada bisnis private banking dan sudah mulai menyentuh jasa family office. Insan perbankan dan industri keuangan lainnya, seperti asuransi, dengan keahlian sebagai financial planner atau wealth manager perlu dikembangkan lagi kepada family office specialist.

Edukasi Manajerial

[dropcap size=small]D[/dropcap]isebutkan dalam survey bahwa 60 persen bisnis keluarga saat ini sudah berada pada generasi kedua dan ketiganya. Ini tahap yang kritis. Selama ini diketahui banyak perusahaan keluarga berhenti pada generasi yang kedua atau paling lama bertahan di tiga generasi saja. Generasi terakhir biasanya yang menghancurkan bisnis tersebut karena kurangnya mental kerja keras yang semula dimiliki orang tua atau kakek mereka sebagai pendiri bisnis. Tetapi kalau bisa menembus tiga generasi, peluang bisnis untuk terus survive and sustainable menjadi besar.

Muncul di sini peluang untuk pengembangan edukasi manajerial yang berkualitas untuk meningkatkan profesionalisme manajemen perusahaan keluarga. Edukasi bisa berbentuk formal dan informal atau practical. Peluang sejenis lainnya tentunya adalah konsultasi pendampingan manajemen. Ini untuk membawa transformasi perusahaan keluarga menjadi profesional dan karenanya akan lebih sustainable.

Media Bisnis

[dropcap size=small]K[/dropcap]elas masyarakat Indonesia saat ini sudah beranjak maju. Dengan kelompok menengah yang mewarnai lebih dari separuh populasi Indonesia atau sekitar 56 persen menurut the World Bank, maka kebutuhan bacaan media yang lebih berkualitas harusnya akan semakin meningkat. Dunia bisnis keluarga akan membutuhkan bacaan yang lebih professional dan memberikan inspirasi pengembangan bisnis yang lebih lagi bagi mereka. Ini peluang ke depannya bagi media bisnis, selain dari media berita yang memang sudah cukup banyak di negeri ini, baik cetak maupun elektronik.

Kita mungkin ke depannya akan melihat bertumbuhnya media dengan sasaran pasar dunia bisnis, dan bisa jadi akan muncul segmentasi lagi berdasarkan industrinya atau kelompok SES-nya. Online media dipastikan akan bertumbuh lagi karena sudah di situ era-nya. Tinggal bagaimana masing-masing media dapat meningkatkan kualitas dan keahliannya untuk menjawab tantangan dalam dinamika dunia bisnis yang semakin beragam dan kompleks.

Peran Media Bisnis yang global dan online ini akan memberi warna modernisasi dari bisnis keluarga, sehingga estafet dari generasi pertama hingga ketiga bukanlah statis tetapi dinamis mengikuti perkembangan tehnologi, trend selera pasar dan persaingan global, sehingga inovasi dan kreatifitas penyesuaian akan membuat bisnis keluarga menjadi sustainable.

Kita akan melihat nantinya kelompok-kelompok bisnis keluarga di Indonesia yang semakin besar dan kaya. Sebagian dari mereka sudah mulai menggurita ke luar negeri. Going global! Siapa yang mau kembangkan dan ambil peluang-peluangnya?

Alfred Pakasi/Deputy Chairman of Vibiz Consulting Group, CEO of Vibiz Consulting/VMN/BL

Related Posts