Mengidentifikasi Tenaga Kerja dari Empat Generasi (Part 3)

(Business Lounge – Empower People) Sekarang kita sudah mengetahui ke-4 jenis generasi dan bagaimana menghadapinya. (Baca: Mengidentifikasi Tenaga Kerja dari Empat Generasi (Part 1) dan (Part 2))

Sekarang sebagai seorang pemimpin, selain Anda perlu tahu bagaimana untuk menangani tim Anda yang berasal dari berbagai generasi, maka adalah penting untuk Anda juga mengetahui dengan tepat bahwa setiap generasi sebenarnya memiliki caranya sendiri untuk belajar, maju, dan berkolaborasi. Sementara itu bagi para HR profesional atau senior manajer maka merupakan tantangan tersendiri untuk Anda dapat memastikan pentingnya pengetahuan dan keterampilan untuk dapat ditransfer antara kelompok-kelompok yang berbeda tersebut, terutama oleh karena pekerja yang sudah akan segera memasuki usia pensiun akan segera meninggalkan perusahaan sehingga sangat penting untuk melakukan transfer knowledge.

Pentingnya Teknologi

Seperti tujuan teknologi untuk mempermudah berbagai fungsi yang dilaksanakan oleh manusia maka melakukan transfer knowledge juga akan menjadi lebih mudah sebab adanya suatu kesadaran akan teknologi. Dengan adanya internet, dengan adanya sistem komputerisasi yang semakin canggih. Tanpa memandang generasi maka mereka yang dapat beradaptasi dengan kemajuan dan perkembangan teknologi dapat dipastikan dapat survive. Seorang gen-x yang saya kenal sangat enggan mempelajari automasi perbankan yang saat ini sudah semakin hebat. Akibatnya ketika semua sudah menggunakan e-banking, dia masih mengantri di mesin ATM. Orang yang seperti ini sudah dapat dipastikan akan lambat berkembang.

Tetapi mereka generasi tradisional yang saya temui seperti Prof. Dr. Emil Salim atau Prof. Dr. Subroto, selalu tidak dapat lepas dari tablet mereka sehingga begitu update dengan segala sesuatu. Sudah dapat dipastikan bahwa orang seperti itu tidak akan pernah berhenti berkembang.

Apalagi perkembangan gadget yang begitu pesat dapat membuat banyak orang terhubung dengan cepat.

Selain itu, jika Anda seorang pengusaha, maka Anda tidak dapat lagi berpikir bahwa semua karyawan akan menjalani karir mereka melalui jalur karir rutin. Mereka dari generasi tradisionalis, misalnya, kemungkinan memasuki dunia kerja dengan gagasan bahwa mereka akan memiliki satu karir dan mungkin hanya memiliki satu majikan terus menerus. Sedangkan si Baby Boomers dan si gen-X siap untuk bekerja pada sejumlah pengusaha, tetapi kemungkinan besar di bidang yang sama.

Sedangkan si gen-Y akan lebih tertantang dengan pengalaman-pengalaman baru sehingga cenderung menjadi kutu loncat dalam karirnya. Mereka mungkin dapat memiliki beberapa karir dalam hidup mereka-bukan karena mereka tidak puas di tempat kerja, tetapi karena mereka merasa seperti ingin melakukan segala sesuatunya. Mereka dapat menjadi penulis lepas, koki dan kemudian seorang insinyur,.

Sementara hal-hal yang mungkin menghasilkan jalan yang menggairahkan bagi pekerja, itu membuat tenaga kerja perencanaan menemukan tantangannya.

Generasi Milenium

Setelah generasi-Y maka sekarang ini telah ada generasi millennium. Sedikit banyak tidak terlalu berbeda dengan si gen-Y. Tetapi generasi millennium memang masih harus belajar banyak untuk dapat mandiri. Sebab mereka masih ingin mengerjalan apa yang mereka mau saja. Mereka cenderung memakai pikiran mereka sendiri dan masih membutuhkan bantuan untuk memberikan mereka pengertian. Hal ini juga disebabkan usia mereka yang masih sangat muda dan belum berpengalaman.

ruth_revisiRuth Berliana/Managing Partner Human Capital Development/VMN/BL