Rusia Prediksi Alami Resesi pada 2015

(Business Lounge & News & Insight) Kementerian Ekonomi Rusia, pada Selasa (2/12) memangkas perkiraan ekonomi untuk tahun 2015, dan mengumumkan pertumbuhan ekonomi terkontraksi 0,8 persen disebabkan sanksi Barat atas krisis Ukraina serta dikombinasikan dengan penurunan harga minyak.

Kementerian itu memotong proyeksi pertumbuhan ekonomi sebelumnya dari 2 persen menjadi 1,2 persen untuk 2015. Alasannya mengacu pada memburuknya indikator ekonomi dan asumsi bahwa sanksi-sanksi Barat akan tetap diberlakukan hingga 2015. Selain itu anjloknya harga minyak dunia menjadi penyebab buruknya indikator ekonomi ditambah juga dengan pelemahan kurs rubel dan peningkatan inflasi. Akibatnya kemampuan belanja konsumen di Rusia menjadi lemah, demikian pemaparan kementerian itu dalam pernyataan resminya seperti dilansir oleh AFP.

Dalam pandangan terhadap resesi, Deputi Menteri Ekonomi Alexei vedev mengatakan ekonomi dapat benar-benar flat atau sedikit menyusut pada kuartal keempat 2014, yang dapat mendorong Rusia ke dalam resesi pada akhir kuartal pertama tahun depan. Definisi teknis resesi adalah dua kuartal berturut-turut kontraksi ekonomi.

Lagi menurut kementerian sebelumnya diasumsikan bahwa sanksi Barat akan selesai pada tahun 2015, yaitu ketika Rusia mengakhiri embargo makanannya. “Perkiraan saat ini untuk tahun 2015 adalah, sebaliknya, yaitu berdasarkan kelanjutan risiko geopolitik yang kuat,” demikian dikatakan kementerian itu.

“Ketidakpastian dan kurangnya kepercayaan ekonomi yang disebabkan faktor geopolitik telah menyebabkan prediksi tingginya angka dana asing yang keluar Rusia dan investasi yang lebih rendah,” kata kementerian itu juga dalam laporan lengkap yang sempat diposting sebentar pada situsnya namun kemudian diturunkan kembali. Mengalirnya dana asing ke luar diperkirakan akan mencapai US $ 125 miliar untuk tahun 2014, demikian dikatakan kementerian itu, naik dari perkiraan sebelumnya US $ 100 miliar.

Kenaikan Harga

Ekonomi Rusia telah terpukul oleh penurunan harga minyak yang anjlok ke posisi terendah lima tahun pada hari Senin (1/12) meskipun kini harga minyak sedang menguat. Pada hari Selasa (2/12) harga yang stabil dengan patokan West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Januari di US $ 67,91, sementara minyak mentah Brent untuk Januari berada di US $ 71,71.

Harga minyak yang lebih rendah telah membuat kondisi babak belur ekonomi Rusia sebagai dampak energi yangdimiliki Rusia dan memicu penurunan nilai rubel ke titik rerendahselama ini. Mata uang Rusia mengalami kemerosotan terburuk sejak tahun 1998 pada hari Senin (1/12).

Perkiraan pertumbuhan untuk tahun 2014 sedikit dinaikkan dari 0,5 persen menjadi 0,6 persen karena kinerja yang lebih baik dari sektor pertanian, demikian kembali dikatakan kementerian. Diperkirakan ekonomi Rusia akan mencapai titik terendah pada pertengahan 2015 dan mulai rebound pada kenaikan harga minyak. Rusia masih yakin bahwa harga minyak akankembali menguat.

Pertumbuhan Rusia telah melambat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pertumbuhannya anjlok menjadi 1,3 persen pada tahun 2013 dibandingkan dengan 3,4 persen tahun sebelumnya. Sementara inflasi telah dipercepat selama jatuhnya nilai rubel, dan diatur untuk berada di 9,0 persen pada akhir 2014, naik dari perkiraan sebelumnya 7,5 persen.

Pendapatan riil dari Rusia akan menyusut sebesar 2,8 persen tahun depan bukannya meningkat 0,4 persen seperti yang diperkirakan sebelumnya, karena inflasi dan melambatnya kegiatan ekonomi.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: wikipedia