Strategi Xiaomi Di Indonesia

(Business Lounge – Business Insight)-Indonesia memang belum dilanda demam Xiaomi tapi produk smartphone asal Tiongkok ini sudah cukup membuat heboh para pengguna gadget di Indonesia khususnya di kota-kota besar. Keputusan Xiaomi untuk mengembangkan sayap ke Asia Tenggara terutama Indonesia telah menjadi satu langkah jitu dan berbuah manis.

Secara kronologis, bulan September menjadi bulan perdana kehadiran Xiaomi di pasar Indonesia. Produk awal mereka adalah ponsel pintar dengan harga terjangkau. Bernamakan Redmi 1S dan dijual secara online lewat flash sale di situs e-commerce Lazada.

Penjualan ini terbukti sangat efektif dan hanya dalam waktu sekejap saja maka stok 5.000 ponsel habis terjual. Menyusul kesuksesan ini maka gelombang kedua penjualan pun dilakukan pada bulan yang sama melalui Lazada kembali. Kali ini produk yang ditawarkan adalah Redmi Note yang dibandrol harga sekitar Rp2 juta.

Strateginya dalam menjual produk hanya lewat Internet dan mengandalkan promosi mulut ke mulut sukses membawa Xiaomi berkembang pesat di Cina dan India. Xiaomi juga menggalang basis penggemar kuat dengan sering meminta masukan pengguna—pendekatan yang dipakainya di Indonesia.

Seperti dikutip oleh The Wall Street Journal maka Hugo Barra, wakil presiden global Xiaomi mengatakan, “Kami telah menjual 100.000 lebih ponsel Redmi 1S dan Redmi Note di Indonesia. “Di Indonesia, strategi lokalisasi produk kami adalah dengan memperbaiki bug. Kami juga menguji produk dengan penggemar sebelum menentukan ponsel baru untuk dijual,” kata Barra. Cara pengujian adalah dengan meminta beberapa penggemar Xiaomi di Indonesia untuk mencobanya dan menunjukkan plus-minus Note sebelum Redmi Note dirilis. Xiaomi “belum sampai pada tahap membangun fitur lokal,” lanjut Barra. Namun sekalipun demikian, saran dan keinginan penggemar telah membantu Xiaomi mengembangkan software dan fitur yang memenuhi kebutuhan pengguna di setiap negara.

Untuk harga sendiri, Redmi 1S merupakan smartphone termurah Xiaomi yang dijual seharga Rp1,5 juta, sementara Redmi Note adalah hibrida ponsel-tablet atau  phable (produk ini adalah buatan Xiaomi yang cukup populer).

Kesuksesan Xiaomi tak diragukan lagi, terbukti dalam satu tahun terakhir, perusahaan yang berbasis di Beijing ini juga telah berekspansi ke India. Mulai dari awal debut penjualan pada bulan Juli maka sudah ada lebih dari 500.000 produk ponsel Mi 3 yang terjual hanya dalam waktu kurang dari 40 menit.

Fakta ini tentu lebih menjanjikan jika dibandingkan dengan angka penjualan di Indonesia. Tapi perusahaan tetap sangat berbangga dengan pencapaian di Indonesia. Untuk pasar di nusantara, Xiaomi lebih memilih untuk mengenal keinginan pasar dan mencoba memenuhinya atau dengan kata lain perlahan namun pasti.

Kedepannya perusahaan akan pertimbangkan untuk berinvestasi di salah satu produsen konten Indonesia. Belum lama ini, secara eksplisit Xiaomi menyatakan akan membeli saham  Youku Tudou Inc, penyedia streaming video Tiongkok.

Terkait keuntungan perusahaan sekalipun perusahaan tidak mengumumkan labanya di Indonesia. Kabar yang berhembus,  Xiaomi berhasil meraih laba 2 kali lipat secara keseluruhan pada tahun 2013. Peminatnya dalam pasar smartphone global juga melonjak pada kuartal III 2014. Hal ini menjadikan Xiaomi sebagai produsen smartphone terbesar ketiga di dunia setelah Apple Inc dan Samsung Electronics Co.

Oya, ada juga toko aplikasi Xiaomi bernama Mi Market dan varian produk lainnya seperti Mi Box, perangkat konten HD yang menawarkan film dan acara televisi dan juga Mi TV, televisi 3D 47 inci. Tapi keduanya belum tersedia di Indonesia dan perusahaan masih akan menjajaki peluang yang ada dulu sebelum melempar produk-produk ini ke pasar.

Febe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana