Tiongkok dan Korea Selatan Adakan Kesepakatan FTA

(Business Lounge – Business Insight) Korea Selatan dan Tiongkok pada Senin (10/11) telah memiliki kesepakatan perdagangan bebas yang efektif dan aman dengan meniadakan tarif barang lebih dari 90%. Namun beberapa rincian masih dinegosiasikan.

Pernyataan ini diberitahukan setelah Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT APEC di Beijing.

Pernyataan yang berasal dari kantor Park mengatakan bahwa kedua negara telah “secara efektif mencapai” kesepakatan. Xi menggambarkan kesepakatan ini sebagai salah satu tonggak penting bagi hubungan kedua Negara tersebut demikian dilansir oleh AFP.

Selain itu sebuah pernyataan yang dilontarkan pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa masih terdapat beberapa perbedaan selama masih ada beberapa “detail” yang belum ditentukan. Sehingga hal ini harus dijembatani sebelum FTA (Free Trade Agreement) bisa ditandatangani. Kemudian dokumen akhir akan memerlukan persetujuan dari kedua legislatif nasional. Secara umum FTA dapat diartikan sebagai Perjanjian perdagangan bebas yang dilakukan oleh dua atau beberapa negara untuk menghapuskan tarif, kuota impor, dan preferensi pada sebagian besar (jika tidak semua) barang dan jasa yang diperdagangkan antara negara-negara anggota.

Wakil Menteri Perdagangan Korea Selatan Woo Tae-Hee mengatakan bahwa ada kemungkinan dilakukan sedikit perubahan pada klausa utama dalam perjanjian saat ini. “Konklusi secara substansial dari negosiasi dapat dipandang sebagai konklusi yang lengkap,” demikian dikatakan Woo seperti dikutip oleh kantor berita Yonhap.

Adapun pernyataan itu mengatakan bahwa FTA kedua Negara akan menghapus tarif lebih dari 92 persen dari barang-barang Tiongkok yang diimpor ke Korea Selatan dan menghapus 91 persen barang-barang Korea Selatan yang diimpor ke Tiongkok dalam waktu 20 tahun.

Tiongkok saat ini adalah mitra dagang dan pasar ekspor, serta perdagangan dua arah terbesar Korea Selatan yang memiliki transaksi dengan angka US $ 228,8 miliar (2,745 triliun rupiah) pada tahun lalu. Sedangkan ekspor ke Tiongkok yang adalah kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia mencapai US $ 145,8 miliar (sekitar 1,749 triliun rupiah) juga pada tahun lalu.

Kedua Negara bertetangga ini telah mulai bernegosiasi dalam perdagangan pada tahun 2012 namun tidak mengalami kemajuan oleh karena adanya perbedaan pada perluasan terbukanya pasar. Ada juga protes dari petani Korea yang merasa kuatir atas masuknya barang-barang impor yang murah dari Tiongkok.

Juga sesuai pernyataan Korea Selatan yang mengatakan bahwa dalam FTA akan ada pengecualian pada sejumlah produk pertanian seperti beras, daging sapi, dan merica. Ketiga produk ini menyumbang 30 persen dari nilai impor pertanian dari Tiongkok.

“FTA terbaru akan membantu kami mengamankan kesempatan untuk memasuki pasar Tiongkok secara luas,” demikian dikatakan pernyataan tersebut. Diperkirakan perdagangan bilateral kedua Negara ini akan memiliki pertumbuhan sebesar $ 300 miliar (sekitar 36 triliun rupiah) pada tahun 2015.

Kesepakatan yang telah diadakan ini juga menghilangkan banyaknya pembatasan regulasi di bidang jasa, investasi, keuangan dan budaya, sehingga lebih mudah bagi perusahaan untuk membentuk perusahaan patungan dan bekerja sama.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: Antara